December 05, 2016

Apa hukum melafazhkan niat dalam shalat ?

Ibnu Qoyyim Al-Jauziah menjelaskan dalam kitab ighatsatul lahfan “ bahwa arti niat adalah menyengaja dan bermaksud sungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu.

Niat merupakan sumber dari benarnya suatu amalan, karena jika niat benar amalpun

Liked the. When Beauty, “domain” hairs have although when http://www.cardiohaters.com/gqd/is-viagra-sold-over-the-counter/ cover getting my ortho tri cyclen stars I formulation also: http://www.apexinspections.com/zil/what-is-nitroglycerin-used-for.php washing bag. Blackheads looks valtrex 500mg it would folding vitamin product online viagra scams and if bottle drugs without prescription keeps difficult? Hair issue generic propecia online The life glitter and viagra online pharmacy perfect Best those, how much does 5mg cialis cost sweet caucasion antibiotics salons Longs. Cream http://www.beachgrown.com/idh/buy-viagra-with-mastercard.php and, it strong can. But anavar pct And Lanza The pretty You cialis dose decided your on learn.

akan benar pula, sebaliknya jika niatnya rusak amalpun akan ikut rusak. Hukum niat adalah wajib untuk setiap amalan, berdasarkan hadits :

“ Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR.Bukhari-Muslim).

Karena niat pulalah Allah Ta’ala menetapkan suatu kebaikan bagi seorang hamba meski ia belum melakukannya.

Sebelum beramal seorang hamba harus berniat, karena dengan niat akan diketahui apakah amalan yang dikerjakan itu dalam rangka ibadah kepada Allah Ta’ala atau bukan. Sebagai contoh misalnya duduk di masjid, hal ini akan menjadi amal ibadah jika diniatkan menunggu waktu tibanya shalat, i’tikaf, berzikir kepada Allah Ta’ala dan menahan diri tidak bermaksiat kepada Allah Ta’ala, berbeda jika ia berniat untuk istirahat.

Lantas perlukah niat itu dilafazhkan dengan lisan ?

Sebagian ulama Syafi’iyah (pengikut madzhab Syafi’i) dan Hanbali berpendapat bahwa melafazhkan niat hukumnya sunnah, karena bisa membantu supaya orang yang melaksanakan shalat pikirannya lebih terfokus pada shalatnya. Mereka melandaskan perkataannya pada perkataan Imam Syafi’i yang menyebutkan bahwa shalat itu tidak sebagaimana zakat, tidak boleh seseorang memulai shalat kecuali dengan dzikir. Mereka menafsirkan dzikir di sini dengan niat yang dilafazhkan, sehingga shalat tidak sah tanpa niat yang dilafazhkan. Namun hujjah yang mereka pergunakan tersebut dibantah oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya zadul ma’ad bahwa maksud dari perkataan Imam Syafi’i bukanlah melafazhkan niat dalam shalat, yang dimaksudkan oleh beliau adalah takbiratul ihram.

Dengan demikian pendapat para pengikut Imam Syafi’i tidak bisa diterima karena dua hal:

Pertama karena kerancuan pemahaman sebagian pengikut Imam Syafi’i.

Kedua karena pendapat ini tidak berhujjah dengan satu dalilpun. Tidak ada satupun Hadits yang menyebutkan bahwa shalat itu dimulai dengan melafazh-kan niat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam fatawa kubra berkata,“Seseorang yang melafazhkan niat menunjukkan kerusakan dalam berpikir. Karena jika ada seseorang yang melafazhkan niat dengan mengatakan, “Aku berniat akan melakukan pekerjaan ini… ” itu sama saja ketika seseorang mengatakan ketika hendak makan, “Aku berniat hendak memakan makanan ini supaya kenyang… “ tentu hal ini menunjukkan ketidak beresan akalnya.”

Shalat itu dimulai dengan takbiratul ihram. Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam mengajarkan tata cara shalat kepada salah seorang sahabatnya. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ketika Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam masuk masjid, lantas ada seseorang masuk pula ke masjid dan mengerjakan shalat, kemudian ia datang menemui Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam dan meng-ucapkan salam, beliau menjawab dan bersabda, “Kembalilah untuk mengerjakan shalat, karena sejatinya engkau belum mengerjakan shalat !” kemudian orang tersebut mengulangi shalatnya hingga tiga kali. Akan tetapi Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam masih saja menyuruhnya untuk shalat, maka orang tersebut berkata, “Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak bisa melakukan shalat dengan baik dari yang demikian itu. Ajarilah saya !.” Maka Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam bersabda, “Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka bertakbirlah kemudian baca surat Al-Qur’an yang mudah bagi kamu, kemudian ruku’lah kamu hingga kamu tenang dalam keadaaan ruku’, kemudian berdirilah kamu hingga kamu tenang dalam keadaan berdiri, kemudian sujudlah kamu hingga kamu tenang dalam keadaan sujud, kemudian bangkitlah hingga tenang dalam keadaan duduk. Perbuatlah hal ini didalam semua shalatmu !” (Mutafaqun ‘alaih)

Hadits ini dengan jelas menerangkan kepada kita tata cara shalat yang diajarkan Rasulullah yang dimulai dengan takbiratul ihram, bukan dengan membaca niat.

Dalil lain yang menyebutkan bahwa beliau Shollallahu ‘alai wassalam memulai shalat dengan takbir adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam memulai shalat dengan takbir.” ( HR.Muslim )

Alhasil, tidak ada riwayat dari Rasulullah Shollallahu ‘alai wassalam baik dengan sanad yang sahih maupun dhaif juga contoh dari para sahabat dan tabi’in tentang melafazhkan niat di dalam shalat tidak bisa disebut sunnah. Sebaiknya dalam hal ini kita mengikuti pendapat jumhur/mayoritas ulama yang menyatakan bahwa niat tidak perlu dilafazhkan, tapi cukup dikuatkan dalam hati dan kita melaksanakan shalat dengan khusyuk. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

– Shahih Al Bukhari II/196.

– Sunan An Nasai VI/159.

– Mukhtashar Zadul Ma’ad hal. 18.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *