December 05, 2016

Bacaan Al fatihah Bagi Makmum

Apakah kita membaca Al Fatihah ketika imam membacanya dengan jahr ?

Jawab : 

Dalam perkara ini memang terdapat perbedaan pada para Ulama salaf, kami akan menbcoba menguraikannya.

a. Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali mengharuskan ma’mum membaca Al Fatihah  di belakang imam baik dalam shalat sirriyyah (tidak mengeraskan bacaan seperti shalat dzuhur dan ashar) maupun dalam shalat jahriyyah (mengeraskan bacaan seperti shalat maghrib, ‘isya’, dan shubuh), berdasarkan hadits :

لاَصَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

 “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca fatihatul kitab  ( Al Fatihah ). “ (HR. Muslim)

       Nash tersebut berlaku umum, jadi imam dan ma’mum termasuk di dalamnya, baik shalat sirriyyah maupun jahriyyah maka barangsiapa yang tidak membaca Al Fatihah shalatnya tidak sah.

 

b.  Madzhab Maliki berpendapat apabila shalat sirriyyah maka ma’mum harus membaca Al Fatihah berdasarkan dalil di atas. Namun Imam Malik melarang membaca Al Fatihah di belakang imam dalam shalat jahriyyah berdasarkan firman Allah I :

وَإِذَا قُرِئَ اْلقُرْآنُ فَاسْتــَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتــُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Dan apabila Al Qur’an dibacakan maka dengarkanlah baik- baik dan perhatikanlah ( diam ) dengan tenang agar kalian mendapat rahmat. “ ( QS. Al A’raf : 204 )

Dan apabila ma’mum meninggalkan bacaan Al Fatihah dalam shalat sirriyyah, maka ia telah berlaku kurang baik tapi shalatnya tidak rusak.

c.  Madzhab Hanafi melarang pembacaan Al Fatihah di belakang imam secara mutlak, untuk mematuhi firman Allah di atas, juga berdasarkan hadits :

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَةِ اْلإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

 “Barang siapa yang shalat di belakang imam maka bacaan imam itu adalah bacaannya juga..“ ( HR. Ibnu Majah dan Ibnu Abi Syaibah dari Abi Hurairah ).

 

Juga berdasarkan dalil bahwa beliau bersabda :

إِنَّمَا جُعِلَ اْلإِمَامِ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَإِذَا قَرَأَ فَانْصِتُوْا

“Sesungguhnya imam itu diadakan untuk diikuti maka bila ia bertakbir bertakbirlah kalian, dan kalau ia membaca maka dengarkanlah dengan baik!” ( HR . Al Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An Nasai, Ad Darimi, Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

Lalu bagaimana kita menyikapi hal ini ?. Setelah melihat dalil – dalil yang sama kuat, maka sikap yang kita ambil adalah memberikan keleluasaan pada masing–masing pendapat karena permasalahan ini ikhtilaf  (berbeda-beda pendapat)  sesuai dengan qoidah fiqih :

الخُرُوْجُ  مِنَ اْلخِلاَفِ مُسْتــَحَبٌّ

 “Keluar dari yang diperselisihkan itu dicintai (disunnahkan)“

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

–          Rawai’ul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam I/39.

–          Kitabul Fiqh ‘Alal Madzahib Al Ar Ba’ah I/228.

–          Shahih Muslim IV/86.

–          Fatawa Al Lajnah Ad Daimah VI/416-417.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *