December 05, 2016

Apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudlu

 Pertanyaan : Apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudlu?

Jawab : Mengenai menyentuh kemaluan apakah membatalkan wudlu atau tidak terdapat beberapa pendapat. setidaknya ada tiga pendapat yang akan kami utarakan

Pendapat pertama : menyatakan tidak batalnya wudlu seseorang yang menyentuh kemaluannya,berdasarkan hadits :

عَنْ طَلْقٍ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ : قَالَ رَجُلٌ : مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْ قَالَ : الرَّجُلُ يَمُسُّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلاَةِ أَعَلَيْهِ الْوُضُوْءُ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ, إِنَّمَا هُوَ بِضْعَةٌ مِنْكَ.

Dari Tholq bin ‘Ali RadiyaAllahu ‘anhu ia berkata,“Berkata seorang lelaki : “Aku telah menyentuh kemaluanku.” Atau ia berkata, “Seorang lelaki menyentuh kemaluannya ketika shalat apakah ia harus mengulangi wudlunya ? “ Maka Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasaalam bersabda, “ Tidak, hanyasanya ia (kemaluan) itu bagian dari anggota tubuhmu !”

(HR. Yang Lima, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Ibnul Madini berkata dia lebih baik (derajatnya) dari hadits Busrah).

Pendapat kedua : mereka menyatakan bahwasanya menyentuh kemaluan itu membatalkan wudlu,

mereka berhujjah dengan hadits Busrah Binti Shafian dan Ummu Habibah :

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barang siapa yang menyentuh dzakar (kemaluan) nya maka hendaknya ia berwudlu !.”

(HR. Abu Dawud) Imam Bukhari berkata, “Hadits ini adalah hadits yang paling shahih dari pada Talq bin ‘Ali (yang meriwayatkan hadits tidak batalnya wudlu karena menyentuh kemaluan).”

Banyak para Imam Hadits yang menshahihkan hadits ini dan banyak pula syahid (saksi – hadits lain – yang menguatkan)-nya, sekitar 17 sahabat yang meriwayatkan hadits senada termasuk diantaranya shahabat Talq bin ‘Ali RadiyaAllahu ‘anhu (perawi hadits yang menerangkan tidak batalnya wudlu karena menyentuh kemaluan).

Pendapat ketiga : mereka memilih jalan memadukan kedua hadits di atas, maksudnya jika ia menyentuh kemaluan tersebut disertai syahwat maka wudlunya batal, tetapi jika ia menyentuh kemaluannya tidak disertai nafsu syahwat maka wudlunya tidak batal.

Dari ketiga pendapat di atas, maka pendapat yang dipilih adalah pendapat yang menyatakan bahwa menyentuh kemaluan itu membatalkan wudlu jika tidak ada pembatas/satir, berdasarkan sebuah riwayat yang mengkhususkan hadits Busrah yang menyatakan batalnya orang yang menyentuh kemaluan : ” Apabila salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya dan tidak ada hijab atau pembatas di atasnya maka wajib baginya berwudlu !”

( HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah ).

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

  • Subulus Salam I/115 – 117.
  • Sunan An Nasai I/124.
  • Sunan Abi Dawud I/54.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *