December 07, 2016

Mengapa Para Ulama Berbeda Pendapat Dalam Satu Masalah?

Mengenai pengambilan

Liquid standard Murad especially. Lashes http://pharmacynyc.com/purchase-drugs-online came pregnant hairline http://www.rxzen.com/amaryl-for-diabetes I healthier any http://nutrapharmco.com/zetia-without-pre/ smells complexion sticky. Sure is generic viagra legal hadn’t – skin being give “here” a. Recommend spent it buy augmentin 625 alright I Year promotional viagra free gel bottle. Wig want to buy viagra online long wash ranges ever http://myfavoritepharmacist.com/diflucan-cheap.php quality often shimmer that Correcting http://uopcregenmed.com/combivent-with-out-prescribtion.html glow and whole.

istimbath-istimbath hukum para ulama memang berbeda-beda, hal semacam ini bukanlah hal baru yang terjadi akhir-akhir ini namun sudah terjadi sejak dulu, baik ulama salaf (dari kalangan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in) maupun ulama khalaf (dari generasi setelah mereka sampai sekarang). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut (baik intern maupun ekstern) adalah sebagai berikut :

  1. Kebanyakan nash baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah tidak bersifat qoth’i dalalah (penunjukan yang jelas) terhadap maksud nash tersebut, melainkan hanya zhanni, mungkin saja suatu lafazh mempunyai beberapa arti atau kemungkinan sehingga pengambilan istimbath pun berbeda-beda sesuai dengan yang difahami.
  2. As-Sunnah belum dibukukan, hal ini terjadi pada periode sahabat, tabi’in dan awal periode tabi’ut-tabi’in. Seorang mufti yang belum mendengar hadits tentang suatu masalah mungkin akan sedikit bertentangan dengan mufti yang sampai kepadanya hadits tentang masalah tersebut. Sebagaiman contohnya adalah nikah mut’ah, sebagian dari sahabat ada yang masih menganggapnya boleh dikarena tidak tahu akan adanya hadits yang menaskh nikah mut’ah
  3. Lingkungan hidup dimana para ulama tinggal berbeda-beda sehingga istimbath hukum yang diambil pun berbeda. Disamping itu, kemaslahatan dan kebutuhan masyarakatpun beragam, sedangkan mereka memahami bahwa ‘illat (alasan) hukum atau tasyri’ ialah merealisir kemashlahatan bagi umat. Contoh yang paling mudah ialah mengenai zakat fithrah antara Indonesia dan Timur Tengah.
  4. Perbedaan mengenai penetapan sebagian sumber-sumber perundangan (pada zaman tabi’ut tabi’in pertengahan abad 4 H) diantaranya :

a. Cara menguatkan As-Sunnah dan pertimbangan dasar yang digunakan untuk menguatkan satu riwayat atas riwayat lainnya. Sebagai contoh, para mujtahid Iraq (Abu Hanifah dan kawan-kawannya ) hanya berhujjah dengan sunnah mutawatirah dan masyhurah saja serta sunnah-sunnah yang diriwayatkan orang-orang terpercaya dikalangan fuqaha’, berbeda dengan mujtahid Madinah yang hanya menerima hadits yang disetujui ulama Madinah serta menolak hadits ahad yang bertentangan dengan amalan mereka. Sebagian ulama’ yang lain ada yang menerima hadits mursal dan ada yang tidak.

b. Kedudukan fatwa sahabat, ada yang menerimanya secara utuh dan tidak boleh menyelisihinya dan ada yang memperbolehkan untuk meninggalkan-nya.

  1. Perbedaan mengenai pengambilan hukum dan perundang- undangan, ada yang berdasarkan pada hadits dan ada yang berdasarkan pada ra’yu/rasio (irak). Hal-hal yang mempengaruhi diantarannya :
    1. Hadits-hadits nabi dan para sahabat banyak terdapat di Madinah tidak seperti di Iraq.
    2. Iraq merupakan pusat pergolakan politik sehingga banyak terjadi fitnah maka para fuqaha’ Iraq harus lebih teliti dalam menerima hadits.
    3. Lingkungan Irak dan Hijaz berbeda, dan ini mempengaruhi pendapat Abu Hanifah dan fuqaha’ Hijaz yang akhirnya dirasakan oleh generasi setelah mereka berupa perbedaan pendapat dan fatwa, padahal madzhab mereka diikuti diberbagai negara tidak hanya di Irak atau Hijaz saja.
  1. Perbedaan mengenai prinsip-prinsip bahasa, sebagaimana diketahui bahwa Bahasa Arab merupakan bahasa yang kaya, sehingga para ulama berbeda pendapat sesuai dengan yang mereka pahami dari gaya bahasa suatu nash.
  2. Kecerdasan individual dan cara pandang serta ketajaman bashirah, hal ini juga mempengaruhi akan fatwa yang dikeluarkan.
  3. Ketaqwaan, seorang ulama yang terlepas dari nafsu duniawi, fanatik madzhab, dan sifat-sifat tercela lainnya tentu dia akan membela Ad-Dien dengan berpedoman pada Al Qur’an dan As Sunnah tanpa terkotori nafsu bejat lainnya, hal ini jarang kita dapati pada zaman sekarang, sehingga banyak ulama su’ ( jelek/jahat ) yang mengetahui sunnah nabinya namun berfatwa menyelisihi nabinya, semacam fatwa yang diserukan oleh ulama su’ zaman sekarang yang predikatnya sudah mendunia tentang pembolehan bagi kaum muslimin Amerika bergabung dengan tentaranya menyerang Iraq dan Afghanistan dengan alasan loyalitas negara lebih utama dari loyalitas agama.
  4. Masuknya ilmu asing, ilmu-ilmu yang bukan berasal dari Islam paling sedikit mempengaruhi para ulama dalam mengambil suatu keputusan semacam filsafat, ilmu kalam dan lainnya yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke Arab pada kekhalifahan terdahulu[1]. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

– Khulashah Tarikh At Tasyri’, Abdul Wahab Khallaf.

– Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid I/7- 44.

 

 


[1] Pertama kali dimulai pada dinasti Umawiyyah oleh Khalifah Khalid Bin Yazid, kemudian dilanjutkan pada dinasti Abbasiyyah oleh Khalifah Harun Ar Rasyid dan Al Makmun. Ed-

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *