December 09, 2016

Apa Yang Dimakan Setan Ketika Kita Makan Tidak Memulainya Dengan Basmallah?

Alhamdulillah, Islam sebagai dien yang syumul, yang mengatur semua urusan umatnya, ia telah mensyari’atkan kepada kita untuk senantiasa menyebut nama Allah di setiap urusan kita, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لاَيُبْدَأُ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أَبْتَرُ       

Setiap urusan yang tidak dimulai dengan bismillahirrohmanirrohim terputus (pahalanya ).” (HR . Abu Dawud, Ibnu Hibban)

Begitu pula persoalan makan dan minum. Beliau Shollallahu ‘Alaihi Wassalam menerangkan kepada kita mengenai adab-adabnya dan diantara adab-adab tersebut ialah memulai dengan tasmiyah atau bismillah, beliau bersabda:

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ, فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ – رواه الترمذي –

Apabila salah satu diantara kalian memakan suatu makanan, maka ucapkanlah bismillah, jika lupa di awalnya maka ucapkanlah  Bismillah fie awwalihi wa akhirihi (dengan menyebut nama Allah (aku memulai) diawal dan akhirnya)  “.( HR. At Tirmidzi )

 

Dan beliau Shollallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

يَاغُلاَمَ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

Wahai pemuda! Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan yang dekat denganmu.” (HR.Bukhari-Muslim).

Juga sabdanya kepada seorang lelaki / sahabat:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م جَالِسًا وَرَجُلٌ يَأْكُلُ فَلَمْ يُسَمِّ حَتيَّ لَمْ يَبْقَ مِنْ طَعَامِهِ إِلاَّ لُقْمَةً فَلَمَّا رَفَعَهَا إِلَي فِيْهِ قَالَ بِسْمِ اللهِ أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ فَضَحِكَ النَّبِيُّ ص.م ثُمَّ قَالَ مَازَالَ الشَّيْطَانُ يَأْكُلُ مَعَهُ فَلَمَّا ذَكَرَ اسْمَ اللهِ اسْتــَقَاءَ مَافِي بَطْنِهِ – رواه ابو داود-

“Ketika Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wassalam duduk, seorang lelaki sedang makan dan belum menyebut nama Allah sampai tidak tersisa dari makanannya kecuali sesuap saja, maka tatkala ia mau memasukkanya ke dalam mulutnya, ia berkata: “Dengan menyebut nama Allah pada permulaan dan akhirnya (makan).” Maka Rasulullah r tertawa kemudian bersabda, ”Syetan senantiasa makan bersamanya,maka tatkala ia menyebut nama Allah, ia (syetan) memuntah-kan apa yang ada dalam perutnya.” (HR. Abu Dawud)

Dan banyak lagi hadits yang menerangkan tentang sunnahnya tasmiyah atau basmallah sebelum makan, bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa tasmiyah itu wajib, karena shahih dan sharih (jelas)nya hadits-hadits yang menerangkan tentang perintah tasmiyah sebelum makan (Zadul Ma’ad),

Namun permasalahannya sekarang apa yang dimakan syetan ?

Para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa yang dimakan tersebut adalah barakah dari makanan, sehingga maksud hadits di atas ialah kembalinya barakah makanan kepada makanan tersebut, namun tidak menutup kemungkinan bahwa yang dimaksud makan di sini ialah bermakna hakiki alias ia (syetan) memang memakan makanan tersebut, sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wassalam ketika sedang berkumpul bersama sahabatnya untuk makan, maka sekonyong-konyong datang seorang jariyah (hamba sahaya perempuan) untuk mengambil makanan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat, kemudian Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wassalam memegang tangannya, dan datang seorang Arab badui bersikap sama seperti budak tadi, maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wassalam memegang tangannya, kemudian bersabda,

Sesungguhnya syetan itu merebut makanan yang tidak disebut nama Allah, sesungguhnya syetan bersama budak perempuan ini untuk merebut makanan, maka aku pegang tangannya, kemudian ia datang dengan orang badui ini untuk merebut makanan maka aku pegang tangannya sesungguhnya tangan syetan ini saya pegang bersama dengan kedua tangan orang ini,” kemudian Rasulullah r menyebut nama Allah dan memulai makan. (HR.Muslim).

Imam Nawawi mengomentari hadits ini berkata, ”Makna yastahillu (pada hadits di atas) ialah ia (syetan) berkuasa untuk memakannya apabila seseorang mengawali makannya dengan tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala.

Adapun seseorang yang tidak memulai (dengan tidak berdzikir) maka tidak mungkin (syetan menguasainya), dan jika ia berjama’ah (berkumpul untuk makan) dan sebagian diantara mereka menyebut nama Allah Ta’ala  sedang sebagian yang lain tidak, ia pun tidak dapat menguasai (makanan tersebut). Kemudian pendapat yang benar, yang dipegang oleh jumhur ulama’ baik salaf maupun khalaf dari para muhadditsin, fuqaha’,dan ahli kalam bahwasannya hadits ini dan yang  serupa dari hadits-hadits yang menjelaskan tentang makannya syetan (bersama manusia) mengandung kemungkinan secara dhahirnya, bahwasanya syetan makan secara hakiki, karena akal tidak menganggapnya suatu hal yang mustahil dan syara’ tidak mengingkari bahkan menetapkannya maka wajib menerimanya dan menyakininya.

Wallahu A’lam”

 

Kesimpulan:

Maksud dari makannya syetan di sini bisa berupa barakahnya yang dimakan bisa juga secara hakiki artinya makan makanan tersebut (karena syetan ada yang berupa manusia atau jin, atau syetan tersebut masuk ke tubuh manusia untuk makan bersamanya seperti dalam hadits) atau kedua-duanya, barakah dan makanannya. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

–         Shahih Muslim Bisyarhin Nawawi XIII/161.

–         ‘Aunul Ma’bud X/173.

–         Tuhfatul Ahwadzi V/500.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *