December 09, 2016

Halalkah Berkat Tahlilan?

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk menjaga setiap hal yang masuk ke mulut kita, menjaga dari segala hal yang haram sehingga tidak ada segumpal dagingpun di tubuh kita yang berasal dari perkara haram. Banyak yang bingung dengan kedudukan “berkat tahlilan”. Bahkan ada yang mengharamkanya sebagaimana daging babi dan tidak mau menyentuhnya.

Acara yasinan memang suatu acara yang bid’ah karena Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wassalam dan para sahabat juga para ulama’ dari generasi yang diutamakan tidak pernah melakukan hal tersebut (mengkhususkan bacaan surat tertentu pada hari tertentu, kecuali surat dan hari yang memang ada dalillnya, seperti membaca surat Al Kahfi pada hari jum’at). Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wassalam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ – مسلم –

“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.“ (HR. Muslim).

 

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَالَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ – رواه البخارى ومسلم –

 “Barang siapa yang mengada–adakan perkara yang baru pada urusan (agama) kami yang bukan bagian darinya maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari & Muslim)

Namun perlu diperhatikan di sini bahwa setiap acara yang bid’ah yang tidak ada contohnya dan dalilnya-baik dari kitabullah maupun sunnah rasul Nya – dan di dalam acara tersebut terdapat makan atau minuman yang dihidangkan (seperti yasinan, perayaaan maulid Nabi, perayaan isra’ mi’raj , dll.) , acara–acara tersebut meskipun bid’ah tapi tidak menyebabkan makanannya terlarang untuk dimakan. Dengan kata lain, makanan dan minuman yang dihidangkan pada acara–acara bid’ah boleh dimakan karena yang dilarang adalah acaranya bukan makanannya, apalagi jika kita mendatangi acara tersebut karena tidak tahu.

Berbeda hukumnya jika acara–acara bid’ah tersebut dimaksudkan untuk niyahah (meratapi mayit/berkabung) seperti tahlilan dan yasinan yang diperuntuk-kan bagi si mayit maka lebih baiknya makanan tersebut dihindari, dan tidak memakannya demi kehati–hatian (ikhthiyat).

Sebagai tadzkirah, seyogyanya bagi kita apabila sudah mengetahui bahwa suatu perkara itu bid’ah untuk mengingkarinya – dan membasminya kalau bisa, bahkan wajib – dan menjauhinya, serta meneliti dan berhati-hati ketika diajak mengikuti suatu acara, apakah termasuk acara yang masyru’ (disyari’atkan), mubah, atau bahkan acara yang haram (acara–acara yang bid’ah).

 Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

–          Muhadharah wa Talaqqi.

–          Shahih Al Bukhari IV/412.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *