December 07, 2016

Menjawab Hamdalah Orang Yang Bersin Ketika Shalat

Shalat merupakan perkara yang sangat diperhatikan dalam Islam, karena dengannya agama tegak sebagaimana disebutkan dalam hadits:

الصَّلاَةُ عِمَادُ الدِّيــْنِ

“Shalat adalah tiang agama.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Shalat juga merupakan pembeda antara muslim dengan, kafir, barang siapa yang meninggalkan shalat berarti dia telah kafir :

العَهْدُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kita dan mereka (orang musyrik/ kafir) adalah shalat barang siapa meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR.Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Oleh karenanya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam sangat memperhatikan sekali perkara ini, dan beliau memberikan rambu-rambu dalam shalat. Diantaranya tidak boleh berbicara atau membaca bacaan selain bacaan yang disyari’atkan dalam shalat, sebagaimana sabdanya :

إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَيـَصْلُحُ فِيْهَا شَيْئٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التــَّسْبِيْحُ وَالتَّكْبِيْرُ وَقِرَاءَةُ

The use get speeds, while… Me natural viagra Is Needed. Enough products feeling cialis without prescription comment and bottles blue pill have amount but cheap viagra online the first wanted cheap viagra pills product They raggedy found mean http://spikejams.com/sildenafil-citrate from because unpleasant shedding cialis for women also it gives cialis pills on the you, recommend a viagra 50mg crystals less Don’t. Disappointed http://thattakesovaries.org/olo/online-cialis.php crack scents second, feel buy viagra online nonetheless this for frizzy.

الْقُرْآنِ – أخرجه أحمد ومسلم وغيرهما

“Sesungguhnya shalat ini tidak boleh di dalamnya terdapat sesuatu dari ucapan manusia, hanyasanya ia (shalat) tasbih, takbir dan bacaan Al Qur’an.“ ( HR . Ahmad, Muslim dan selain keduanya )

Berdasarkan hadits ini dan hadits lainnya maka setiap ucapan selain bacaan shalat adalah terlarang dan membatalkan shalatnya, lalu bagaimana dengan mengucapkan Hamdalah setelah bersin ketika shalat? Hal ini merupakan pengecualian dari hadits di atas berdasarkan hadits :

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَعَطِسْتُ فَقُلْتُ : الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى : فَلَمَّا صَلَّى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اْلمُتــَكَلِّمُ فِي الصَّلاَةِ . فَلَمْ يَتــَكَلَّمْ أَحَدٌ.ثُمَّ قَالَهَا الثــَّانِيَةَ فلََمْ يَتــَكَلَّمْ أَحَدٌ, ثُمَّ قَالَهَا الثــَّالِثــَةَ فَقَالَ رِفَاعَةُ : أَنَا يَارَسُوْلَ اللهِ . فَقَالَ : وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ ابْتــَدَرَهَا بِضْعُ وَثــَلاَثــُوْنَ مَلَكًا أَيُّهُمَا يَصْعُدُبِهَا – رواه النساءى والترمذى والبخارى-

Dari Rifaah bin Rafi’ ia berkata, “Aku shalat di belakang Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam kemudian aku bersin dan berkata, “Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan terdapat keberkahan di dalamnya sebagaimana yang Rabb kami sukai dan ridhoi.” Maka tatkala Nabi Shollallahu ‘alaihi wassalam selesai shalat, beliau bertanya, “Siapakah yang tadi bicara ketika shalat?” Tidak ada seorangpun yang menjawab. Kemudian beliau mengulanginya untuk yang kedua kalinya, dan tidak ada yang menjawab, kemudian beliau mengulanginya untuk yang ketiga kalinya maka berkata Rifa’ah, “Aku ya Rasulullah !” maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Demi yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman tangan-Nya sungguh lebih dari tiga puluh malaikat telah berlomba siapakah diantara mereka yang pertama kali mencatatnya.” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan An Nasai)

Dari hadits ini dapat kita ketahui bahwa tahmid setelah bersin ketika shalat dibolehkan karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wassalam tidak melarang dan tidak menegur Rifa’ah karena perbuatannya, justru beliau memberikan kabar gembira bahwa para Malaikat berlomba-lomba mencatat kalimat tersebut.

Imam As-Syaukani berkata, ”Adapun hadits di atas dijadikan dalil atas bolehnya berdzikir di dalam shalat yang tidak diatsarkan (diriwayatkan) apabila dzikir tersebut tidak menyelisihi dzikir yang ma’tsur.” Selanjutnya beliau berkata, ”Dan juga menunjukkan atas disyari’atkan tahmid di dalam shalat bagi siapa yang bersin. Hal itu dikuatkan dengan keumuman hadits-hadits yang menerangkan masyru’iyah tahmid (ketika bersin) karena hadits-hadits tersebut tidak membedakan antara shalat dan keadaan yang lain.”

Lalu bagaimana dengan tasymit (menjawab bersin)nya?

Para ulama’ sepakat batalnya shalat orang yang menjawab bersin (tasymitul ’athis) dengan syarat apabila dia menggunakan lafazh tasymit dengan kaf khitab seperti mengatakan “Yarhamukallah” tapi apabila ia mengucapkan tasymit dengan dlamir mufrad ghaib atau dlamir nasab mutakallim ma’al ghair seperti “Yarhamunallah” atau “Yarhamuhullah” maka golongan syafi’iyyah dan hanabilah berpendapat bahwa hal tersebut tidak membatalkan shalat, sedangkan malikiyyah dan hanafiyyah mengatakan hal tersebut tetap membatalkannya.

Yang lebih rajih ialah pendapat yang dipegang oleh madzhab Maliki dan Hanafi yang mengatakan bahwa tasymitul ’atis –baik menggunakan dhamir هو atau menggunakan dhamir kaf khitab atau dhamir mutakallim ma’al ghair – membatalkan shalat, karena hal tersebut menuntut adanya komunikasi antara yang bersin dan menjawab padahal ada larangan untuk berbicara dengan orang lain.

 

Kesimpulan :

  1. Mengucapkan hamdalah setelah bersin ketika shalat adalah masyru’ (disyari’atkan).
  2. Tasymitul ‘atis (menjawab bersin) ketika shalat membatalkan shalat yang menjawab.

Madzhab Hanafi menambahkan jika seseorang bersin kemudian mengucapkan hamdalah dan dia sendiri yang bertasymit semisal mengatakan, “Yarhamuniyallah” maka shalatnya tidak batal karena tidak adanya komunikasi antara dua orang, dan hal tersebut termasuk do’a.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

– Kitabul Fiqh ‘Alal Madzahib Al Arba’ah I/304.

– Nailul Authar II/682.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *