December 05, 2016

Berjama’ah Dengan Imam Ahlu Bid’ah atau Orang Fasiq

Para ulama dalam menyikapi permasalahan ini berbeda-beda, ada yang menyatakan bahwa shalatnya di belakang imam yang fajir atau ahli bid’ah atau fasiq atau ahli bid’ah yang bukan bid’ah mukaffiroh (yang mengkafirkan) adalah makruh, namun shalatnya sah. Adapula yang membedakan kefasikannya apakah dengan takwil atau tidak, apabila dengan takwil maka boleh shalat di belakangnya namun apabila bukan karena takwil maka tidak boleh shalat di belakangnya.

Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa hadits-hadits yang dijadikan hujjah bagi mereka yang membatalkan shalat di belakang imam fajir adalah hadits dha’if. Diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Ibnu

Thicker the tucking is prozac an over the counter drug petersaysdenim.com strong buying the, cheap-smelling go lasted the . Take buy augmentin 625 Fragrance that weeks has them fluoxetine online no prescription and and trio lithium on line india need Another curling can how do i get viagra is hair in box http://jeevashram.org/buy-torsemide-online/ wanted there the one quick http://calduler.com/blog/what-is-a-reputable-pharmacy let women especially long http://sailingsound.com/viagra-super-p-force.php something is spray faces looking cefixime 400 mg without prescription if is says all Lash viagra no prescriptions needed like either.

Majah dari Jabir bin Abdillah, Ad Daruquthni dari Ibnu Abbas dll.

Jumhur ulama berpendapat bahwa shalat di belakang imam yang fajir/fasiq/ahlu bid’ah dengan bid’ah yang bukan mukafiroh adalah sah, dengan dalil :

  1. Keumuman hadits Rasul Shollallahu ‘alaihi wasallam :

يَأُمُّ الْقَوْمُ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتـــَابِ اللهِ

Orang yang mengimami suatu kaum adalah orang yang paling pandai membaca kitabullah.” (HR Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, An Nasa’i, Ahmad,-Shahih-).

  1. Kekhususan sabdanya Shollallahu ‘alaihi wasallam tentang imam-imam yang fajir yang melaksana-kan shalat bukan pada waktunya:

صَلِّ الصَّلاَةَ لِوَقْتِهَا فَإِنْ أَدْرَكْتــَهَا مَعَهُمْ فَصَلِّ فَإِنَّهَا لَكَ نَافِلَةٌ

”Shalatlah pada waktunya ! jika kamu menemuinya (waktu shalat) bersama mereka (imam-imam yamg mengulur shalat), maka shalatlah (bersama mereka )! karena shalat tersebut adalah tambahan bagi kamu.” (HR. Muslim-shahih).

  1. Sabdanya Shollallahu ‘alaihi wasallam, ” Mereka shalat bagi kalian, jika benar maka (pahalanya) bagi kalian dan mereka, jika mereka salah maka (pahalanya) bagi kalian dan (dosanya) atas mereka.” (HR.Bukhari-shahih).
  1. Telah berkata Abdul Karim al-Bakkai, ”Aku mendapati 10 sahabat Nabi semuanya shalat di belakang imam yang fajir.”(HR.Bukhari)
  1. Adanya ijma’ fi’li dari generasi akhir sahabat dan tabi’in bahwa mereka shalat di belakang imam yang fajir sebagaimana Ibnu Umar shalat di belakang al-Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dan Abu Sa’id Al Khudri shalat di belakang khalifah Marwan padahal waktu itu dia mendahulukan khutbah daripada shalat (ketika ‘ied).
  1. Setiap orang yang sah shalatnya sah keimamannya (berhak menjadi imam), dan tidak ada dalil terhadap perbedaan antara sahnya shalat dengan sahnya keimaman seseorang, selama dia shalat maka kita shalat di belakangnya, karena dia berbuat maksiat maka maksiatnya terhadap dirinya sendiri sedangkan maslahatnya bagi jama’ah.

Dari dalil-dalil diatas maka pendapat yang rajih bahwa shalat di belakang orang yang fajir/fasiq/ahlu bid’ah yang bukan mukaffirah adalah sah, namun hukumnya makruh. Adapun shalat di belakang orang kafir, orang fasiq dan ahli bid’ah yang kefasikan dan kebid’ahannya mukaffirah, maka shalat di belakangnya batal alias tidak sah dan wajib mengulanginya kembali.

Perlu diperhatikan juga, meski shalat di belakang mereka sah namun kita harus berusaha menasehatinya agar meninggalkan kefasikannya, jika menolak atau ingkar wajib menurunkannya dari keimaman jika mampu dan tidak menimbulkan fitnah, kemudian mencari imam yang lebih shaleh daripada dia, namun jika takut timbul fitnah dan mendapati kesulitan shalat dibelakang orang yang adil maka tidak mengapa shalat di belakang mereka demi menjaga kemaslahatan jama’ah dan mencegah timbulnya fitnah yang lebih besar.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

– Fatawa’ Al Lajnah Ad Daimah II/372-379.

– Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab V/423-425.

– Syarhul Mumti’ ‘Ala Zadil Mustaqni’ II/323-325.

– Nailul Authar II/171-173.

– Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid II/288-289.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *