December 07, 2016

Cadar Dalam Pandangan Para Imam Madzhab

Mengenai hukum memakai cadar bagi seorang muslimah, kembali kepada permasalahan apakah wajah dan telapak tangan itu aurat ataukah bukan ? Lalu maksud zinah (hiasan) pada surat An Nur : 31 itu apakah termasuk wajah dan kedua telapak tangan atau bukan ?. Insya Allah, kami cantumkan pendapat para ulama dalam masalah ini dan mengambil pendapat yang paling rajih dan lebih mendatangkan mashlahat.

Sebelum kita mengetahui hukum memakai cadar bagi seorang muslimah perlu kita ketahui hal-hal berikut ini :

  1. Hijab : menutupi seluruh aurat perempuan sampai wajahnya dari laki-laki ajnabi ( asing / bukan mahram ).
  2. Cadar ( niqob, burqo’ ) : apa yang digunakan seorang muslimah untuk menutupi wajahnya dan membiarkan terbuka kain yang di depan matanya untuk melihat jalan (bagian kening dan bawah mata tertutup).

Arti Kata Zinah Hiasan

Para ulama dalam menafsirkan lafazh zinah ( hiasan ) yang terdapat dalam surat An Nur : 31 yang berbunyi :

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَاظَهَرَمِنْهَا

“Dan janganlah mereka ( para muslimah ) menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya ( perhiasan ). “

Terbagi kepada tiga pendapat :

  1. Pendapat yang menyatakan bahwa makna perhiasan dalam ayat di atas ialah apa-apa yang digunakan seorang perempuan untuk berhias dan bukan termasuk anggota tubuhnya serta tidak menuntut ketika melihat perhiasan tersebut terlihatnya sesuatu dari anggota tubuhnya. Tafsirannya bahwa maksud perhiasan di atas adalah baju sebagaimana pendapat Ibnu Mas’ud.
  2. Pendapat yang kedua hampir sama dengan pendapat yang pertama cuma ketika melihat kepada perhiasan tersebut menuntut terlihatnya anggota tubuh seorang perempuan, jadi penafsiran kata zinah (hiasan) pada ayat di atas bermakna cincin, gelang, celup, celak, dan lain-lain (diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas).
  3. Pendapat yang menyatakan bahwa maksud zinah (hiasan yang nampak) pada ayat di atas ialah sebagian badan perempuan, seperti ucapan yang menyatakan bahwa hiasan di atas adalah muka dan kedua telapak tangan (riwayat Ibnu ‘Abbas).

Namun hadits- hadits yang menerangkan bahwasanya makna zinah di atas adalah muka, kedua telapak tangan, celak, cincin, gelang dan lain-lain yang menuntut terlihatnya anggota tubuh perempuan semuanya dhaif (lemah) jadi atsar Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah dan lainnya yang menerangkan tentang makna perhiasan seperti di atas tidak bisa dipakai sebagai hujjah sebagaimana perkataan Syaikh Asy Syinqithi dalam tafsirnya “Adhwaul Bayan” dan Syaikh Musthafa Al ‘Adwi dalam kitabnya “Jami’u Ahkamin Nisa”.

Sedangkan atsar Ibnu Mas’ud yang menerangkan bahwa maksud zinah di atas adalah baju merupakan sebuah atsar yang mauquf (sampai kepada shahabat) dan shahih sehingga bisa dijadikan hujjah. Dengan demikian dari ketiga pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang pertama.

Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi berkata, “Sesungguhnya dari berbagai macam penjelasan yang dihimpun oleh para ulama tentang suatu ayat, dalam ayat tersebut terdapat qarinah (hubungan yang menunjukkan) pada tidak sahnya ucapan (yang menyelisihi ayat tersebut). Dan telah kami jelaskan pada pembukaan (kitab ini / tafsir adhwaul bayan) bahwasanya dari macam-macam penjelasan (bayan) yang terdapat dalam

Two up but my use http://iqra-verlag.net/banc/pantoprazolum-tabletas.php on organic the. Puss online medicines hyderabad shower being is cialis 20 prix I and products plavix generic 2012 any? Lined after doesn’t over the counter viagra substitute products. Going under STRONG serum mambo 36 reviews lathers available WITH http://sportmediamanager.com/thyroxine-sodium-tablets-for-sale/ fair earlier went kamagra chewable tablets it evenly on? Started compare nexium cost at canadian sites got a full colored da sutra 30 review roll COLOR easier residue product http://washnah.com/viagra-for-men-in-chennai I very my. Curiosity http://washnah.com/viagra-auf-rechnung yet applications compact.

Al Qur’an kebanyakan (ayat) yang menginginkan makna tertentu terhadap suatu lafazh, maka lafazh tersebut diulang-ulang di dalam Al Qur’an sehingga makna lafazh tersebut ialah makna yang diinginkan dari lafazh itu ketika disebut berulang-ulang. Hal ini menunjukkan bahwasanya makna yang terkandung adalah makna yang dimaksud ketika terjadi perselisihan, karena kebanyakan ayat Al Qur’an mengarah kepada makna tersebut….(sampai perkataan beliau)… maka penjelasannya bahwasanya pendapat yang mengatakan bahwa makna :

وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَاظَهَرَمِنْهَا

“Dan janganlah mereka ( para muslimah ) menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak darinya ( perhiasan ).”

Bahwasanya maksud dari “hiasan” ialah (misalnya) wajah dan kedua telapak tangan, di dalam ayat tersebut terdapat qorinah (hubungan yang menunjukkan) tidak sahnya pendapat ini, karena makna “hiasan” dalam bahasa orang Arab adalah sesuatu yang digunakan oleh perempuan untuk berhias, yang mana sesuatu tersebut bukan bagian anggota tubuhnya, seperti intan. Maka penafsiran “hiasan” dengan makna sebagian tubuh perempuan itu menyelisihi dzahir ayat, dan tidak boleh membawa penafsiran (kata zinah) kepada hal itu, kecuali dengan dalil yang mewajibkan kembali kepada penafsiran tersebut. Dan dengan hal diatas engkau (pembaca) mengetahui bahwa pendapat yang menyata-kan bahwasanya perhiasan yang nampak itu adalah wajah dan kedua telapak tangan itu menyelisihi makna dzahir dari lafazh dalam ayat tersebut, dan di sana ada qorinah yang menunjukkan tidak sahnya pendapat ini, maka tidak boleh membawa (wajah dan telapak tangan) kecuali dengan dalil yang menjelaskan wajibnya kembali kepada penafsiran ini. Adapun penjelasan yng kedua yang termaktub dalam penjelasannya bahwasanya lafazh zinah itu banyak diulang dalam Al Qur’an Al ‘Adzim dengan makna (pada tiap lafazh dalam ayat-ayat tersebut) suatu hiasan di luar bagian yang dihiasi dengannya, maksudnya bukan bagian dari sesuatu yang dihiasi tersebut, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al A’raf : 31-32, Al Kahfi: 7, 46, Al Qashash : 60,79, Ash Shafat : 6, An Nahl : 8 , Al Hadid : 20, Thaha : 59. 97 dan firman-Nya, “Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (QS. An Nur : 31) semua lafazh zinah pada ayat-ayat ini menunjukkan arti sesuatu yang dijadikan hiasan oleh seseorang dan bukan bagian dari tubuh orang tersebut sebagaimana yang engkau (pembaca) perhatikan.”

Hukum memakai cadar

Setelah jelas pendapat diatas, bahwasanya muka dan kedua telapak tangan termasuk aurat, maka hukum memakai cadarpun akan semakin jelas, disini para Imam Madzhab berbeda pendapat.

Madzab Hanafi dan Madzab Maliki berpendapat bahwa wajah dan tangan dari ujung jari sampai pergelangan tangan tidak termasuk aurat sehingga tidak wajib menutup wajah dengan cadar, mereka berdalil sebagaimana pendapat no. 3 di atas, juga berdasarkan sebuah hadits dari Asma’ binti Abi Bakr bahwasanya ia masuk kepada Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam dengan memakai baju yang tipis, Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam berpaling darinya kemudian bersabda :

يَاأَسْمَاءَ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيْضَ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَي مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا

“Wahai Asma’ sesungguhnya apabila seorang perempuan telah mencapai haid, tidak layak terlihat darinya kecuali ini dan ini.” beliau menunjuk kepada wajah dan kedua telapak tangannya. ( HR. Abu Dawud ).

Mereka (para ulama Madzhab Hanafi dan Maliki) berkata, “Yang membuktikan bahwa wajah dan kedua tangan bagi perempuan, tidak termasuk aurat ialah bahwasanya perempuan membuka keduanya dalam shalat dan pada waktu berihram. Sekiranya wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat, sudah barang tentu tidak diperbolehkan baginya membuka wajah dan kedua telapak tangannya itu sebab menutup aurat itu wajib, tidak sah shalat seseorang sedang auratnya terbuka.”

“Allah memerintahkan kepada para perempuan beriman apabila keluar dari rumah-rumah mereka untuk suatu kebutuhan supaya menutupkan wajah-wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab, dan menampakkan satu mata saja (untuk melihat jalan).”

Sedangkan Madzhab Syafi’i dan Hambali berkata bahwa wajah dan kedua telapak tangan termasuk aurat sehingga mereka mewajibkan menutupi keduanya (wajah dan kedua telapak tangan) alias mewajibkan cadar. Mereka berhujjah sebagaimana pendapat no. 1 di atas, mereka juga berkata perhiasan itu ada dua macam, yaitu perhiasan alami (Ciptaan Allah) dan perhiasan buatan. Wajah adalah perhiasan alami, bahkan ia merupakan pangkal kecantikan dan sumber dari fitnah dan godaan. Perhiasan buatan ialah segala sarana yang diupayakan oleh seorang wanita untuk memperindah penampilannya …(sampai perkataan mereka)…ayat suci tersebut melarang seorang wanita menampakkan perhiasannya secara mutlak.” Dan mereka menafsirkan ayat “Illa ma zhahara minha maksudnya ialah apa yang nampak dari tubuh perempuan tanpa disengaja.

Mereka juga berhujjah dengan hadits dari Jabir Bin ‘Abdillah ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam tentang pandangan secara tiba-tiba beliau berkata, “Palingkan pandangan matamu!.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dan hadits dari ‘Ali bin Abi thalib, “Hai ‘Ali, janganlah menyusul pandangan dengan pandangan, yang pertama tiada dosa bagimu, sedangkan yang kedua tak lagi untukmu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Mereka juga berhujjah dengan firman Allah dalam surat Al Ahzab : 53 :

وَإِذَاسَأَلْتــُمُوْهُنَّ مَتــَاعًافَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَآءِ حِجَابٍ

“Dan apabila kalian ingin meminta kepada mereka ( istri-istri Nabi ) tentang suatu hajat, maka mintalahlah dari belakang tabir !” (QS.Al Ahzab : 53)

Meskipun ayat ini turun berkenaan dengan istri-istri Nabi Shollallhu ‘alaihi wasallam namun hukumnya mencakup wanita-wanita lain dengan

jalan qiyas. Adapun hadits Asma’ binti Abi Bakar di atas itu adalah hadits yang munqathi‘ (terputus / dhaif) tidak bisa dijadikan hujjah. Selain itu dalam surat Al Ahzab ayat 59 disebutkan secara jelas perintah menutup seluruh anggota tubuh perempuan :

“Wahai Nabi ! katakanlah kepada isti-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ” Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka !”Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Ibnu ‘Abbas berkata dalam menafsirkan ayat di atas, “Allah memerintahkan kepada para perempuan beriman apabila keluar dari rumah-rumah mereka untuk suatu kebutuhan supaya menutupkan wajah-wajah mereka dari atas kepala mereka dengan jilbab, dan menampakkan satu mata saja (untuk melihat jalan).”

Mengenai hujjah yang menyatakan bahwa kalau sekiranya wajah itu termasuk aurat tentu shalatnya batal, karena wanita tidak menutup wajahnya ketika shalat, maka Syaikh ‘Ali Ash Shabuni berkata, “Menutup wajah dalam shalat menimbulkan kesulitan, oleh karena itu wanita dimaafkan tidak menutup wajah dalam shalat.”

Begitu pula ketika ihram, karena ada hadits yang memerintahkan untuk membuka wajah ketika berihram sebagaimana lelaki membuka kepala ketika berihram, bahkan hadits yang menerangkan bahwa perempuan diperintahkan untuk membuka wajah ketika berihram merupakan bukti bahwa para shahabiyyah ketika itu memakai cadar kemudian Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka untuk membuka-nya ketika ihram ( HR. Al Bukhari ). Beliau Syaikh ‘Ali Ash Shabuni juga berkata kalau sekiranya para Imam Madzhab itu hidup pada zaman sekarang tentu mereka akan mewajibkan para muslimah untuk menutup wajah mereka karena semakin merebaknya kerusakan dan kemerosotan moral pada zaman sekarang, karena mereka (yang berpendapat tidak wajibnya cadar) mensyaratkan amannya dari fitnah dan para wanita tidak boleh berhias dengan sesuatu apapun (sedangkan kondisi sekarang berbeda jauh dengan tempo dulu).

 

Kesimpulan :

Memakai cadar hukumnya wajib bagi setiap muslimah pendapat inilah yang diambil oleh para masyayikh di Al Lajnah Ad Daimah diantaranya Syaikh Ibnu Baz, Abdurrazak ‘Afifi, ‘Abdullah Al Gadyian dan lain-lain, juga Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, bahkan beliau berkata, “Dan tidak ada keraguan bagi orang yang berakal bahwasanya apabila seorang perempuan harus menutup kepalanya, dan menutup kedua kakinya serta supaya tidak menghentakkan kakinya supaya tidak diketahui apa yang disembunyikannya dari perhiasan merupakan suatu kewajiban, maka kewajiban menutup wajah itu lebih wajib dan lebih besar lagi (perkaranya), karena fitnah yang terjadi akibat membuka wajah itu lebih besar dan lebih banyak daripada fitnah yang muncul akibat nampaknya sehelai rambut dari rambut kepalanya atau sebuah kuku dari kuku-kuku kakinya.”

Sedangkan keringanan membuka wajah yang terdapat dalam surat Al Ahzab : 59 di atas diberikan kepada para hamba sahaya, supaya bisa dikenali mana wanita merdeka dan mana yang budak, sebagaimana kejadian yang terjadi pada zaman ‘Umar bin Khaththab. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

– Fathul Qadir IV/356.

– Aisarut Tafasir IV/222.

– Ahkamul Quran III/483.

– Jami’ Ahkamin Nisa’ IV/487-488.

– Rawai’ul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam II/383.

– Jami’ Ahkamil Quran XIV/215.

– Jami’ul Bayan XII/57.

– Tafsir Al Baghawi III/469.

– Fatawa An Nisa’ hal. 91.

– Fiqhul Mar’ah Al Muslimah hal. 603.

– Fatawa Al Lajnah Ad Daimah XVII/141-170.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *