December 07, 2016

Jarak Diperbolehkan Mengqashar Shalat

Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, bahkan sampai 20 lebih pendapat, namun di sini kami ketengahkan beberapa pendapat dari kibarul fuqaha’ mengenai jarak diperbolehkannya mengqashar shalat :

  1. Pendapat yang menyatakan bahwa jarak yang diperbolehkan qashar adalah 3 (tiga) hari 3 (tiga) malam dari hari-hari yang paling singkat di dalam satu tahun dengan berjalan kaki ringan. Pendapat ini tidak mensyaratkan berjalan sepanjang hari sampai malam, tapi cukup hanya sampai waktu zawal (tergelincir matahari/sekitar 85,5 KM) inilah pendapat yang diambil oleh Abu Hanifah, As Syafi’i (dalam salah satu ucapannya), ‘Utsman Bin Affan dan Ibnu Mas’ud dikiaskan pada hadits :

لاَيــَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُـؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ مَحْرَمٍ – البخارى

Tidak halal bagi seseorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir bersafar melebihi tiga hari kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari)

  1. 4 (empat) burud/16 farsakh/48 mil/marhalah/kurang lebih 77 km. Pendapat ini dipegang oleh Imam Syafi’i, Malik, Al Laits, Al-Auza’i, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Syaikh Abu Bakar Al Jazairi, berdasarkan sebuah hadits :

Janganlah kalian mengqashar shalat kurang dari empat burud.“ (HR. Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah secara mauquf).

  1. 3 mil berdasarkan sebuah hadits :

كَانَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيْرَةَ ثــَلاَثــَةِ أَمْيَالٍ أَوْ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ( رواه مسلم )

“Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam apabila keluar (safar) sejauh perjalanan 3 mil atau 3 farsakh, beliau shalat dua raka’at.” (HR.Muslim)

 Dan Hadits:

“Bahwasanya Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam apabila bersafar sejauh 3 mil/1 farsakh beliau shalat dua raka’at.” (HR. Sa’id bin Manshur dari Abi Said).

 Dan masih banyak pendapat para ulama lain mengenai batasan bolehnya mengqashar shalat, namun hadits yang dikemukakan pada nomor 2 dan 3 telah menunjukkan kepada batasan diperbolehkannya mengqashar shalat tapi dipakai untuk dalil masalah yang lain.

 Adapun pendapat yang paling rajih mengenai hal ini adalah apa yang diambil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al Jauziyyah bahwasanya tidak ada batasan tertentu pada jarak yang diperbolehkan mengqashar shalat karena perkataan antara safar yang jauh dan yang pendek tidak ada dasarnya dari kitabullah dan sunnah Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wasallam . Maka kata safar/pengertian safar dikembalikan kepada ‘urf (kebiasaan). Maka safar yang sering dilakukan oleh manusia itulah yang dimaksud safar dalam hal ini. Di samping hal tersebut di atas juga tidak didapati dalil yang sharih (jelas) dan shahih yang membatasi jarak yang diperbolehkan qashar. Bahkan Al-Musyarri’ (Allah) membolehkan safar dan tidak membatasinya dengan waktu maupun dengan jarak. Maka setiap sesuatu yang dihitung sebagai safar diperbolehkan qashar.

Dan seyogyanya bagi kita untuk senantiasa menghormati pendapat orang lain yang berbeda dengan kita selama mereka memiliki dalil yang bisa dipertanggung jawabkan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

  • Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram II/539-542.

  • Al Muhalla Jilid 3 V/3-24.

  • Yas’alunaka Fiddien Wal Hayah II/29.

  • Hadyur Rasul Mukhtashar Zadil Ma’ad hal. 90.

  • Takammulah Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab V/419-430.

  • Rawai’ul Bayan Tafsir Ayatil Ahkam I/905.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *