December 07, 2016

‘ashabiyyah

Ashabiyyah atau fanatik golongan atau semangat membela dan memegang teguh suatu golongan, baik partai, kelompok (organisasi), madzhab, etnis (kabilah atau kaum) dan yang lainnya merupakan sifat yang tercela, karena ‘ashabiyyah inilah orang-orang terdahulu enggan menerima dakwah para nabi, karena mereka terlalu fanatik terhadap keyakinan mereka.

Allah Ta’ala berfirman :

وَإِذَا قِيٍلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَي مَاأَنْزَلَ اللهُ وَإِلَى الرَّسُوْلِ قَالُوْا حَسْبُنَا مَاوَجَدْنَا عَلَيْهِ أَبَآءَنَا أَوَلَوْكَانَ أَبَآءُهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ شَيْئاً وَلاَيَهْتـَدُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Kemarilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul !”, mereka menjawab,”Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya” apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk ?.”(Q.S. Al-mai’dah :104).

ketika Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam mendengar salah seorang sahabat Anshar berkata dalam salah satu peperangan, “Rasakanlah pukulan dari kaum Anshar !”. Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam langsung menjawab, “ Jangan berkata seperti itu, tapi katakanlah “ rasakanlah pukulan dari kaum muslimin !“”.

 Dan ayat-ayat lainnya yang menerangkan tentang ta’ashshubnya mereka kepada nenek moyang mereka dalam hal keyakinan.

 Sikap ‘ashabiyyah terhadap kelompok, kabilah, dan keyakinan pulalah yang mendorong orang-orang Quraisy menolak dakwah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam, Al Mughirah bin Syu’bah berkata, “Sesungguhnya, pertama kali saya mengenal Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam ialah tatkala saya bersama-sama Abu Jahal bin Hisyam berjalan di lorong-lorong kota Makkah, tiba-tiba kami bertemu dengan Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam. Maka beliau Shollallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Jahal, ”Wahai Abul Hakam, kemarilah menuju Allah dan Rasul-Nya!.” Abu Jahal berkata, ”Wahai Muhammad tidakkah kamu berhenti dari mencaci-maki sesembahan kami?, Apakah kamu ingin menyaksikan kami semua menyaksikan dakwah yang kamu sampaikan ?, Demi Allah, meski aku mengetahui dakwah yang kamu sampaikan benar, saya tidak akan mengikutimu.” Maka Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam berpaling dan pergi. Lalu Abu Jahal menghadap ke arah saya dan berkata, “Demi Allah, saya tahu yang dia sampaikan itu benar. Akan tetapi, Bani Qushay berkata, “Kita yang mempunyai hijabah (penjagaan pintu ka’bah) ?” Kami menjawab, “Ya..!” Mereka berkata, “Kita yang mempunyai nadwah (majelis permusyawaratan Quraisy) ?” Kami menjawab, “Ya..” Mereka berkata, “Kita yang mempunyai liwa’ (bendera) perang Quraisy.?” Kami menjawab, “Ya..” Mereka berkata, “Kita yang bertanggung jawab atas siqayah (memberi minum jama’ah haji) ?” Kami menjawab, “Ya..” Kemudian mereka semua makan maka kamipun makan, hingga orang yang hadir semakin hiruk pikuk dan ramai lantas mereka pun berkata, “Kami mempunyai Nabi, ketahuilah jika demikian lantas apa bagianmu ?” “Sekali – kali saya tidak akan melakukannya dan saya tidak akan mengakuinya sebagai Nabi.” (Riwayat Yunus bin Bakar, kitab as Siyar wal Maghazi).

Karenanya, ketika Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam mendengar salah seorang sahabat Anshar berkata dalam salah satu peperangan, “Rasakanlah pukulan dari kaum Anshar !”. Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam langsung menjawab, “ Jangan berkata seperti itu, tapi katakanlah “ rasakanlah pukulan dari kaum muslimin !“”.

 Lihatlah, bagaimana Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam menyuruh shahabat Anshar untuk merubah perkataannya, padahal waktu dalam kondisi perang, karena beliau takut ashabiyyah golongan kembali muncul dalam barisan kaum muslimin. Sebagaimana pernah terjadi kabilah Aus dan Khazraj (yang pada zaman jahiliyyah terus berperang) hampir saja kembali berperang karena kaum munafik dan Yahudi menggembosi mereka dan membangkitkan kembali fanatisme golongan mereka dengan menyenandungkan syair–syair mereka pada zaman jahiliyyah mengenai kisah peperangan yang telah mereka lalui.

 Karena ‘ashabiyyah juga kebanyakan kaum muslimin yang mengikuti berbagai madzhab senantiasa berseteru dan menganggap madzhabnya paling benar. Hal inilah yang menjadi faktor intern melemahnya kekuatan Islam (perseteruan antar madzhab).

Kesimpulan

Ashabiyyah adalah perkara dan akhlak jahiliyyah yang tercela, seyogyanya bagi seorang muslim untuk tidak bertakhalluk (berakhlak) dengan sifat tersebut, karena sifat ini bisa menutup pintu hidayah, melemahkan kaum muslimin dan memunculkan permusuhan diantara mereka. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

  • Al Quranul Karim
  • Al Ghuraba’ Al Awwalun

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *