December 05, 2016

Hukum Mendahului Imam Sholat

Dalam shalat berjama’ah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melarang bagi makmum untuk mendahului imam dalam rukun-rukun shalat seperti rukuk atau sujud, beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي إِمَامُكُمْ فَلاَ تَسْبِقُوْنِي بِالرُّكُوْعِ وَلاَ بِالسُّجُوْدِ وَلاَ بِالْقِيَامِ وَلاَ بِاْلاِنْصِرَافِ إِنِّي أَرَاكُمْ أَمَامِي وَمِنْ خَلْفِي – مسلم

Wahai manusia! Sesungguhnya aku imam kalian maka janganlah mendahuluiku dengan rukuk, sujud, dengan berdiri atau dengan berpaling (bubar), sesungguhnya aku melihat kalian (ketika shalat) di depan dan dari belakangku.” (HR. Muslim).

 Beliau shollallahu ‘alaihi wasallam juga mentahdzir (memperingati) bagi yang mendahului imam, beliau shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

أَمَّا يُخْشَي أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يُجْعَلَ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يُجْعَلَ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَارٍ.

Adapun yang di takutkan salah seorang diantara kalian adalah apabila ia mengangkat kepalanya sebelum imam, Allah akan menjadikan kepalanya kepala keledai atau mengubah wajahnya menjadi wajah keledai.” (HR.Bukhari)

 Hadits-hadits di atas menunjukkan keharaman mendahului imam sebagaimana yang dikatakan Ibnu Hajar dalam kitab fathul bari, namun beliau berpendapat bolehnya (sah) shalat makmum tersebut tetapi pelakunya berdosa, adapula pendapat yang mengatakan bahwa shalatnya batal baik karena lupa, sengaja atau karena tidak tahu hukumnya, sebagaimana pendapat Imam Ahmad dalam suatu riwayat, namun yang rajih ialah apabila si makmum sengaja melakukannya maka shalatnya batal tetapi apabila ia melakukanya karena lupa, atau tidak tahu hukumnya maka shalatnya sah.

Imam Syafi’i berkata, ” Barang siapa yang bertakbiratul ihram sebelum imamnya maka shalatnya batal”.

 Ibnu Taimiyah menambahkan agar ia (ma’mum) kembali keposisi semula supaya bisa mengikuti imam, inilah pendapat yang diambil para fuqaha’, diantaranya Ibnu Umar, Imam Ahmad (dalam riwayat yang lain), Ibnu Taimiyah dan para ulama’ anggota lajnah ad daimah lilbuhuts al ‘ilmiyah wal ifta’ yang berkedudukan di Arab Saudi.

 Adapun mengenai orang (ma’mun) yang mendahului imam ketika takbiratul ihram semua ulama’ sepakat batalnya shalat orang tersebut. Imam Syafi’i berkata, ” Barang siapa yang bertakbiratul ihram sebelum imamnya maka shalatnya batal”. Ibnu Qudamah berkata dalam asy syarhul kabir, ”Apabila ia bertakbir sebelum imam maka shalatnya belum dimulai dan wajib atasnya mengulangi takbir setelah takbirnya imam.”

 Begitu pula dengan menyamai imam (muwafaqah) dalam ucapan dan perbuatan seperti bertakbiratul ikhram secara bersamaan baik makmum berhenti duluan atau sama dengan imam, maka hal ini adalah makruh, dan adapula yang berpendapat bahwa shalatnya batal sebagaimana yang diriwayatkan dari fuqaha’ madzhab yang empat, namun yang rajih adalah makruh, karena fa’ dalam lafazh hadits ”faidza kabbara fa’kabbiru” dan yang semisal adalah litta’qib (penyertaan) wal isti’jal (penyegeraan) jadi apabila imam takbir maka ma’mum takbir setelah imam memulainya meskipun berhenti bersamaan, namun yang sesuai sunnah hendaknya bertakbir dan yang lainnya setelah imam.

 Adapun mengenai terlambatnya makmum dalam mengikuti imam sehingga ketinggalan satu raka’at atau lebih maka shalatnya sah jika terdapat udzur seperti, mengantuk, lalai, atau imam yang terlalu cepat, begitu pula jika ia ketinggalan kurang dari satu raka’at dan dapat menyusul imam maka tidak mengapa (shalatnya sah), tetapi jika makmum sengaja melambatkan diri dari imam tanpa udzur maka shalatnya tidak sah. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

  • Fathul Bari II/182.

  • Al Umm I/165.

  • Majmu’atul Fatawa Libni Taymiyyah XXIII/338.

  • Takammulah Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab I/331.

  • Fatawa Al Lajnah Ad Daimah VII/415.

  • Shalatul Jama’ah wa Ahkamuha Hal. 159

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *