December 07, 2016

Melaksanakan Shaum Senin Kamis Dan Shaum Daud Dalam Waktu Bersamaan

Dalam hal ini sama halnya dengan pertanyaan “Apa hukumnya melaksanakan dua ibadah yang bersamaan dengan dua niat (melakukan dua pekerjaan dengan dua fungsi) ?”

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِءٍ مَانَوَي

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada niatnya dan hanyasanya bagi setiap orang apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

Berdasarkan hadits di atas dapat diambil istimbath hukum bahwa satu amalan itu harus disertai niat, bila amalan tanpa adanya niat menandakan amalannya tidak sah.

Fungsi niat ialah untuk membedakan suatu ibadah dengan ibadah yang lain dan untuk membedakan adat kebiasaan, dan adapun niat tempatnya di hati bukan di lisan.

Berkata Hanafiyyah,”Adakalanya terkumpul antara dua ibadah itu menempati :

1. Di dalam wasail ( sarana ), maka semua sarananya itu benar. Misal bila orang mandi junub pada hari jum’at untuk shalat jum’at dan untuk menghilangkan janabat maka orang itu mendapatkan :

a. Hilangnya janabat.

b. Mendapat pahala atas mandi untuk shalat jum’at.

2.

Di dalam maqashid (tujuan ), berdasarkan maqashid / niat terbagi menjadi tiga :

a. Meniatkan fardlu dengan fardlu ( tidak sah ).

b. Meniatkan sunnah dengan sunnah ( sah ).

c. Meniatkan fardlu dengan sunnah, yang dimenangkkan fardlunya dan batallah sunnahnya.

Berkata Imam As Suyuthi, “ Meniatkan sunnah dengan sunnah itu sah dengan dua syarat :

  1. Suatu ibadah yang pelaksanaan waktunya berbeda maka tidak sah niatnya. Misal orang yang mengqadha semua fajar pada shalat dhuha, dia shalat sunnah fajar dan shalat dhuha.
  2. Suatu ibadah yang pelaksanaan waktunya bersamaan, maka niatnya sah misal shaum senin–kamis bersamaan dengan shaum dawud.”

Kesimpuan :

Jadi meniatkan dua ibadah dalam satu pelaksanaan sah, apabila ibadah itu sunnah dengan sunnah. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

– Al Wafi Babin Niyyah hal. 218-219.

– Al Isyarat Wan Nazhair hal. 39.

– Fiqhul Islam I/494.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *