December 09, 2016

Berobat Dengan Khamr

Dikarenakan semakin majunya dunia medis dalam ilmu pengobatan saat ini, hampir tidak ada penyakit yang tidak ditemukan obatnya. Segala macam obat untuk berbagai penyakit telah tersedia. Namun sayangnya ada sebagian obat yang masih membuat kita bimbang. Dikarenakan adanya unsur alkohol atau khamer sebagai komposisi obatnya. Bahkan banyak beredar obat batuk yang mengandung alkohol. Lalu apakah kita masih boleh menggunakan obat yang mengandung khamer tersebut? Mari kita simak penjelasannya.

Dalam hal ini ada dua pendapat yang harus kita ketahui.

Pendapat pertama : adalah pendapat jumhur ulama’ yang mengharamkannya dengan dalil QS Al-Maidah: 90.

يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَاْلمَيْسِيْرُ وَاْلأَنْصاَبُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتــَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْـــــلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berqurban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kalian  beruntung. “ (QS. Al-Maidah: 90).

Ayat ini mutlak mengharamkan khamr dan mendekatinya, pendapat ini juga dikuatkan berdasarkan hadits :

عَنْ أَبِي دَرْدَاءَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ دَاءً وَدَوَاءً وَجُعِلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَتــَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِاْلحَرَامِ

Dari Abu Darda radiyallahhu anhu ia berkata, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ta’ala menurunkan penyakit dan obatnya serta menjadikan obat bagi tiap-tiap penyakit maka berobatlah dan janganlah kalian berobat dengan barang yang haram!” (HR. Abu Daud).

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Tariq bin Suwaid Al Jufri yang bertanya tentang khamr sebagai obat, maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda :

إِنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءَ وَلَكِنَّ دَاءً

“Sesungguhnya khamr itu bukan obat tetapi  penyakit.”

Dan hadits lainnya yang senada artinya dengan hadits di atas yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi.

 

Pendapat kedua : adalah pendapat yang membolehkan berobat dengan khamr, dengan mengkiaskan antara khamr dan barang-barang yang diharamkan seperti bangkai dan darah yang hukumnya haram akan tetapi boleh ketika dalam kondisi terpaksa. Mereka mengambil dalil dari sebuah qaidah fiqih :

الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Sesuatu keterpaksaan menjadikan boleh apa-apa yang dilarang.”

Jadi khamr yang hukum aslinya haram menjadi mubah karena mudhthar (terpaksa).

Namun pengkiasan di atas didhaifkan karena beberapa sebab, yaitu: bahwa mudhthar yang memakan bangkai, itu karena yakin dengan cara itu tulang punggungnya menjadi tegak dan bebas dari keterpaksaan, sedangkan penggunaan khamr sebagai obat belum tentu ia menjadi sembuh. Bahkan menurut hadits riwayat Muslim tadi justru ia adalah penyakit. Dan madzhab yang mewajibkan memakan bangkai ketika mudhthar hanya sedikit dan lebih banyak memilih sabar ketika kondisi terpaksa memakan bangkai itu menjadi wajib. Sedangkan berobat dengan barang haram itu tidak wajib.

Adapun obat-obat yang mengandung alkohol hukum aslinya tetap haram, karena alkohol masuk dalam macam-macam  khamr, namun jika dalam keadaan darurat syaikh Abdullah Nasih Ulwan mengatakan boleh dengan syarat:

  1. Adanya bahaya yang besar bagi kesehatan jika obat ini tidak digunakan.
  2. Apabila tidak ditemukan obat yang halal selain itu.
  3. Obat itu harus diteliti oleh seorang dokter muslim yang terpercaya Dien dan keadilannya.

Kesimpulan :

      Haramnya berobat dengan khamr dalam bentuk apapun, kecuali dalam keadaan darurat tetapi labih baik bersabar sebagaimana jariyah yang banyak memilih sabar ketika menderita penyakit epilepsy (ayan) dengan balasan jannah dalam hadits sahih riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan juga contoh keteladanan dari kesabaran Abu Dzar Al-Ghifari, Ubay Bin Ka’ab dan Urwah bin Zubair radiyallahu anhum.

 

 Wallahu a’lam bishshawab.

            Referensi :

  • Majmu’atul Fatawa XII/148.
  • Fiqhus Sunnah I/245.
  • Shahih Muslim Bisyarhin Nawawi VII/130.
  • Zadul Ma’ad IV/120
  • Sunan At Tirmidzi III/343.
  • Tarbiyyatul Awlad II/963.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *