December 07, 2016

Merenungi Tujuh Detik

Hanya cukup dengan tujuh detik saja, tapi jangan tanya akibat yang ia timbulkan yang berupa kesedihan dan kerusakan serasa sepanjang masa.

Berlangsung sangat cepat. Namun akibat yang ia tinggalkan berlangsung selama bertahun-tahun lamanya. Kehancuran dan kerusakannya pun tidak bisa dilupakan oleh manusia.

Gempa bumi, tsunami atau gunung yang meletus dalam hitungan detik dan waktu yang sekejap, namun meninggalkan kematian beribu-ribu orang dan juga menyebabkan banyak orang kehilangan harta mereka.

Lalu siapakah yang memerintahkan dan menaqdirkan hal tersebut ? pertanyaan yang jawabannya tidak perlu berfikir panjanga tentunya.
Kesemuanya adalah prajurit dari prajurit-prajurit Allah yang maha kuasa. Sebagai bukti kepada kita akan kekuataNya yang tak terkalahkan, kebesaranNya yang agung dan supaya kita merasa dan sadar akan sifat  lemah kita.

Karena jika tidak mengambil ibrah dari orang lain maka kitalah yang dijadikan sebagai ibrah oleh orang lain.

Sungguh benar firman Allah Ta’ala dalam kitabNya :

“Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi.  Q.S Al Fath 4

Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhan-mu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia. Q.S Al Mudassir : 31

“Dan bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” Q.S Al Baqoroh 165

Sebuah teguran bagi kita yang mau sejenak memikirkan dan mendalami ayatnya.

Allah telah menunjukkan kepada kita beberapa kejadian yang sangat singkat tentang bagaimana kekuatannya, kekuasaannya dan kemarahannya, lalu apakah kita sudah mengambil i’tibar dari itu semua?

Kematian selalu siap untuk merenggut nyawa kita dengan berbaga cara, entah itu dengan tertimpa penyakit, kecelakaan, banjir bandang, kemarau berkepanjangan yang menyebabkan kelaparan, badai, atau bisa saja dengan adanya suatu peperangan yang sangat tidak kita sukai. Sebuah kesombongan jika kita masih bergelimang maksiat dan  merasa aman dari kekuasaanNya.

Lalu apakah kita masih belum bisa mengambil i’tibar dari ini semua?

Bukankah menjadi sebuah hal yang “ajib” jika semua kejadian yang telah kita lihat itu masih saja tidak membekas dalam diri kita? Inilah waktunya bagi kita untuk memperbaiki diri kita jangan sampai ditimpakan kepada kita sebagaimana yang telah ditimpakan kepada orang-orang dholim yang telah lampau.

Sudah waktunya untuk kita memperbaiki hubungan antara kita dan tuhan kita. Kita menjaga Allah agar supaya Allah menjaga kita. Hanya dengan perlindunganNya kita bisa merasa aman, hanya dengan rizqiNya kita bisa merasa kenyang.

“dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” Q.S Hud 102

Sudah waktunya untuk kita mengambil i’tibar dari semua ini. Karena jika tidak mengambil ibrah dari orang lain maka kitalah yang dijadikan sebagai ibrah oleh orang lain.

Wallahu a’alam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *