December 09, 2016

Apakah Termasuk Khalwat Pembicaraan Antara Laki-laki dan Perempuan Lewat Telpon?

Masalah ini di kembalikan pada hukum asal suara wanita dan muamalah dengan mereka. Pada dasarnya suara perempuan tidak termasuk aurat (menurut pendapat yang rajih ), karena kita diperbolehkan bermuamalah dengan mereka yang semuanya tidak lepas dari pendengaran terhadap suara mereka seperti berjual beli, memberi kesaksian dll.

Hal ini diperkuat dengan fi’il Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para shahabat yang mana mereka pernah berbicara dengan ajnabiyyah dari kalangan shahabiyyah, namun demikian Imam Ahmad berpendapat bahwa suara perempuan adalah aurat beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala :                 

وَلاَيَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka menghentakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan !” (QS. An nur : 31)

Beliau berpendapat kalau menghentakkan kaki sudah dilarang karena akan menimbulkan fitnah dari suara gemerincing gelang kakinya, maka suara mereka lebih besar lagi fitnahnya. Mereka juga berdalih dengan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam:

وَاْلآذَانُ زِنَاهُمَا السِّمَاعُ 

“Dan kedua telinga zinanya mendengar” (HR .Bukhari)

Dan juga hadits yang mengatakan bahwa perempuan itu seluruhnya aurat (HR.Tirmizdi ).

Tetapi pendapat yang petama adalah yang lebih rajih ini dilihat dari beberapa segi :

  1. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan para sahabat pernah berbicara dengan ajnabiyyah dalam mu’amalah.
  2. Kalaulah suara wanita itu aurat tentulah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang mereka bermu’amalah dengan ajnabi dan para ulama’ akan melarang mereka juga dari berjual-beli, dan sebagainya.
  3. Maksud dari hadits bahwa kedua telinga zinanya mendengar bukan berarti mendengar suara wanita secara mutlak, tetapi suara mereka yang menimbulkan fitnah dan syahwat seperti : desahan, rayuan dan lain-lain.
  4. Pendapat ini di perkuat dengan firman-Nya dalam surat Al-ahzab :53
  5. Hadits yang menerangkan bahwa perempuan seluruhnya aurat memang benar (dan ini lebih rajih ) bahkan  imam Ahmad dan Syafi’i berpendapat termasuk  kedua telapak tangan dan wajah kecuali satu  mata untuk melihat jalan, tetapi suara mereka keluar dari keumuman  hadits ini. Sebagaimana disebutkan tadi bahwa mereka boleh berjual beli berdasarkan ketetapan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dengan batasan yang telah di jelaskan oleh para ulama.

Berkaitan dengan berbicara dengan ajnabiyyah lewat telpon itu di perbolehkan dengan beberapa ketentuan, diantaranya :

  1. Tujuan dari dia berbicara, jika bertujuan menyatakan hal – hal yang mengandung syahwat dan fitnah, atau untuk taladzdzudz (menikmati) suara ajnabiyyah maka tidak diperbolehkan.[1]
  2. Isi pembicaraan, jika hal – hal yang mengandung fitnah dan syahwat juga tidak di perbolehkan.
  3. Perbuatan pelaku tatkala menelpon, jika sembunyi – sembunyi dan tujuan pembicaraannya sesuatu yang terlarang maka itu termasuk khalwat yang diharamkan.
  4. Berbicara sekedarnya dan sesuai dengan kebutuhan, jika tidak ada kebutuhan hukumnya makruh karena akan menimbulkan fitnah.
  5. Bagi perempuan tidak boleh merendahkan suaranya  sehingga  menimbulkan fitnah berupa bisikan – bisikan hati ajnabi atau semisalnya, apalagi jika menimbulkan suara seperti mendesah.
  6. Bagi para pemuda dan pemudi lebih baik menjauhinya, kalau ada  kebutuhan dan  hal itu masih bisa diwakilkan kepada yang lain (seperti orangtua, adik/kakak yang sejenis dengan lawan bicara, asatidz yang dipercaya ketsiqahannya)  maka diwakilkan itu lebih baik, apalagi ketika tidak ada kebutuhan.
  7. Ketentuan ini juga berlaku dalam praktek mu’amalah sehari – hari dengan para ajnabiyah dengan batasan  lain yang telah dipaparkan para ulama, tapi dalam masalah ini cukup sampai ketentuan diatas.
  8. Haram menyalah gunakan fatwa para ulama’.

 Wallahu a’lam bishshawab.    

Referensi :

–          Fiqih sunnah linnisa IV/401

–          Jamiul Ahkam linnisa  IV/336

–          Tafsirul ayatul ahkam  III/166

–          Jamiul Bayan X/154

–          Syarah shahih Bukhari IX/57

–          Fatawa Al Lajnah Ad Daimah XVII/219



[1] Walaupun ketika berbicara dia tidak membicarakan hal – hal yang haram, tapi dilihat dari tujuannya maka dia sudah terjatuh pada hal yang diharamkan.- Ed.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *