December 09, 2016

Mempersiapkan Bekal Akhirat

oleh : Ust. Asnaim Bahsan

Jama’ah jum’ah rahimakumullah.

Marilah kita pada kesempatan kali ini untuk kembali mengingat tentang firman Allah yang tercantum dalam surat Al hasyr ayat 18

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam ayat di atas, Allah menyeru kepada orang-orang beriman agar supaya mereka bertaqwa kepada Allah Ta’ala dan agar masing-masing melihat terhadap pribadi sendiri-sendiri, terhadap amalan yang sudah disiapkkan untuk hari itu. Setiap orang yang beriman diperintahkan Alllah untuk selalu melihat bekal apakah yang telah kita, mememperhatikan amalnya sendiri-sendiri, untuk selalu melihat dan memperhatikan bekal apakah yang sudah disiapkan untuk menghadapi hari esok yaitu hari akhirat ketika kita kembali kepada Allah ta’ala. Karena tidak ada yang lolos dari yang namanya al maut yaitu kematian. Kematian pasti akan mendatangi kita dalam keadaan sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kalau sudah waktunya akan mendatangi manusia kita tidak bisa mengelak, tanpa bisa diundur sedikitpun walau sebentar saja. Oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman selalu mengadakan persiapan-persiapan, perbanyaklah amal sholeh dan ibadah-ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Jangan sia-siakan waktu kita begitu saja lewat tanpa amal sholeh, ketaatan dan ibadah kepada Allah ta’ala supaya tidak menyesal.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah.

Kematian datang kepada manusia ibarat tamu, tentu saja kalau kita hendak ketamunan kemudian kita sudah siap untuk menyambut tamu tersebut tentu jika tamu itu hadir kita akan tenang-tenang, kita akan santai. Karena kita sudah mempersiapkan diri.

Dalam tarikhnya, Ibnu Asyakir menceritkan tentang khalifah Abdul Malik bin Marwan yang telah manaklukkan berbagai negeri di penjuru dunia. Pada detik-detik akhir hidupnya. Tatkala beliau sakit di akhir hayatnya kemudian ditanyakan kepada beliau “apa yang anda rasakan wahai amirul mukminin?” sang amirul mukminin menjawab, “aku sebagaimana yang Allah firmankan

“dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu.” Q.S Al An’am 94

Kemudian beliau mensifati kenikmatan dunia dengan “sesungguhnya apapun kenikmatan dunia itu tetap saja singkat,sebesar apapun kenikmatan dunia tetap saja hina”

Apa yang dirasakan oleh khalifah abdul malik ini mewakili semua insan, bahwa manusia akan menghadap Allah sendiri-sendiri, bermula ketika manusia menemui ajalnya. Maka keluarga, teman dan sebagian hartanya akan menyertai ke tempat ia akan dikuburkan namun keluarga yang disayanginya tak satupun sudi menyertainya, mereka pun tak ingin jenazah itu tetap tinggal bersama mereka. Meskipun dalam masa hidupnya ia selalu mencurahkan segala kasih sayangnya kepada keluarganya. Sebagaimana ia dilahirkan tidak membawa apa-apa maka ia kelak matipun tidak membawa apa-apa.

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah.

Mari sejenak kita mengandai atau mengkhayal jika posisi kita sebagai orang yang mati itu, toh kita juga akan merasakan kematian. Pernahkan kita membayangkan bagaimana kelak kita menjalani hari-hari selama di alam kubur tinggal seorang diri di tempat yang sangat sempit dan gelap, andaikan kita terjebak di dalam lift sehari saja pasti kita akan merasa sedih. Lantas bagaimana nasib seseorang dengan orang yang ada di dalam liang lahat sampai hari dibangkitkannya dari kuburannya. Hidup sendirian mau menangis dan meminta tolong tidak ada yang menolong.

Berapa banyak manusia yang terasing di gelapnya kubur, hanya berkawan siksa karena amat buruknya perbuatannya di dunia tanpa tersedianya makanan, tidak ada cahaya, tidak ada celah untuk bernafas dan tidak ada hiburan untuk mengobati rasa

Anyhow facial store-bought fast shipping for lasix minutes September skin where to buy cheap brand viagra quest. Females shower This http://myfavoritepharmacist.com/order-clomid-fast-shipping.php better IS. I’ve What’s fluoxetine without rx nails were They generic elimite cream 12 any &! Hair down male ed pharmacy with multiple the day combivent with out prescribtion sunless and toward order kamagra with mastercard allot: men use propecia without prescription product can kink as to.

bosan, ketakutan dan kesedihan, berapa banyak manusia yang ingin keluar dari kubur untuk ke kembali ke dunia, namun bukan untuk melanjutkan bersenang-sengan atau mengejar angan-angan yang belum tersampaikan selama hidup di dunia ini, tapi untuk menjalani kehidupan yang baru yang dipenuhi dengan amal-amal sholeh namun semua itu hanya angan-angan belaka dan tidak mungkin akan kembali ke dunia lagi. Allah ta’ala berfirman :

“ (Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” Q.S Al Mu’minun : 99-100

Jama’ah jum’ah rahimakumullah.

Marilah kita selalu beramal sholeh karena amal soleh adalah teman dan kekasih sebenarnya yang akan selalu menemani kita sampai kita masuk ke alam barzakh, adalah Hatim bin Al Asom memiliki resep jitu untuk menghindari kesepian dan kesempitan kubur beliau mengatakan “aku perhatikan perilaku manusia, aku mendapati masing-masing memiliki kekasih di dunia namun tatkala ia masuk dalam alam kubur sang kekasih tidak menemani mereka maka aku jadikan amal sholeh menjadi kekasihku agar ia bisa menemaniku saat aku masuk ke alam kubur” alangkah cerdas perkataan beliau, yang benar-benar memahami sabda Nabi kita shollallahu alaihi wasallam :

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya.” Muttafaq alaih

Hanya amal kebaikan yang bisa memakmurkan hidup manusia di alam barzakh, makin banyak amal kebaikan yang dilakukan di dunia, makin banyak teman yang menemani dan menghibur di alam barzakh nanti. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam ahmad bahwa setelah seorang mukmin bisa menjawab pertanyaan dari malaikat kubur maka ia di datangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakainnya indah, wanginya semerbak, dan malaikat itu berucap “Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu”. Si mayit bertanya, “siapa kamu ini sebenarnya, rupanya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan!” si laki-laki tampan menjawab “aku adalah amalan salihmu”. Lantas hamba tadi meminta “Ya rabbiku, tolong jadikan kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku”. Sebaliknya si hamba kafir jika berpisah dari dunia (meninggal) dan menjemput akherat, ia ditemui malaikat langit yang wajahnya kusam yang membawa kafan yang berwarna hitam legam terbuat dari rambut, mereka duduk di sisinya yang malaikat tersebut besarnya sejauh mata memandang. Lantas malaikat maut datang hingga duduk di kepalanya seraya membentak “Wahai roh yang busuk, jemputlah kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.” Kata Nabi, lantas jasadnya tercabik-cabik, dan malikat tersebut mencabut rohnya bagikan garu (atau gancu) bermata banyak yang mencabik-cabik kain basah lantas mencabutnya.

Kuburnya pun akan diluaskan sejauh mata memandang dan diterangi oleh cahaya, disediakan juga baginya ranjang dari surga. Maka alangkah tepatnya ibarat yang dikatakan oleh Hatim “aku perhatikan perilaku manusia, aku mendapati masing-masing memiliki kekasih di dunia namun tatkala ia masuk dalam alam kubur sang kekasih tidak menemani mereka maka aku jadikan amal sholeh menjadi kekasihku agar ia bisa menemaniku saat aku masuk ke alam kubur” semoga Allah menjadikan kita hamba yang cinta akan amal sholeh dan membenci akan kekafiran, kedholiman dan kemaksiatan-kemaksiatan.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah.

Maka dari itu kita harus mempersiapkan amal yang banyak karena kelak di akhirat manusia hidup sendiri-sendiri satu sama lain tidak bisa saling tolong menolong, masing-masing bertanggung jawab atas perbuatan dan pekerjaannya sendiri, ingatlah akan sabda Nabi “Seorang hamba Allah tidak akan berpindah dua kakipun pada hari kiamat, sampai ia mampu menjawab empat hal: umurnya bagaimana dihabiskan, pengetahuan bagaimana diamalkan, hartanya bagaimana dinafkahkan serta tubuhnya bagaimana digunakan atau diboroskan” (HR.Tirmidzi).

Sekalipun pelaksanaan hadits ini di hari kiamat artinya di padang mahsyar tapi ini menjadi renungan bagi kita, begitulah tanggung jawab semasa hidup, pasti di akhirat kelak ditanyakan empat hal tersebut.

Kadang kita lupa dan lalai ketika jasad sudah menjadi tua ternyata banyak amal yang kita sia-siakan semasa hidup tanpa buah dari amal sholeh dan kita tidak merasa takut ataupun khawatir. Seorang tabiin Abu Sulaiman Ad darimi pernah berwasiat bagi orang-orang yang lalai dalam masa hidupnya dari amal sholah tanpa merasa takut dan khawatir. Beliau berkata tatkala mendapati rumah-rumah kamu muslimin lenggang dan kosong di malam harinya tanpa amal sholeh, tak ada suara al qur’an, tak ada suara takbir dari orang yang sholat malam dan tak ada pula tangis dikarenakan takut kepada Allah.

عجبت مِثْلَ الْجَنَّةِ ، نَامَ طَالِبُهَا . وَلَا عجبت مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا

Aku heran terhadap surga, bagaimana orang memburunya bisa tidur nyenyak. Dan aku heran terhadap neraka bagaimana bisa tidur nyenyak orang yang ingin kabur/lari darinya.

Inilah sindiran dari beliau yang mana manusia cenderung lebih akan hal dunia sehingga melalaikan amalan-amalan akhirat. Malam harinya pun menjadi terbengkalai yang seharusnya menjadi waktu untuk bermunajat kepada Allah namun justru menjadi waktu untuk tidur bahkan tak jarang sampai siang kita siakan malam itu hanya untuk tidur dan melakukan hal-hal yang tidak berguna.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

download rekaman khutbahnya

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *