December 09, 2016

Teladan Sayyidina Umar Dalam Amar Ma’ruf

Ketika kita sedang sakit pasti dalam diri kita  ada sebuah perasaan agar supaya  diperhatikan lebih oleh orang lain, meminta orang lain untuk lebih mementingkan diri kita  dibandingkan yang lainnya. Dan juga ada fikiran bahwa ketika kita sakit maka kita tidak dibebani kewajiban-kewajiban, baik sholat, atau menginggalkan amar makruf nahi munkar atau  dakwah. Dikarenakan kita merasa lebih berhak untuk diperhatikan.

Ketika kita sedang sakit dan melihat kemaksiatan, kita cenderung diam saja. Padahal kewajiban itu akan terus ada di pundak kita sampai kita mati dan sakit bukanlah alasan untuk meninggalkannya.

Adalah Amirul Mukminin Umar bin Khatab radiyallahu anhu. Ketika ia ditikam sewaktu sholat oleh orang  kafir, yang menyebabkan ia luka parah sampai-sampai sewaktu diobati beliau berkata “aku tidak melihat sesuatupun kecuali kematian” patut untuk kita contoh.

Diceritakan dari Al Miswar bin Makhramah, dia menemui Umar bin Khatthab di malam ketika ditikam, kemudian membangunkan Umar untuk shalat subuh, lalu dia berkata; “Ya. Tidak ada bagian dalam Islam bagi siapa saja yang meninggalkan shalat, “ lalu Umar shalat dan lukanya masih mengeluarkan darah.[1]

Beliau tidak pernah menyia-nyiakan kewajiban beliau, meskipun keadaannya sedang diujung kematiannya. Sakitnyapun bukan alasan baginya untuk mengundurkan untuk melaksanakan kewajibannya. Jadi tidaklah berlebihan pujian Amirul Mukminin Ali karamallahu wajhah kepada beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu ;

“Setelah jasad ‘Umar diletakkan di atas tempat tidurnya, orang-orang datang berkumpul lalu mendo’akan dan menshalatinya sebelum diusung. Saat itu aku ada bersama orang banyak, dan tidaklah aku terkaget melainkan setelah ada orang yang meletakkan siku lengannya pada bahuku, yang ternyata dia adalah ‘Ali bin Abu Thalib. Kemudian dia memohonkan rahmat bagi ‘Umar dan berkata; “Sama sekali tidak engkau tinggalkan seorangpun yang lebih aku sukai agar Allah berikan pembalasan sesuai keistimewaan amalnya daripadamu.” Dan demi Allah, sungguh aku yakin sekali bahwa Allah akan menjadikan kamu bersama kedua sahabatmu (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr) dikarenakan aku sering kali mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berangkat (bepergian) bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar[2]

 

Bahkan disela-sela rasa sakit dan darah mengucur yang ia derita dari luka tikaman itu Sayyidina umar tidak meninggalkan amar makruf yang dibebankan kepada beliau. dan menegur orang yang sedang menjulurkan pakaiannya (isbal).

Dirwayatkan, bahwa ketika Khalifah Umar bin Al-Khatthab radhiallahu ‘anhu ditikam, kaum muslimin mendatangi dan merebahkan beliau. Lalu, seorang pemuda dari Quraisy menemui beliau dan mulailah pemuda tersebut menyebutkan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan Umar. Tatkala pemuda itu keluar, ‘Umar radhiallahu ‘anhu melihat kepadanya, dan ketika itu, Umar banyak mengeluarkan darah karena luka tikaman.Umar berkata, “Bawalah pemuda itu kepadaku” Sebab, Umar melihat pakaian pemuda itu panjang dan isbal (ke bawah melebihi mata kaki), lalu ia berkata

ابن أخي ارفع ثوبك فإنه أنقى لثوبك وأتقى لربك

Wahai anak saudaraku, Angkatlah pakaianmu, karena itu lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih mendatangkan ketaakwaan kepada Rabbmu[3]

karena memang amar makruf nahi munkar adalah hal yang sangat penting bagi agama kita, sebuah kemaksiatan yang dibiarkan maka akan dianggap sebagai hal yang biasa (tidak berdosa) kemudian hal itu menjadi perkara yang dianggap legal dan sakit bukanlah alasan meninggalkannya. Oleh karena itu, ini harus menjadi titik instropeksi bagi kita semua, agar selalu mencontoh akhlak-akhlak dari pendahulu ummah kita, terutama ghirah mereka dalam melakukan amar makruf dan nahi munkar.

Pernah seorang pemuda Anshar datang kepada Umar, ia berkata,: “Wahai Amirul Mu’minin, berilah kabar gembira yang diberikan Allah kepadamu karena masuk Islam pertama kali seperti yang telah engkau ketahui, lalu engkau diangkat menjadi khalifah dan setelah ini semua engkau akan mati syahid?”. Umar menjawab: “Barangkali cukuplah yang engkau katakan itu wahai anak saudaraku, aku berwasiat kebaikan kepada khalifah setelahku terhadap orang-orang yang pertama-tama berhijrah, agar ia mengerti hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka, dan aku berwasiat kebaikan kepadanya terhadap orang-orang Anshar, yang mereka telah menempati Madinah dan beriman kepada Allah Ta’ala, agar ia terima orang-orang yang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk diantara mereka, dan aku berwasiat kepadanya akan tanggungan Allah dan RasulNya Shallallahu’alaihiwasallam agar ia menepati perjanjian dengannya, dan ia berperang dibelakangnya, serta tidak membebani mereka dengan apa yang tidak mereka mampu”.[4]

Jika kita ingin menjadi umat yang paling terbaik hanya dengan cara amar makruf kita bisa mencapainya,karena amar makruf adalah tolak ukur masih baik atau tidaknya suayuumat. Namun kalau kita sudah kita lagi peduli dengan amar makruf seperti sekarang maka pantaslah bagi kita untuk  disebut bagi sejelek-jelek umat.

Wallahu a’lam



[1] H.R Malik

[2] H.R Bukhori

[3] H.R Abu Syaibah

[4] H.R Bukhori

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *