December 07, 2016

Mukmin Yang Kuat Menuju Maqom Mukmin Yang Utama

Oleh Ust. Mundlori Nasir

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Selayaknyalah kita ini harus menjadi orang mukmin yang kuat, karena mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah ta’ala dibandingkan mukmin yang lemah, yang namanya kuat itu macam-macam, ada kuat badan, kuat ekonomi, kuat mental dan lain-lain. Ada yang kuat dengan cara sendiri-sendiri (individu) adapula yang kuat secara bersama-sama. Menurut sunnatullah, orang bisa menjadi kuat itu mempunyai faktor-faktor penunjang.  Kuat badan ditunjang oleh kekeran tubuh, sempurnanya susunan tubuh. Kuat ekonomi ditentukan oleh harta kekayaan yang dihasilkan dari kerja keras penuh perhitungan. Kuat kedudukan ditunjang oleh kelebihan ilmu, akhlak. Kuat mental ini adalah karena kuatnya iman.

Jadi orang  yang kuat maka ia harus mempunyai faktor-faktor tersebut, mukmin yang kuat akan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, tapi yang harus dijaga ketika seorang mukmin itu telah menjadi adalah jangan sekali kali takabur, sombong, congkak. Sebab perlu diingat bahwa dari setiap hal yang baik itu masih ada yang lebih baik lagi. Mengenai faktor penunjang mukmin yang kuat. Rasullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

‘Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta ‘ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu’. Tetapi katakanlah; ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata ‘law’ (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.’ H.R Muslim

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Dalam hadits ini Rasullah menjelaskan tentang faktor-faktor untuk mejadi seorang mukmin yang kuat.  Mukmin yang kuat akan lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala dan sebuah motivasi suapaya kaum muslimin optimis dalam bekerja dan  tabah dalam menghadapi segala kemungkinan.

Jamaah jum’ah rahimakumullah,

Hadist di atas mengandung tiga macam motivasi dan dua macam larangan.

Pertama yaitu Kuat Iman.

Hendaklah kita ini menguatkan iman, jadilah mukmin yang kuat. Dalam keimanan tiap-tiap orang itu berbeda da yang lemah dan ada yang kuat. Orang yang kuat imannya sangat terdorong untuk amal-amal sholeh sebanyak-banyaknya. Selalu beramar makruf nahi munkar, gemar bejihad, tidak takut akan rintangan dalam melaksanakan kebaikan dan sabar dalam melaksanakan hak-hak Allah.

Dan orang yang lemah imannya. Mereka lengah dan lalai dalam beramal sholeh. Dan  lalai dalam urusan akhirat, cita-citanya tidak untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Semua yang dilakukan oleh orang yang lemah imannya dan yang kuat imannya itu ada kebaikannya namun orang yang kuat imannya selalu menyuburkan imannya dengan amal yang sholeh sehingga imannya itu semakin rindang dan akarnya semakin menghujam kedalam hati sanubari.

Karena orang yang imannya kuats selalu berbuat kebaikan maka ia   akan mendapat kebahagian di dunia dan di akhirat. Allah ta’ala berfirman

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Q.S An Nahl : 97

Kedua : Semangat Untuk Mencari Segala Sesuatu Yang Membawa Kemanfaatan Baik Di Dunia Dan Akhirat

Seorang mukmin jangan sampai mengkosongkan waktu, sehingga waktu itu meninggalkan tanpa bekas apa-apa, namun isilah waktu itu dengan kegiaatan yang penuh semangat, seperti mencari ilmu, bekerja, semangat untuk berdakwah, membaca al qur’an dan semangat untuk sholat berjamaah.

Ketiga : Adapaun motivasi yang ketiga agar menjadi mukmin yang kuat adalah selalu memohon pertolongan kepada Allah.

Dalam menghadapi segala sesuatu dan rencana hendaklah memohon pertolongan kepada Allah. Karena yang memutuskan dan yang menentukan segala sesuatu adalah Allah subhanahu wata’ala tentu saja dalam hal ini diiringi dengan usaha-usaha bersifat lahiriyah.

وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ   رُفِعَتْ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ

bila kau meminta, mintalah pada Allah dan bila kau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya seandainya ummat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. H.R Tirmidzi

adapun dua larangan supaya kita menjadi mukmin yang kuat adalah.

Pertama : Rasullallah Melarang Kita Untuk Bersifat Dhoif, Lemah Dalam Mencapai Cita-Cita.

Namun hendaklah kita optimis, besar hati dalam usaha kita, jiwa penuh kepercayaan kepada Allah agar apa yang kita cita-citakan itu tercapai. Disertai dengan usaha yang benar, tidak bolehlah kita bermalas-malas, lemah dan berdiam diri tanpa usaha.

Rasullah shollallahu alaihi wasallam mengajarkan kita sebuah doa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa qubur”). Muttafaq alaih

Kedua : Janganlah Kita Mengucapkan Kata Andai-Andai.

Jika kita tertimpa suatu hal yang tidak mengenakkan, Rasullah melarang kita untuk megucapkan andai-andai, karena kata itu dapat membuka pekerjaan setan.

Dengan kata andai-andai seolah kita mampu menghindar dari taqdir Allah, padahal taqdir Allah mustahil untuk dihindari dan tidak terlaksana, yang benar untuk menanggapi peristiwa yang lampau kita katakan “Allah telah menaqdirkannya dan apa yang dikehendakiNya niscaya terjadi” sedang untuk menghadapi apa yang akan datang maka kita siapkan segalanya dengan sepenuhnya, dan seharusnya kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami pada waktu yang lampau jangan sampai kita terperosok dua kali dalam satu lubang.

Itulah tiga motivasi dan dua larangan untuk mencapai mukmin yang kuat. Adapun untuk menjadi mukmin yang utama. Untuk mencapai derajat paling tinggi Rasullah bersabda :

أفضل الإيمان أن تعلم أن الله معك حيثما كنت

Iman yang paling utama adalah kamu mengetahui bahwa Allah bersamamu di mana saja kamu berada. (HR. Ath Thabarani)

Dan juga sabda beliau

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik” H.R Tirmidzi

Masih sabda beliau shollallahu alaihi wasallam :

أَفْضَلُ الإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ لِلَّهِ ، وَتُبْغِضَ لِلَّهِ ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ ” ، قَالَ : وَمَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ

Seutama-utamnya iman adalah hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah dan lisanmu selalu berdzikir kepada Allah” Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.” H.R Thobrani

Jamaah jum’ah rahimakumullah.

Dalam hadits-hadits di atas rasullah menjelaskan ciri-ciri orang yang memiliki iman yang paling utama, ada tiga ciri-ciri dari orang yang mempunyai seutama-utama iman.

Pertama : Merasa Diawasi Oleh Allah.

 sesungguhnya Allah bersama kamu dimanapun kamu berada.

Maksudnya bahwa orang itu senantiasa merasa dalam pengawasan Allah dan selalu bertaqorrub kepada Allah ta’ala. Orang yang senantiasa merasa dalam pengawasan dan penglihatan Allah menandakan ia selalu menjalin hububungan Allah subhanahu wata’ala dimana saja dan di kondisi apa saja, ia menyadari segala tingkah laku dan gerak geriknya tidak lepas dari pengawasan Allah subhanahu wata’ala, maka dari itu setiap muslim yang mempunyai keimanan tinggi akan selalu berbuat jujur, tidak mudah bermaksiat kepada Allah, tidak menyakiti manusia yang lainya. Semua itu disebabkan karena ia menyadari baik apapun yang ia lakukan baik secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan jelas terlihat Allah subhanahu wata’ala.

Kedua : Berakhlak Baik Sesama Manusia.

Seorang yang memiliki iman yang kuat dan sempurna tentu akan menumbuhkan akhlak yang baik, karena akhlak yang baik adalah buah dari iman, seorang mukmin sejati tentu saja akan menjalin hubungan terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik, selalu bersikap sopan santun, jujur, rendah diri, ikhlash serta selalu mawas diri dari perbuatan yang kurang terpuji.

Ketiga : Mencintai Manusia Lebih Dari Mencintai Dirinya Sendiri.

Maksudnya adalah dalam bergaul sesama manusia hendaknya dilandasi dengan hati nurani yang bersih bisa mengukur perasaan orang lain dari perasaannya sendiri, misalnya jika tidak suka dicaci maki orang lain maka jangan mencaci maki orang lain, jika tidak suka ditipu orang lain maka jangan  menipu orang lain, jika tidak ingin disakiti orang lain maka jangan menyakiti orang lain.

Jamaah jum’ah rahimakumullah.

Itulah tiga faktor untuk menjadi mukmin yang paling utama, jika ketiganya mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan lahirlah amal-amal sholeh yang membawa kita menjadi mukmin sejati yang layak untuk masuk surga dengan ridha Allah Ta’ala.

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” Q.S At Taghobun : 9

 

Download file audionya

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *