December 05, 2016

Agar Terhindar Dari Sifat Riya’

Sebenarnya, pembahasan kali ini sudah banyak dibahas oleh para ustadz ketika pengajian atau ketika kita masih sekolah dulu. Sejak SD pun kita sudah dikenalkan dengan sifat riya’.Namun itu bukan jaminan kita terhindar dari sifat riya’.

Terkadang karena sering dibahas justru membuat kita menjadi meremehkannya, karena merasa sudah mengerti dan paham. Maka dari itu marilah kita sejenak membaca kembali agar kita terhindar dari sifat riya’.

Tidak ada salahnya kita kembali memperingati diri kita sendiri untuk menghindari sifat riya’ dengan cara mengetahui sebab-sebab kita terhindar dari sifat tersebut.

Pertama : Selalu Merasa Diawasi Oleh Allah Ta’ala.

Yaitu Ihsan, tingkatan paling tinggi yang disebutkan oleh Nabi shollalllahu alaihi wasallam dalam sebuah hadits terkenal (hadits Jibril).

أن تعبد الله كأنك تراه ، فإن لم تكن تراه ، فإنه يراك

“Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu” Muttafaqun alaih

Karena seseorang yang selalu merasa diawasi oleh Allah maka dengan sendirinya ia akan tidak memperdulikan pandangan dari orang lain yang ada disekitarnya dikarenakan kekhusyukannya.

Kedua : Meminta Pertolongan Kepada Allah Agar Terhindar Dari Sifat Riya’

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat Al fatihah ayat 5

hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”

Salah satu yang paling kita butuhkan agar supaya terhindar dari riya’ adalah memohon pertolongan kepada Allah ta’ala. Sebab bagaimanapun usaha kita tidak akan berguna jika tidak memohon pertolongan kepada Allah.

Rasullah Shollallahu alaihi wasallam bersabda :

“Wahai manusia takutklah kalian akan perbuatan syirik, karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian berdirilah Abdullah bin Hazn dan Qais bin Mudharib dan berkata: “Demi Allah, kamu jelaskan semua apa yang kamu telah katakan atau kami benar-benar akan mendatangi Umar baik diizinkah atau tidak.” Abu Musa berkata; Bahkan, aku akan jelaskan apa yang telah aku katakan. Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, takutlah kalian terhadap syirik karena dia lebih halus dari langkah semut.” Kemudian seseorang bertanya, “Wahai Rasulallah, bagaimana kami harus menghindarinya, sementara dia lebih halus dari langkah semut?” Maka beliau menjawab: “Bedo’alah dengan membaca, ‘ALLAHUMMA INNAA NA’UUDZU BIKA MIN AN NUSYRIKA BIKA SYAIAN NA’LAMUHU WA NASTAGHFIRUKA LIMAA LAA NA’LAMUHU (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui).'” H.R Ahmad

Ketiga : Mengetahui Akibat Dari Sifat Riya’ Kelak Di Akhirat.

Ketika seseorang tidak tahu akan bahaya dari suatu perkara, bisa dipastikan ia pasti tidak merasa takut akan jatuh pada hal tersebut, begitu juga riya’ jika seseorang tidak tahu akan bahaya dari riya’ maka ia juga merasa aman-aman saja dan menyepelekannya.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa yang namanya riya’ itu menghapus pahala amal kebaikan, juga mendatangkan murka Allah ta’ala. Jika kita ini orang yang berakal tentu saja tidak mau bercapek-capek dengan amal yang kita tidak mendapat pahala dari amal tersebut. Lebih rugi lagi ternyata bukan hanya amal kita yang sia-sia tapi kita juga mendapat murka dari Allah.

Rasulallah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits

“Allah Tabaaraka wa Ta’ala pada hari kiamat akan turun kepada para hamba untuk memutuskan di antara mereka dan masing-masing ummat berlutut. Orang pertama yang dipanggil adalah orang hafal al-Qur`an, orang yang terbunuh di jalan Allah dan orang yang banyak hartanya lalu Allah berkata kepada penghafal al-Qur`an: Bukankah Aku mengajarimu sesuatu yang Aku turunkan pada rasulKu? Ia menjawab: Benar, wahai Rabb. Allah bertanya: Apa yang kau amalkan dari ilmu yang diajarkan padamu? Ia menjawab: Dengannya, dulu aku bangun shalat di malam hari dan di siang hari. Allah berfirman padanya: Kau dusta. Para malaikat berkata padanya: Kau dusta. Allah berfirman: Tapi kau ingin memperoleh pujian bahwa si fulan ahli baca al-Qur`an dan memang telah kau peroleh ujian itu. Setelah itu pemilik harta didatangkan lalu Allah bertanya kepadanya: Bukankah Aku melapangkan rizkimu hingga Aku tidak membiarkanmu memerlukan kepada siapa pun? Orang itu menjawab: Benar, wahai Rabb. Allah bertanya: Lalu apa yang kau lakukan dengan apa yang Aku berikan padamu? Ia menjawab: Aku menyambung silaturrahim dan bersedekah. Allah berfirman padanya: Kau dusta. para malaikat berkata padanya: Kau dusta. Allah berfirman: Tapi kau ingin peroleh gelar bahwa si fulan dermawan dan memang telah kau peroleh gelar itu. Kemudian orang yang terbunuh di jalan Allah didatangkan, Allah bertanya kepadanya: Karena apa kau terbunuh? Ia menjawab: Aku diperintahkan berjihad di jalanMu lalu aku berperang hingga aku terbunuh. Allah berfirman padanya: Kau dusta. para malaikat berkata padanya: Kau dusta. Allah berfirman: Tapi kau ingin peroleh gelar si fulan pemberani dan menag telah kau peroleh gelar itu.” Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam memukul lututku dan bersabda: “Hai Abu Hurairah, ketiga orang itulah makhluk Allah pertama-tama yang neraka dinyalakan karena mereka pada hari kiamat.” Berkata Al Walid Abu ‘Utsman: telah mengkhabarkan kepadaku ‘Uqbah bin Muslim bahwa Syufaiya dialah yang menemui Mu’awiyah lalu memberitahukan hadits ini padanya. Berkata Abu ‘Utsman: telah menceritakan kepadaku Al ‘Alla` bin Abu Hakim ia adalah algojo Mu’awiyah, ia memasuki kediamannya, ia bersama seseorang lalu ia memberitahukan hadits dari Abu Hurairah ini padanya lalu Mu’awiyah berkata: Mereka diperlakukan seperti itu lalu bagaimana sekiranya dengan semua orang? Mu’awiyah menangis dengan keras hingga kami mengira ia meninggal. Kami berkata: Orang ini datang membawa keburukan. Setelah itu Mu’awiyah sadar dan membeslah wajahnya, ia berkata: Maha Benar Allah dan rasulNya: “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan.” (Huud: 15-16)”  H.R Tirmidzi

Keempat : Mengetaui Bahaya Riya’ Di Dunia.

Kerugian orang yang riya’ tidak hanya di akhirat dengan hilangnya pahala. Di duniapun ia akan rugi. Allah akan menampakkan mana orang yang riya’  dan mana yang ikhlas kepada manusia dikarenakan niat buruknya.

Rasulallah bersabda

“Barangsiapa yang beramal karena sum’ah, Allah akan menjadikannya dikenal sum’ah, sebaliknya barangsiapa yang beramal karena riya’, Allah akan menjadikannya dikenal riya.”

Ibnu hajar dalam syarhnya mengatakan : Imam Al Khotobi berkata yang maksudnya : barang siapa yang beramal suatu amalan yang tidak didasari keikhlasan dan ia hanya ingin dilihat oleh manusia sehingga ia terkenal dengan amalnya maka Allah akan menampakkan apa-apa yang ia sembuyikan.

Ibnu hajar juga menambahkan, “siapa saja yang meniatkan amalnya untuk mendapat kehormatan tempat diantara manusia dan ia tidak meniatkan karena mngharap ridho Allah, maka Allah akan memnjadikannya buruk diantara manusia yang ia inginkan kedudukan diantara mereka. Dan dia juga tidak mendapatkan pahala kelak akhirat”

Memang pada kenyataanya, orang yang riya’ dan ingin mendapatkan pujian dari orang lain justru akan mendapat celaan.

Kelima : Menyembunyikan Ibadah Dengan Tidak Menampak-Nampakkan

Semakin seseorang menjauh dari tempat-tempat untuk menampakkan ibadah, semakin jauh dan selamat ia dari sifat riya. Karena ketika kita beribadah di tempat yang ramai syaithan tidak akan tinggal diam. Diakui atau tidak kadang sifat riya’ itu timbul di tengah-tengah ibadah kita. Pada awalnya kita melakukannya dengan ikhlas namun setelah kita melihat banyaknya manusia secara halus syaithan menyusupkan perasaan ingin dipuji dan disanjung karena amal kita.

Perlu kita ketahui juga, ibadah yang harus kita sembuyikan disini bukanlah ibadah yang wajib atau sunnah untuk dinampakkan. Tidak ada alasan kita takut akan riya’ kemudian kita tidak mealakukan sholat dengan berjamaah. Hal ini berbeda dengan sholat malam atau shodaqoh yang memang harus kita tidak nampak-nampakkan.

Keikhlasan dalam beramal memang sangatlah susah. Semoga Allah memberikan kepada kita keikhlasan dalam semua perbuatan dan perkataan kita. Dan semoga Allah mengampuni kita dalam setiap amal yang sengaja atau tidak sengaja kita lakukan dengan riya’. (rif)

wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *