December 05, 2016

Mencium Al Qur’an Setelah Membacanya

Dalam Islam memang ada adab-adab tersendiri berkaitan dengan etika terhadap Al Qur’an, diantaranya apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah : tidak menyentuh Al Qur’an atau membacanya kecuali dalam keadaan suci, bersiwak sebelum membacanya, mengenakan pakaiannya yang terbaik, menghadap kiblat, berhenti membaca jika menguap, tidak memotong bacaan dengan suatu perkataan kecuali memang ada keperluan, pikirannya terkonsentrasi, ketika melalui ayat yang berisi janji berhenti untuk memohon kepada Allah dan ketika melalui ayat yang berisi ancaman berhenti memohon perlindungan kepada-Nya, tidak meletakkan Al Qur’an tercerai berai juga tidak meletakkan sesuatu di atasnya, tidak saling mengeraskan bacaan terhadap orang lain,  tidak membacanya di dalam pasar dan di tempat-tempat hiburan.

Syaikh Abu Bakar Jabir  Al Jazairi menambahkan : membacanya dengan tartil, memperindah suaranya, merahasiakan bacaanya jika takut terjatuh pada riya atau sum’ah, berusaha keras bersifatkan sifat-sifat orang yang menjadi keluarga Allah.

Adapun mengenai mencium Al Qur’an, maka tidak ada satu atsar pun yang shahih yang menyebutkan tentangnya, dan bagi mereka yang berhujjah bahwa mencium Al Qur’an adalah tanda kecintaan kepadanya, ketahuilah ! Bahwa mencintai Al Qur’an adalah dengan mengamalkannya, tidak membiarkannya tercerai-berai berserakan apalagi sampai membuangnya ke tempat sampah, maka bagi seorang muslim cukuplah apa yang diajarkan oleh Allah, Rasul-Nya, serta para ulama  yang mengikuti manhaj ahlus sunnah wal jama’ah.

Ada pula yang beristidlal dengan perbuatan khalifah Umar bin Khatab yang suatu ketika pernah mencium hajar aswad, istidlal ini pun tidak bisa diterima karena perbuatan khalifah Umar tersebut merupakan bentuk ittiba’ dari perbuatan Rasullah shollallahu alaihi wasallam. Dalam hadits di riwayatkan  dari ’Abis bin Rabi’ah, ia berkata, “Aku melihat Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengecup Hajar Aswad dan berkata:

إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، فَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Sungguh aku tahu engkau adalah sebuah batu, tidak dapat memberikan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium/mengecupmu niscaya aku tidak akan menciummu.” Shahih At-Targhib wat Tarhib

Jadi jelaslah bahwa perbuatan itu hanya murni sebagai ittiba’ beliau kepada Nabi Shollallahu alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

  • Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir Minal Quran hal. 76.
  • Fatawa Al Lajnah Ad Daimah  Fatwa No. 4172, 1472.
  • Minhajul Muslim hal. 70.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *