December 09, 2016

Mendengarkan Suara Wanita Bukan Mahram

Dalam masalah ini ada dua pendapat.

Pendapat Yang Pertama

Adapun pendapat yang pertama menyatakan bolehnya mendengarkan suara wanita yang bukan mahram berdasarkan dalil dari Al-Qur’an surat Al-Ahzab: 53

وَإِذَا سَأَلْتُمُوْهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوْهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ

Dan apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi) maka mintalah dari balik tabir !.” (QS. Al Ahzab : 53)

Dengan memahami bahwa suatu pertanyaan tentu menuntut adanya jawaban dan hal itu biasa dikerjakan oleh Ummahatul Mukminin. Mereka memberikan fatwa kepada yang memintanya dan meriwayatkan hadits kepada siapa saja yang ingin mengambil hadits dari mereka. Juga berdasarkan cerita seorang gadis (putri Nabi Syu’aib) yang berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam:

إِنَّ أَبِي يَدْعُوْكَ لِيُجْزِيَكَ أَجْرَ مَاسَقَيْتَ لَنَا

Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi balasan sebagai imbalan atas (kebaikan) mu memberi minum (ternak) kami.” (QS. Al-Qashas: 25).

Pendapat ini dikuatkan juga dengan dalil kisah percakapan antara Nabi Sulaiman dengan Ratu Saba’ (QS. An Naml : 42-44) dengan memahami dengan bahwa syari’at sebelum kita adalah syari’at juga buat kita selama tidak ada nash yang menasakhnya dengan nash baru.

Pendapat Kedua

Adapun pendapat yang melarangnya mengambil dalil berdasarkan potongan hadits shahih riwayat Al-Bukhari :

اَلْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظْرُ وَاْلأَذَنَانِ زِنَاهُمَا السِّمَاعُ

Kedua mata zinanya adalah melihat dan kedua telinga zinanya adalah mendengar.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ini diterangkan bahawa mendengar suara wanita termasuk perbuatan zina, maka hukum haram zina termasuk di dalamnya. Juga berdasarkan ayat Al –Qur’an :

وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَايُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ

Dan janganlah mereka (perempuan) menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”(QS. An_Nur: 31).

Jika gemerincing perhiasan wanita dilarang apalagi suara wanita yang dampak negatifnya lebih dari itu.

Juga berdasarkan firman Allah Ta’ala  dalam Surat Al-Ahzab:32 :

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِاْلقَوْلِ فَيَطْمَعُ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ

Maka janganlah kamu tunduk (melemahkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (QS. Al-Ahzab:32).

Semua ini dilihat dari fitnah yang terdapat di dalam suara wanita dan juga akibat yang mendekati zina, ini adalah pendapat Rabi’ah, Imam Al Jashshash, pengikut Hanafi (yang mana Ahnaf berpendapat bahwa seorang wanita itu aurat), Ibnu Katsir dan penduduk Kuffah.

Kedua pendapat ini bisa dipadukan dengan melihat sebab larangannya yaitu menundukkan perkataan dan melembutkannya, sehingga orang-orang yang berpenyakit hati muncul keinginan berbuat dosa jika tidak menundukkannya. Namun jika kondisi mengharuskan berbicara dengan wanita ajnabiyyah karena suatu hajah (kebutuhan) maka tidak mengapa sebagaimana pendapat yang membolehkannya dengan catatan kita membatasi perkataan kita secukupnya sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari munculnya fitnah.

Wallahu a’lam bishshawab.

 Referensi :

  • Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah hal.1-8.
  • Rawai’ul Bayan II/166-167.
  • ‘Aunul Ma’bud Jilid 7 XIV/74.
  • Al Jami’ Fi Fiqhin Nisa’ hal. 681.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *