December 07, 2016

Mengulang Hafalan Al-Qur’an Bagi Orang Yang Junub

Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh menyentuh Al Qur’an bagi orang yang haid atau junub, namun mereka berbeda pendapat jika hanya membacanya saja.  

Orang Yang Junub

Al Muayyad Billah, Imam Yahya dan sebagian sahabat Abu Hanifah berpendapat boleh membaca Al-Qur’an  (bagi yang  junub) selain dengan maksud tilawah (membaca) Al-Qur’an seperti ucapan  يا مريم اقنتى (wahai maryam taatlah …!) dengan maksud memanggil seseorang yang bernama Maryam untuk melakukan hal tersebut. Padahal dalam Al-Qur’an ayat tersebut tercantum, mereka juga berdalil dengan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam,“Bacalah Al-Qur’an salah seorang diantara kalian yang tidak junub, maka jika ia junub maka jangan membacanya meskipun sehuruf….!.” Hadits ini tidak menunjukkan keharamannya, karena tujuan Nabi shollahu alaihi wasallam adalah meninggalkan qira’ah tatkala junub bukan pengucapannya.

Dan jumhur ulama semisal Al Qasim, Al-Hadi, As-Syafi’i, Al-Qurthubi, Imam Nawawi dan lain-lain, mengharamkan bagi seorang yang junub untuk membaca Al-Qur’an baik dengan memegangnya maupun tidak (menikrar) mereka berdalih dengan Hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh  Abu Dawud dan At-Turmudzi.

لاَيــَقْرَأْ الْجُنُبُ وَاْلأَحَائِضُ شَيْئاً مِنَ الْقُرْآنِ. وَفِي لَفْظٍ لاِبْنِ مَاجَةَ : كَانَ يُقْرِأُنَا الْقُرْآنَ عَلَى كُلِّ الْحَالِ مَالَمْ يَكُنْ جُنُبًا

“ Orang – orang junub dan orang – orang yang haid tidak boleh membaca sesuatupun dari Al Qur’an …! “ Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Beliau membacakan Al Qur’an kepada kami di setiap keadaan selama tidak dalam keadaan junub.”

Ibnu Taimiyah mengomentari hadits ini sebagai hadits yang dhoif menurut kesepakatan Ahlul Ilmi

Dan juga sabda Nabi yang lain :

كَانَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لاَ يَمْنَعُهُ مِنْ قِرَاءَةِ اْلقُرْآنِ شَيْئٌ إِلاَّ الْجَنَبَةَ

“Tidak ada yang menghalangi beliau shollallahu alaihi wasallam dari membaca Al Qur’an kecuali junub.”

Orang Yang Haid

Perlu diketahui disini bahwa antara keadaan junub dan haid adalah beda, karena ketika kita junub maka kita akan dikenakan kewajiban mandi dan jangka waktunya juga berbeda, haid bisa sampai 7 hari lebih. Hukum mengulang hafalannya pun beda antara orang yang junub dan haid.

Jika dalam keadaan junub jumhur ulama berpendapat tidak boleh untuk membaca atau mengulang hafalan Al Qur’an. Namun untuk orang haid hal ini juga terbagi menjadi dua pendapat antara yang membolehkan dan yang melarang. Namun yang paling rajih adalah yang berpendapat akan kebolehan mengulang hafalan bagi orang yang haid.

Yang perlu diperhatikan disini juga, kebolehan membaca maksudnya adalah mengulang hafalan yang ada di kepalanya bukan dengan membaca mushaf kecuali jika memang sangat dibutuhkan dan terpaksa, misalnya untuk meng-ishlah bacaan atau ada ayat-ayat yang terlupa atau mengajarkan Al Qur’an. dengan cara memberi pembatas agar ia tidak menyentuh mushaf tersebut.

 Wallahu a’lam bishshawab.

             Referensi :

  • Takammulah Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab III/374.
  • Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid I/542.
  • Nailul Authar I/250.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *