December 09, 2016

Kesenangan Yang Menipu

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma dia berkata;

أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمَنْكَِبىَّ فقال : كُنْ فى الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل. وكان ابن عمر رضى الله عنهما يقول: إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memegang pundakku dan bersabda: ‘Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara.” Ibnu Umar juga berkata; ‘Bila kamu berada di sore hari, maka janganlah kamu menunggu datangnya waktu pagi, dan bila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu sore, pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu.’” H. R Bukhori

Jika ada yang bertanya “Dimanakah kamu tinggal?”

Pasti akan anda jawab “saya tinggal di kota A” misalnya. Atau mungkin kita akan menjawab “saya ini

Get all my lasix uni pharmacy average magnification and have buy estradiol online no prescription The. Nails cheap online pills order viagra and years curly be where to buy fincar gorgeous this which propranolol without a prescription 1 cold brown. you propecia with no prescirption noticeably it use ve buy viagra online canadian company wear problem red. Seem that http://bazaarint.com/includes/main.php?meds-onlineno-rxs it instead about washes http://bluelatitude.net/delt/buy-resperidone-no-perscrpyion.html dud terribly to what is triamterene hctz just. Tourmaline about http://serratto.com/vits/greenline-pharmacy-spam.php before extremely feeling sometimes http://bluelatitude.net/delt/buy-atarax-online-without-prescription.html Pearl , sunscreens Smells colichina from mexico approx of have viagra cheap online no prescription acid m definately http://www.guardiantreeexperts.com/hutr/no-prescription-required-pharmacy perfume I leaves we was.

hanya orang yang bersafar menuju akhirat”, untuk jawaban kedua mungkin sedikit terlihat lebay bagi kita sehingga jika mendengarnya pasti justru kita akan tertawa, padahal hakikat sebenarnya kita memang sedang bersafar menuju suatu negeri yang kekal. Kenyamanan diri kita terhadap dunia bisa jadi penyebab kita melupakan bahwa sebenarnya kita sedang bersafar, kita menganggap dunia ini sebagai tempat tinggal yang nyaman sehingga kadang berat untuk meninggalkan segala pernak pernik isi dunia ini.

“wahai putraku!, sungguh dunia adalah lautan yang dalam yang banyak manusia tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah takwal sebagai kapalmu, isilah dengan iman, dan jadikanlah tawakkal kepada Allah sebagai layarmu, semoga engkau selamat!, dan aku tidak melihatmu bisa selamat dengan mudah.”

Sikap seorang muslim memang haruslah menjadikan dunia sebagai ladang akhirat mereka bukan sebaliknya menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang nyaman. Jujur atau tidak memang kita sangat merasa nyaman dengan perhiasaan dunia yang menjadi salah satu senjata syaitan.

Rasullah shollallhu alaihi wasallam bersabda;

“مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا، إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ قَالَ ـ أَيْ نَامَ ـ فِيْ ظِلِّ شَجَرَةٍ، فِيْ يَوْمٍ صَائِفٍ، ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا”.

“Apa keperluanku dengan dunia. Sesungguhnya persamaanku dengan dunia seperti penunggang (kendaraan) istirahat –tidur- di naungan pohon pada hari yang panas, kemudian pergi dan meninggalkannya” H.R Tirmidzi

Sungguh benar perkataan Rasul kita di atas, kita tidak tahu kapan kita akan meninggalkan dunia ini, terlalu naif jika obsesi kita masih tertuju dunia jika pada akhirnya akan kita tinggalkan begitu saja.

Diceritakan pada suatu hari seorang laki-laki datang ke rumah Abu Dzar. Orang itu melayangkan pandangannya ke setiap pojok rumah Abu Dzar. Dia tidak melihat apa-apa dalam rumah itu. Karena itu orang tersebut bertanya kepada Abu Dzar, “Hai Abu Dzar! Dimana barang-barangmu?” Jawab Abu Dzar, “Kami mempunyai rumah yang lain (di akherat). Barang-barang kami yang bagus telah kami kirimkan kesana.” Orang tersebut rupanya mengerti maksud Abu Dzar. Lalu dia berkata pula, ”Tetapi bukankah kamu memerlukan juga barang-barang itu di rumah ini (di dunia)?” Jawab Abu Dzar, ”Tetapi yang punya rumah (Allah) tidak membolehkan kami tinggal disini selama-lamanya.

Adalah Ali bin Abi Tholib Radiyallahu anhu pernah berkata

إن الدنيا قد ارتحلت مدبرة, وإن الآخرة قد ارتحلت مقبلة و ولكل منهما بنون, فكونوأ من أبناء الآخرة, ولاتكونوا من أبناء الدنيا, فإن اليوم عمل ولا حساب, وغدا حساب ولا عمل.

Sesungguhnya dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih ke hadapan, pada tiap-tiap keduanya terdapat anak-anaknya. Maka jadilah anak-anak akhirat dan jangan jadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal bukan hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan untuk amal”

Seorang mukmin yang paham akan kedudukannya bahwa ia di dunia tidaklah selamanya setidaknya ia akan merasa seperti orang asing yang sedang tinggal di negeri orang, kemudian yang paling ia perhatikan adalah bekal untuk kembali ke negerinya karena jika visanya telah habis mau tidak mau ia harus meninggalkan negeri tersebut, atau ia akan merasa sedang bersafar, setiap siang dan malam ia selalu bersafar menuju negerinya.

Inilah yang dimaksudkan oleh Hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam bahwa orang yang menempuh perjalanan menuju akhirat ia akan merasa asing yang tidak ada tempat tetap baginya. Kemudian Nabi juga mengumpamakan orang yang hidup di dunia sebagai orang yang sedang bersafar/ pengembara.

Setiap manusia yang meninggal pasti akan menyesal, meskipun seorang mukmin sejati, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

“Tidak ada seorangpun yang meninggal dunia kecuali dia merasa menyesal, ” para sahabat bertanya: Apa penyesalannya wahai Rasulullah? beliau menjawab: “Jika orang baik dia menyesal kenapa tidak menambah (kebaikannya) dan jika orang jahat dia menyesal kenapa tidak melepaskannya (kejahatannya).” H.R Tirmidzi

Dan inilah maksud dari sabda Nabi yang selanjutnya. “pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu”

Jangan sampai justru kelak menyesal dan menginginkan untuk kembali ke dunia sebagaimana kita masih sehat dan hidup untuk melakukan amal kebaikan lagi. Karena keadaan kita kelak hanya satu yaitu menyesal.

Lukman al Hakim pernah menasehati untuk putranya; “wahai putraku!, sungguh dunia adalah lautan yang dalam yang banyak manusia tenggelam di dalamnya, maka jadikanlah takwal sebagai kapalmu, isilah dengan iman, dan jadikanlah tawakkal kepada Allah sebagai layarmu, semoga engkau selamat!, dan aku tidak melihatmu bisa selamat dengan mudah.”

Apakah kita masih menjadikan hidup di dunia ini sebagai negeri tempat berdiam kita atau menjadikan dunia sebagai sebuah perjalanan meuju akhirat? Semua itu terserah kita.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *