December 09, 2016

Berobat Dengan Al Qur’an Untuk Penyakit Yang Dzahir (Nampak Pada Anggota Badan)

Dibolehkan berobat dengan menggunakan Al Qur’an untuk penyakit dzahir karena Al Qur’an adalah obat yang paling sempurna untuk penyakit hati dan dzahir berdasarkan firman Allah Ta’ala :

وَيُنَزِّلُمِنَاْلقُرْآنِمَاهُوَشِفَاءٌوَرَحْمَةٌلِلْمُؤْمِنِيْنَوَلاَيَزِيْدُالظَّالِمِيْنَإِلاَّخَسَارًا.

Dan kami turunkan dari Al Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zhalim (Al Quran itu) hanya akan menambah kerugian.” ( QS . Al Isra’ : 82 )

Para ulama berbeda pendapat tentang makna syifa’ di atas. Dalam hal ini ada dua pendapat, yaitu :

  1. Penyembuhan hati dengan menghilangkan keraguan dan kebodohan.
  2. Menyembuhkan semua penyakit dzahir dengan ruqiyyah, ta’awwudz, dan yang semisalnya.

Bagi mereka yang berpendapat boleh berobat dengan Al Qur’an melandaskan pendapat mereka berdasarkan hadits :

Sahahabat yang mulia Abu Sa‘id Al-Khudri rahimahullahu berkata:

أَنَّ رَهْطًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلَقُوْا فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوْهَا حَتَّى نَزَلُوْا فِي حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، فَاسْتَضَافُوْهُمْ فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمْ. فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَيِّ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ، لاَ يَنْفَعُهُ شَيْءٌ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِيْنَ قَدْ نَزَلُوْا بِكُم، لَعَلَّهُ أَنْ يَكُوْنَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَيْءٌ. فَأَتَوْهُمْ فَقَالُوْا: يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ! إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ، فَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَيْءٍ، لاَ يَنْفُعُهُ شَيْءٌ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ منكُمْ شَيْءٌ؟ فَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَعَمْ، وَاللهِ إِنِّي لَرَاقٍ، وَ لَكِنْ وَاللهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضَيِّفُوْنَا، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوْا لَنَا جُعْلاً. فَصَالِحُوْهُمْ عَلَى قَطِيْعٍ مِنَ الْغَنَمِ. فَانْطَلَقَ فَجَعَلَ يَتْفُلُ وَيَقْرَأُ: حَتَّى لَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ، فَانْطَلَقَ يَمْشِي مَا بِهِ قَلَبَةٌ. قَالَ: فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِي صَالَحُوْهُمْ عَلَيْهِ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: اقْسِمُوا. فَقَالَ الَّذِي رَقَى: لاَ تَفْعَلُوْا حَتَّى نَأْتِيَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِي كَانَ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا. فَقَدِمُوْا عَلى رَسُولِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرُاْ لَهُ ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟ أَصَبْتُمْ، اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ

Sejumlah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam sebuah safar yang mereka tempuh hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka namun penduduk kampung itu menolak.Tak lama setelah itu kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa.

Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan namun tidak sedikit pun yg memberikan manfaat utk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yg tadi singgah di tempat kalian mungkin saja ada di antara mereka punya obat {yang bisa menghilangkan sakit yg diderita pemimpin kita}.” Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan shahabat Rasulullah yg tengah beristirahat tersebut seraya berkata: “Wahai sekelompok orang pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara utk menyembuhkan sakitnya namun tidak satu pun yg bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yg memiliki obat?” Salah seorang shahabat berkata: “Iya demi Allah aku bisa meruqyah. Akan tetapi demi Allah tadi kami minta dijamu namun kalian enggan utk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah utk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.”Mereka pun bersepakat utk memberikan sekawanan kambing-kambing sebagai upah dari ruqyah yg akan dilakukan. Shahabat itu pun pergi utk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” .

Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yg mengekangnya. Ia pun pergi berjalan tidak ada lagi rasa sakit {yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur}.Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya.

Sebagian shahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun shahabat yg meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu sampai kita menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita ceritakan kejadiannya dan kita tunggu apa yg beliau perintahkan.” Mereka pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengisahkan apa yg telah terjadi.

Beliau bertanya kepada shahabat yg melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa Al- Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.” H.R Bukhori

Berdasarkan pendapat para ulama diantaranya Sayyid Sabiq dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Syaikhani (Al Bukhari & Muslim) dan An Nasai tentang pembolehan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kepada salah seorang sahabat yang menggunakan surat Al Fatihah sebagai pengobatan untuk kepala suku yang tersengat binatang.

Tetapi perlu diingat bahwa tidak semua orang dapat melakukan pengobatan dengan cara ini (ruqiyyah) karena ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh peruqiyyah, yaitu :

  1. Ruqiyyah harus menggunakan kalamullah atau asma’ dan shifat-Nya atau berupa dzikir–dzikir yang ma’tsur.
  2. Dengan menggunakan lisan (bahasa) Arab yang bisa dipahami maknanya.
  3. Hendaknya ruqiyyah diyakini tidak berpengaruh karena dzatnya tapi karena takdir Allah Ta’ala.
  4. Berdasarkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan salafush sholih, tetapi tidak mengapa kalau kita mencobanya mungkin saja Allah memberi kesembuhan melalui perantara kita.

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

  • Zadul Ma’ad IV/100
  • Fiqhus Sunnah II/15.
  • Mukhtashar Ad Da’ Wad Dawa’ hal. 15-17.
  • Fathul Qadir III/315.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *