December 07, 2016

Jum’at Penuh Berkah

Oleh Ust. Muzaidi

Ma’asyiral mukminin jamaah jum’ah rahimakumullah,

Pada kesempatan kali ini, sedikit saya ulang beberapa hal yang terkait  hari jum’at dimana di hari tersebut ada beberapa keistimewaan yang sengaja ditebar oleh Allah subhanahu wata’ala agar kaum muslimin bisa memanfaatkannya.

Ma’asyiral mukminin jamaah jum’ah rahimakumullah,

Hari jum’at adalah hari yang sangat istimewa,  seluruh menit yang ada dalam hitungan jamnya adalah keistimewaan detik dan menit yang terhitung sejak terbenamnya matahari di hari kamis hingga terbenamnya matahari di hari jum’at itu semuanya bernilai istimewa dan semuanya bernilai utama. Keutamaan dan keistimewaan di hari jum’at ini tidak bisa kita dapatkan di hari lainya karena sudah jelas nash yang mengikatnya dengan hari jum’at ini, di hari jum’at ada pahala yang sengaja ditebar di hari jum’at ini ada dosa yang sengaja dihapus dan bahkan di hari jum’at ini ada waktu yang khusus terkabulkannya sebuah do’a yang mana tidak didapat di waktu-waktu lainnya, serta di hari jum’at ini ada kewajiban yang tidak diwajibkan di hari-hari lainya.

Itulah diantara keistimewaan hari jum’at dimana seorang mukmin yang mengetahui berdasarkan nash yang jelas mestinya ia tidak menyia-nyiakannya, mestinya ia senantiasa memanfaatkannya agar tidak hilang darinya sedetik di hari jum’at itu tanpa sebuah kebaikan dan tanpa sebuah amal yang mendorongnya kepada kebaikan tersebut. Rasulallah shollallahu alaihi wasallam pernah mensabdakan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dan Imam Ibnu Habban

لا تَطْلُعُ الشَّمْسُ وَلا تَغْرُبُ عَلَى يَوْمٍ أَفْضَلَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Tidaklah matahari terbit dan tenggelam pada suatu hari yang lebih utama dari hari Jum’at.”

Nash ini dengan jelas menjelaskan matahari yang terbit di hari-hari lain selain hari jum’at itu tidak lebih baik daripada matahari yang terbit dan terbenam di hari jum’at, karena di hari itu jelas Allah Subhanahu wata’ala melalui lisan rasulNya ada beberapa keutamaan yang bisa kita raih di dalamnya.

Pertama :

Bukankah Rasulallah Shollallahu alaihi wasallam pernah bersabda,

يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ – يُرِيدُ – سَاعَةً، لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا، إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

 “Hari Jum’at terdiri dari dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada suatu jam tertentu), melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah jam terkabulnya doa tersebut pada satu jam terakhir setelah shalat Ashar!

H.R Abu Daud

Maka seyogyanya kita sebagai seorang muslim menggunakan dan memanfaatkan waktu ba’da ashar, terutama menjelang terbenamnya matahari di akhir hari jum’at tersebut karena di waktu-waktu tersebutlah insyaAllah bila mana kita manfaatkan untuk kebaikan dan untuk sebuah doa kebaikan Allah Subhanahu wata’ala akan mengabulkan, maka seyogyanya pula kita sebagai seorang muslim tidak lupa untuk membaca doa adzkarul masa’ ketika matahari di hari jum’at itu matahari akan tenggelam.

Kedua :

Rasullah shollallahu alaihi wasallam juga pernah mensabdakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dan Imam Al Baihaqi

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.”

Hanya sayangnya ada sebagian kaum muslimin yang justru mengganti surat Al Kafhi dengan surat yang lain bahkan mereka mempunyai anggapan bahwa surat Yasin lah yang lebih tetap untuk dibaca di hari jum’at, padahal nash di atas jelas mengatakan 

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ

Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi

Ketiga :

Kemudian Rasullah shollallahu alaihi wasallam juga menjelaskan

لَا يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلَا يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الْإِمَامُ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyaknya atau mengoleskan minyak wangi yang di rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan khutbah dengan seksama ketika imam berkhutbah, melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan Jum’at berikutnya.” HR. Bukhari

Di dalam sabda yang lain Rasulallah shollallahu alaihi wasallam menjelaskan

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ مَلَائِكَةٌ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Jika hari Jum’at, pada setiap pintu dari pintu-pintu masjid terdapat malaikat-malaikat yang menulis orang pertama (yang hadir), kemudian yang pertama (setelah itu). Jika imam telah duduk (di mimbar untuk berkhutbah), mereka melipat lembaran-lembaran (catatan keutamaan amal) dan datang mendengarkan dzikir (khutbah)”  H.R Bukhori

Ini menunjukkan bahwasanya fadhilah datang menuju sholat jum’at itu sebelum khotib duduk di atas mimbar, karena disitu ada fadhilah bagi siapa yang datang sebelum khatib duduk mimbar, sebelum khatib menyampaikan khutbahnya, mereka adalah orang-orang yang tercatat dalam catatan-catatan malaikat dan mereka-mereka yang datang setelah khatib menyampaikan khutbahnya dan sudah berada di atas mimbarnya maka mereka bukan termasuk orang-orang yang tercatat dalam catatan malaikat tersebut. Oleh karena itu Rasulallah menegaskan.

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةٍ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذِّكْرَ ” متفق عليه

 “ Siapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi junub kemudian berangkat (pada gelombang pertama) maka dia bagaikan berkorban dengan seekor onta, barang siapa yang berangkat pada gelombang kedua seakan-akan berkurban dengan satu ekor sapi. Barang siapa berangkat pada gelombang yang ketiga seakan-akan berkurban dengan seekor kambing yang bertanduk dan barang siapa yang berangkat pada waktu yang keempat seakan-akan berkurban dengan seekor ayam jago. Barang siapa yang berangkat pada gelombang yang kelima seakan-akan dia berkurban dengan satu butir dan jika imam keluar untuk naik mimbar datanglah malaikat untuk mendengan dzikir[Khutbah]” H.R Bukhori

مَنْ غَسَلَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَرَ وَالتَبَكُّرِ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ، وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يُلْغِ، كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةِ أَجْرِ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا

“Barang siapa mandi pada hari Jum’at, membersihkan badannya dan bersegera (pergi kemasjid) dan ia berjalan tidak berkendara kemudian mendekatkan diri kepada imam dan  mendengarkan (khutbah) dan tidak melakukan perbuatan lagho, maka setiap langkah yang diayunkan mendapatkan pahala seperti pahala setahun, yaitu pahala puasanya dan shalat malamnya.” H.R Tirmidzi

احْضُرُوا الذِّكْرَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ دَخَلَهَا

“Hadirilah peringatan (khutbah) dan mendekatlah kepada imam, karena seseorang yang selalu menjauh darinya hingga ia akan di akhirkan masuk surga, meskipun ia memasukinya.” H.R Abu Daud

Maksudnya ketika datang ke sholat jum’at tapi sengaja mencari tempat yang paling belakang, maka ketika masuk surga kelak ia mendapat giliran yang paling belakang pula kendati ia akan masuk surga.

Ma’asyiral mukminin jamaah jum’ah rahimakumullah,

Dengan tegas dan jelas dalil-dalil yang saya sampaikan tadi menunjukkan sebuah keutamaan dan keistimewan yang hanya ada di hari jum’at, yang bisa kita raih di hari jum’at. Maka setiap detik dan menit di dalam hitungan jam di hari jum’at bernilai keistimewaan, setiap detik dan menit di dalam hitungan jam di hari jum’at bernilai kebaikan, detik dan menit terhitung dari sejak terbenamnya matahari di hari kamis sampai terbenamnya matahari di hari jum’at, sebagai seorang mukmin tentu tidak ingin jika setiap detik dan menit itu tersia-siakan apalagi sampai ternodai dengan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat.

Mengingat Betapa mulianya hari jum’at, Betapa agungnya hari jum’at, Betapa istimewanya hari jum’at dan kita perlu memuliakannya, hanya syaratnya adalah pemuliaan dan pengistimewaan yang kita berikan pada hari jum’at itu harus sesuai dengan nash-nash yang disabdakan oleh Rasulallah shollallahu alaihi wasallam, haruslah sesuai petunjuk-petunjuk yang di firmankan oleh Allah subhanahu wata’ala. Kita tidak boleh mengistimewakan hari jum’at melebihi hari-hari lainnya dengan bentuk-bentuk keistimewaan yang tidak ada dasarnya, oleh sebab itu kita harus hati-hati dalam mengistimewakan hari jum’at itu.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

download file audionya disini

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *