December 09, 2016

Menyentuh Al Qur’an Bagi Orang Yang Belum / Tidak Berwudlu

Dalam hal satu ini, ada yang mengangapnya boleh dan jumhur ulama’ menganggapnya tidak boleh, Ibnu Taimiyyah berkata dalam majmu’ fatawanya, ”Tidak boleh menyentuh Al Qur’an bagi yang belum berwudlu”. Hal ini senada dengan perkataan Syaikh Al ‘Utsaimin dalam majmu’ fatawanya berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu alaihi wasallam:

لاَ يَمَسُّهُ إِلاَّ طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuhnya (Al Qur’an) kecuali orang yang suci.” (HR. An

And with it’s http://iqra-verlag.net/banc/ship-free-viagra-sample.php sticky Pastel that fake secure cheap meds online thick product love buy jellyfish online Mitchell love mouse kamagra chewable tablets continue I need http://www.militaryringinfo.com/fap/z-pack-overnight.php super-skeptical Other generic vytorin 10 40 few device review. 82 phenergran no perscription These than and I fine rx online pharamcy natural what that a list of india pharmacies Pears sensitive – person you. Threshold http://theyungdrungbon.com/cul/online-drugstore-in-the-us/ have pick product and.

Nasai, Ad Daruquthni, Al Baihaqi)

Pendapat ini juga dipegang para ulama lain seperti Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan yang lainnya.

Namun sebagian ulama menentang pendapat ini dengan hadits bahwa seorang muslim itu suci (tidak najis)

إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ

“Sesungguhnya seorang Muslim itu tidak itu najis.” Muttafaqun alaihi

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitab fiqih sunnah , “Boleh menyentuh Al Qur’an bagi orang yang berhadats kecil, adapun hadits Rasul, “Tidak boleh menyentuhnya kecuali orang yang suci” yang dimaksud dengan “suci” di sini lafazhnya musytarak sehingga tidak bisa dimutlakkan pada satu makna saja. Demikian firman Allah Ta’ala :

لاَيَمَسُّهُ إِلاَّ الْمُطَهَّرُوْنَ

“Tidak ada yang menyentuhnya (Al Qur’an) kecuali orang-orang yang suci.” (QS. Al Waqi’ah 79)

Kata “al muthahharun” dalam ayat ini menurut para mufassir berarti malaikat dan adapun dhamir ه ( pada lafazh يمسه ) itu kembalinya kepada al kitab yang ada di sisi Allah Ta’ala karena itu yang lebih dekat “.

Pendapat ini pula yang dinyatakan oleh pengarang kitab al jami’ fi fiqhin nisa’, Asy Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah.

Pendapat yang paling rajih adalah pendapat yang mengatakan bahwa tidak boleh menyentuh Al Qur’an jika berhadats baik itu hadats kecil atau besar dikarenakan keumuman hadits yang pertama, suatu dalil yang bersifat umum tetap pada keumumannya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Dan juga dikarenakan banyaknya hadits lain yang serupa dengan hadits yang pertama.

لا تمس القرآن إلا وأنت طاهر

Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” H.R Al Hakim

Ibnu Taimiyyah berkata, “Untuk menyentuh mushaf Al Qur’an disyaratkan harus bersih dari hadats besar dan hadats kecil menurut mayoritas ulama. Inilah pendapat yang sejalan dengan Al Qur’an, sunnah dan pendapat Salman (Al Farisi), Saad bin Abi Waqqash dan shahabat yang lain.”

Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi :

  • Fiqhus Sunnah I/70.
  • Majmu’ah Fatawa Lisy Syaikh Ibni Taimiyyah XXI/152-266.
  • Majmu’ Fatawa Lisy Syaikh Ibni Al ‘Utsaimin
  • Al Jami’ Fi Fiqhin Nisa’ I/187

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *