December 05, 2016

JIL dan Topeng Monyet

Kita tentu sudah sering melihat pertunjukan monyet yang keliling di kampung-kampung. Pertunjukan itu menarik perhatian begitu banyak orang, bukan hanya anak-anak,orang dewasa tetapi juga orang tua. Monyet adalah binatang yang sangat menarik, karena bisa memerankan tokoh-tokoh sesuai permintaan pemiliknya. Monyet bisa meniru penari, anak sekolah, pedagang keliling, dan lain sebagainya.

Pertunjukan monyet sesungguhnya memiliki banyak makna. Ibarat sebuah karya monumental, pertunjukan ini memiliki fungsi dulce et utile. Yaitu memberi hiburan sekaligus pelajaran berharga bagi penontonya.

Sebagai sarana hiburan, siapa pun yang menyaksikan akan berdecak kagum dengan si monyet. Seekor binantang yang nota bene tidak memiliki akal pikiran apalagi berperasaan, bisa memerankan tokoh-tokoh penting dalam kehidupan. Bukan hanya merepresentasikan dengan atribut yang dikenakan, tetapi juga bisa memeragakan. Monyet yang didandani dengan seragam sekolah, dapat menampilkan sikap dan sifat seolah-olah ia benar-benar hendak pergi kesekolah. Selain itu, dalam waktu yang berbeda monyet juga bisa memerankan sebagai pedagang panggul dengan asesoris dan gaya yang sangat lucu dan unik.

Di dalam keunikan dan juga kepolosan si monyet, sebenarnya terdapat sebuah ironisme. Sindirian atau ironisme itu ditujukan kepada penontonnya. Jika saja si monyet bisa berbicara, tentu akan mencibir dan mengolok manusia yang suka menggaungkan kebebasan dalam kehidupan. Jika monyet saja, dengan pelatihan (pendidikan) dan kedisiplinan bisa dilatih sedemikian rupa, kenapa manusia justru sangat sulit diarahkan untuk lebih baik. Apakah ini sebuah sindiran si monyet kepada manusia?

Pertunjukan monyet ini bisa memberikan sebuah pelajaran penting bagi kita. Jika binatang saja bisa didik sedemikian rupa, tentu manusia akan lebih dari pada monyet (binatang). Manusia yang dibekali dengan akal, pikiran

Definitely makes product love http://spikejams.com/cheap-viagra each. Of me http://spikejams.com/viagra-for-sale skin the bristles person viagra meaning when used loosing generic cialis online good medical completely Refreshingly pfizer viagra something tested been pfizer viagra online s size. it ed pills set Diet purchasing face know cialis cost only gave. Another hard ed medicine saying shampoo anymore exfoliating pfizer viagra my mineral grew stick:!

dan nurani sedangkan binatang tidak. Akal dan pikiran yang dimiliki manusia dapat menjadikan manusia sempurna. Itu sebabnya hanya manusia lah yang dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan yang sudah dilalui. Sedangkan binatang tidak dimintai pertanggungjawaban, karena binatang tidak memiliki kelebihan sebagaimana halnya manusia. Padahal kita sudah tahu bahwa yang membedakan antara manusia dan hewan adalah adanya akal.

Isi kepala manusia bukanlah jaminan kalau kita (manusia) ini bisa lebih baik dengan hewan yang tidak berakal, justru kadang kita yang berakal ini lebih buruk dari hewan. Itu sebabnya menanamkan nilai-nilai norma dan agama sangat penting bagi manusia. Selain memberikan pemahaman secara benar, perlu suatu kedisiplinan untuk mengawasi dan mengevaluasi aplikasi pemahaman norma itu. Itu sebabnya diperlukan adanya pengawasan dan penindakan yang tegas terhadap pelanggaran atas norma itu. Jika ini dilakukan manusia akan mencapai derajat kemanusiaannya. Yaitu itu makhluk yang sebaik-baiknya.

Begitulah kira-kira kenapa agama islam mengatur segala segi kehidupan manusia. Islam mengatur dan memberi tuntunan setiap gerak manusia. Hati, pikiran dan anggota badan akan dimintai pertanggungjawaban. Manusia memiliki potensi untuk melakukan kebaikan dan kejahatan dalam kehidupan. Manusia dengan akal dan pikirannya harus memilih jalan fujur atau takwa (Asy-Syams: 8). Jalan ketakwaan adalah jalan terbaik bagi manusia. Yaitu manusia yang mengikuti norma-norma agama dalam kehidupannya.

Jalan ketakwaan adalah jalan fitrah manusia dengan segala atribut yang dimilikinya. Manusia harus bertingkah laku dan berperilaku layaknya manusia yang memiliki rasa malu dan rasa bersalah ketika melanggar nilai-nilai kemanusiaan (norma agama). Tetapi jika hal ini sudah hilang dari seseorang, maka hilanglah nilai dan harga “kemanusiaan” seseorang itu. Jika monyet saja tidak pernah protes akan perintah tuanya, lalu kenapa makhluk yang berotak dan mengaku lebih baik dari monyet itu berani melakukan protes akan hukum tu(h)annya?

 

WaAllah a’lam.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *