December 05, 2016

Dakwah “Cendol” dan “Bata”

Semakin banyaknya jama’ah dan kelompok di dalam dunia islam ternyata mempunyai efek positif dan negatif, salah satu efek negatifnya adalah munculnya model dakwah “cendol” dan “bata”.

Jika ada ustadz atau orang lain tidak sejalan dengannya, tentu ustadz tersebut mendapat “BATA”, entah itu celaan, mencari aibnya atau mendebatnya dengan berbagai tulisan. kalau sang ustadz sejalan dengannya dan kelompoknya tentu sang ustadz akan mendapat “CENDOL”. Tidak ada lagi yang namanya furuiyah.

Pengajian bagai kumpulan sebuah genk yang di dalamnya terlantun ayat dan hadits. Bukan lagi sebagai tempat berbagi ilmu saja. Kepala hadirin tegak, karena yang dibahas bukan Fiqh/Ushul Fiqh/Tafsir dan lainnya. Yang dibahas adalah ilmu petak sawah, yaitu bagaimana menaruh nama ustadz-ustadz yang dianggap orang-orangan sawah di petak-petak yang pas, tentu saja dengan metode dakwah “cendol” dan “bata”.

Dakwah seperti ini sangatlah tidak efektif karena sangat tidak manusia, setiap bertemu dengan orang yang tidak sepaham bukan lagi salam yang pertama terucap. Tapi kata “KAMU SESAT”.

Allah Ta’ala berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS Ali ’Imran : 159)

Jangan Balas Bata dengan Bata.

Bagi orang yang mendapat pujian tentu tidak masalah, siapa yang tidak senang tapi bagaimana jika kita mendapat celaan? Ibarat melempar bola kasti ke dinding, akhirnya bola itu pun kembali kepada si pelempar. Ketika seseorang berdakwah dengan kasar dan  tidak manusiawi tentu yang mereka dapatkan kalau bukan sebuah bantahan bisa pula perlawanan fisik. Tentu hal semacam ini tidak dinamakan sebagai ghuroba’.

Kita sebagai orang yang dilempar “bata” tidak harus membalasnya dengan “bata” juga, dalam sebuah hadits disebutkan contoh dari Nabi kita shollallahu alaihi wasallam yang diceritakan oleh Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu

“Demi Allah, sungguh Beliau telah disebutkan dalam kitab At-Taurah sebagian dari sifat-sifat Beliau seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an (Wahai Nabi, sesungguhnya kami mengutus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan), menjaga para ummiyyin (kaum yang tidak baca tulis). Engkau adalah hambaKu dan RasulKu, Aku memberimu nama Al Mutawakkil, bukan orang yang bersifat kasar lagi keras tidak suka berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas keburukan dengan keburukan tetapi memaafkan dan mengampuni, dan Allah tidak akan mematikannya hingga Beliau meluruskan agama-agama yang bengkok agar hanya mengucapkan Laa ilaaha illallah yang dengannya akan membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup”

Akhir kata, sekasar apapun dakwah mereka, sepedas apapun perkataan mereka, semua itu tidak lain karena adanya beberapa kekurangan dalam diri kita. Jadikanlah “bata” yang mereka berikan sebagai muhasabah bagi kita. Jangan sampai justru kita menjadi pihak orang yang melempar bata, dan dakwahlah dengan cara yang manusiawi. (rif)

Wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *