December 09, 2016

Membawa Al Qur’an Digital Kedalam Kamar Mandi

Kita diwajibkan untuk mengagungkan dzikrullah serta nama-nama-Nya  sebagaimana firman Allah Ta’ala :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى اْلقُلُوْبِ

Demikianlah perintah Allah dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketulusan hati.” (Al-Hajj:32)

Untuk lebih memahaminya ada 2 kemungkinan yang terjadi didalamnya, yaitu :

  1. Apabila al qur’an digital dalam keadaan hidup.
  2. Apabila al qur’an digital dalam keadaan mati.

Untuk masalah yang pertama terdapat sebuah hadits dari Anas yang menerangkannya, dia berkata :

إِنَّ النَّبِيَّ ص.م  لَبِسَ خَاتَمًا تُقَشَّهُ مُحَمَّدٌ ص.م  فَكَانَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَوَضَعَهُ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu alaihi wasallam memakai cincin yang bertuliskan Muhammad shollallahu alaihi wasallam, apabila Beliau masuk ke wc beliau menaruhnya.” (HR. Al Arba’ah)

Banyak ulama yang tidak menshahihkan hadits diatas, namun mereka sepakat bahwa membaca Al Qur’an di dalam wc adalah haram, karena itu termasuk salah satu penyebab murtad dengan perbuatan jika dilakukan dengan sengaja, yaitu meletakkannya ditempat yang kotor – sebagaimana yang disebutkan Syaikh shalih bin Fauzan bin Abdullah al fauzan di dalam kitab tauhid -.

Adapun al qur’an digital yang dalam keadaan aktif sama halnya dengan mushaf alqur’an disebabkan adanya tulisan bahkan suara ada didalamnya, karenanya hukumnya sama dengan membawa al quran ke wc.

Sedangkan jika alqur’an digital dalam keadaan mati/non aktif, maka diper-bolehkan membawanya kedalam wc/kamar mandi dilihat  dari 2 sisi :

  1. Dikhawatirkan hilang, ditinjau dari berharganya barang,
  2. Diqiyaskan pada memori hafalan alqur’an manusia yang tidak mungkin untuk diletakkan diluar sebelum masuk wc.

 Kesimpulan

Membawa al qur’an digital kedalam wc/kamar mandi dalam keadaan aktif tidak diperbolehkan karena tampak didalamnya tulisan dan suara, sedangkan jika membawanya dalam keadaan mati itu tidak mengapa. Namun jika seseorang lebih mengutamakan kehati-hatian itu lebih baik. Wallahu a’lam bishshawab.

 Referensi :

  • Fiqih Sunnah I/25
  • Taudhihul Ahkam VI/325
  • Nailul Authar II/91
  • Subulussalam I/129

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *