December 09, 2016

Apa hukum membaca Al Qur’an dengan sirr tatkala adzan dikumandangkan ?

Kalau seseorang membaca AL-Qur’an sementara muazin mengumandangkan azan, maka yang lebih utama itu meninggalkan bacaan dan menyibukkan diri dengan mengikuti muazin. Hal itu sebagai realisasi terhadap keumumam sabda Beliau sallallahu’alaihi wa sallam:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ – رواه الجماعة –

“Apabila kalian mendengar panggilan ( adzan ) maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin.” (HR. Al jama’ah)

Dari hadits di atas dapat diambil kesimpulan  disunnahkannya menjawab adzan sesuai dengan apa yang diucapkan muadzin kecuali pada lafazh “hayya ‘alash shalah”  dan “hayya ‘alal falah”  maka jawabannya adalah “la haula wala quwwata illa billah”.

Menjawab adzan ini disunnahkan bagi semua orang yang mendengarnya, baik dia sedang membaca Al Qur’an, belajar, berdzikir, dan yang lainnya, hendaknya dia menghentikan aktifitasnya kemudian menjawab adzan tersebut. Dikecualikan bagi mereka yang sedang berada di dalam WC, jima’ (bersetubuh), dan yang sedang shalat mereka tidak perlu menghentikan aktifitasnya dan menjawabnya.

Imam Nawawi berkata, “Dan disunnahkan menjawab adzan bagi setiap yang mendengar, baik orang yang suci maupun orang yang berhadats, junub dan haid, orang yang sudah dewasa atau anak kecil karena menjawab adzan adalah dzikir dan mereka semua termasuk ahli dzikir. Dikecualikan dari ketentuan ini orang yang sedang shalat, dan oang yang sedang di dalam WC, dan (orang yang sedang) jima’. Apabila selesai dari hajatnya hendaknya ia menjawabnya, apabila dia masih mendengarnya sedang dia sedang membaca (Al Qur’an dan yang lainnya) atau sedang berdzikir atau belajar dan yang semisal, hendaknya ia menghentikannya dan menjawab muadzin kemudian mengerjakan aktifitasnya kembali jika mau (setelah menjawab adzan).”

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, hendaknya yang membaca Al Qur’an menghentikan bacaannya (baik jahr atau sirr) dan mendengarkan serta menjawab adzan, kemudian kembali membaca setelah adzan karena yang menjadi masalah adalah mendengarkan dan menjawab adzannya bukan bacaan orang yang membaca, tapi apabila tetap membaca Al Qur’an ketika mendengar adzan (baik sirr atau jahr) berarti dia sudah meninggalkan sunnah serta perintah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan ini adalah makruh.

Nabi sallallahu’alaihi wa sallam beliau bersabda:

( من قال حين يسمع النداء اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة آت محمدا الوسيلة والفضيلة وابعثه مقاما محمودا الذي وعدته حلت له شفاعتي يوم القيامة ) ، زاد البيهقي بإسناد حسن : ( إنك لا تخلف الميعاد )

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika (selesai) mendengar azan mengucapkan, Ya Allah Tuhan doa yang sempurna ini, dan shalat yang akan ditunaikan. Berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Serta bangkitkanlah (beliau) di tempat yang mulia sebagaimana yang telah Engkau janjikan kepadanya. Maka layak baginya mendapatkan syafaatku di hari kiamat.’ Ditambahi dalam Baihaqi dengan sanad hasan, ‘Sesungguhnya Engkau tidak pernah pernah menyalahi janji.”

Dalam hadits shohehain dari hadits Abi Said Al-Khudori radhiallahu’anhu, dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam sesungguhnya beliau bersabda, “Kalau kamu semua mendengarkan muazin (mengumandangkan azan) maka ucapkan seperti apa yang dia ucapkan.’ Dan dalam shoheh Bukhori dari Jabir bin Abdullah radhiallahu’anhuma dari Dan karena menjawan muazin itu sunnah, akan kehilangan kesempatan kalau dia lanjutkan membaca (Al-Qur’an). Sementara bacaan tidak akan terleawatkan karena waktunya luas. Semoga Allah memberikan taufiq kepada semuanya.

Wallahu a’lam bishshawab.

            Referensi :

–          Fiqhus Sunnah I/95-96.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *