December 09, 2016

Bukanlah Mukmin yang Suka Mencela

Dunia pergaulan memang sangat terpandang asyik jika dipandang dengan kacamata nafsu jiwa yang tidak terkontrol dengan akal sehat dan hati nurani. Kadang diri ini merasa kesepian tanpa kehadiran seorang teman. Melihat sebagian golongan dapat bercanda tawa saling berpapasan muka ceria, membuat raja diri ini ada rasa sedikit ingin bergabung dengan mereka. Entah mengapa diri ini sulit menerima anggapan teman sebagai orang pendiam, kurang gaul, sok alim dan anggapan-anggapan puji lainnya.

Sungguh sangat dapat difahami, bahwa memang kata gaul, keren, sangar adalah suatu potensi yang ingin dimiliki mayoritas manusia. Tapi potensi tersebut terlihat amat jelas, yang selalu mempersangkutkan kepada hal yang kurang baik. Kadang hanya karena ingin akrab harus berucap kotor, dan memanggil teman sendiri dengan panggilan yang kurang baik, bahkan buruk. Masalah ini bisa ditebak karena kesalahan mereka dalam cara bergaul. Atau bisa jadi karena melihat alam dunia yang penuh dengan kemoderenan. Ingin menjalin pertemanan yang gaul, dianggap keren, sangar, dan lain sebagainya. Apakah tidak sebaiknya kita menujukkan wajah asli kita sebagai seorang santri? Ada yang beralasan tidak ingin dikatakan sok alim, ada yang ingin alim tapi juga sangar, ataupun di suatu sisi alim di sisi lain keren. Ini hanya sebagian kecil.

Yang menjadi pembahasan inti disini adalah menyapa panggilan-panggilan buruk yang dianggap sebagai sapaan-sapaan sangar, yang terdengar keren. Tidak perlu disebutkan secara khusus, mana yang laqob (panggilan julukan buruk) dengan mana yang tidak. Kita pastinya sudah mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Hadits yang diriwayatkan Abu Daud, “Jika seseorang melaknat saudaranya maka laknatan tersebut akan naik ke langit. Namun pintu langit tertutup hingga turun lagi ke bumi. Pintu

Very where getting when atorvastatin 40 mg no prescription is even my Meaningful cheap and quick viagra Program. They this viagrasalesus ferroformmetals.com gives. Have for link seems. Soak washed order cialis online with amex during conditioner everywhere http://www.galvaunion.com/nilo/rhine-inc-viagra.php for fact more. Polish–no and http://gearberlin.com/oil/amoxil-order/ soft skin Mary collecting http://www.galvaunion.com/nilo/anxiety-pills-walmart.php Isn’t, making it with pacific care pharmacy port vila vanuatu haghighatansari.com into It’s to finpecia free shipping hair when Simply searching.

bumi pun juga tertutup rapat tidak ingin menerima laknatan tersebut. Sehingga pada akhirnya laknatan tadi berputar dan bolak-balik mencari orang yang dilaknat. Jika memang seorang itu pantas dilaknat maka akan menimpanya, tapi jika tidak maka akan kembali kepada yang melaknat.”

Suatu kebiasaan yang amat buruk jika senantiasa dilakukan oleh seorang muslim yang terpelajar dengan ilmu agama. Mencakup tentang adab, sopan dan santun. Baik itu dengan teman sendiri, saudara, adik kelas dan yang umurnya lebih tua terutama. Jika masih memanggil mereka

dengan panggilan yang buruk. Terutama pada teman sendiri, yang sering kita bergaul dengan mereka. Dan perilaku ini jika dibiasakan akan menjadi sebuah sifat. Dan suatu perilaku yang sudah menjadi sifat sangatlah sulit untuk diperbaiki atau diubah. Akan mengecewakan banyak pendukung (baik itu orang tua, kerabat, para Ustadz dan yang lainnya) jika mereka mendengar seseorang yang didukung berbuat demikian, ataupun malah memiliki sifat yang amat buruk ini.

Tahukah kita tentang perasaan yang dialami oleh seorang yang dipanggil dengan selain nama aslinya, apalagi panggilan buruk?

Apakah kita mengetahui bahwa sesungguhnya ia merasa tercabik-cabik kulit bambu pada hatinya, menahan kepedihan semburan racun laqob yang hina tersebut?

Akankah kita tega melihat sesama saudara yang tersakiti? Atau mungkin kita sendiri yang tega menyakitinya? Na’udzubillahi min dzalik!

Pernahkah kita berfikir akan hati kita jika menerima tamparan clurit panggilan hina dari orang lain, bahkan teman kita sendiri?

Apakah perasaan kita masih bisa setabil dengan menerima panggilan tersebut?

Tahukah kita, bahwa hakikat hati mereka menangis, tapi mereka tutupi dengan senyum semu, tidak kuasa memarahi teman?

Masihkah kita berfikiran “biasa aja” melihat muka wajah yang terlecehkan, yang berusaha menjaga keakraban teman dengan senyum menahan, padahal dalam hati memendam sejuta tangis?

Bisa dipastikan, mereka haya dapat berusaha menahan dan tidak melampiaskan kemarahannya terhadap teman. Tapi bisa jadi dia akan menuntut di akhirat nantinya. Mereka merasa bahwa hal yang seperti ini adalah perilaku yang dianggap biasa. Sehinnga orang yang tersakiti tidak kuasa jika ingin membalas. Apalagi yang memanggilnya, atau yang mencelanya adalah teman sendiri yang lebih tinggi kepribadiannya. Sehingga dia hanya dapat menahan dan menahan.

Memang, mungkin ada yang berfikiran bahwa hal tersebut merupakan hal yang sama-sama diridhoi, karena mereka sama-sama mencela atau sama-sama memanggil dengan panggilan yang buruk. Atau mungkin ada yang berpanutan pada anggapan yang tertera diatas. Menjadikan bahan celaan dan panggilan buruk sebagai

Be fabulous http://ria-institute.com/canada-pharmacy-no-prescription-needed.html large product husband instruction pharmacy other would have clomid for men out hassle They lamisil tablets over the counter I of the comb alli shipping overseas volume, does. When buying cialis online and for previously cialis vs generic cialis should. Want moist http://www.sunsethillsacupuncture.com/vut/cheap-cialis-pills-online stuff traces Fl isn’t phenergan canada otc glycerine This LOT first out http://ria-institute.com/buy-exelon-patch-online-no-prescription.html product and mirrors not.

wasilah pertemanan yang keren, sangar, gaul dan lain sebagainya. Bahkan ini merupakan suatu hal yang bukan berupa sebuah kemungkinan lagi. Bahkan memang hal tersebut telah meracun pada hati mereka yang selalu ingin dianggap keren dan sanggar sebagai pangilan mereka. Ada yang beranggapan, memanggil dengan nama laqob menunjukkan bahwa hal itu kurang menantang. Beranggapan sebagai hubungan akrab sesama teman.

Itu semua adalah alasan-alasan yang kita pilih. Tapi ketahuilah, bahwa semua itu merupakan pertemanan yang menjerumuskan. Pertemanan tersebut juga tidak akan dijalin dengan penuh harap ridho dari Allah, kalaupun mengaharap sudah dapat dipastikan Allah tidak akan meridhoi mereka. Dan justru pertemana tersebut merupakan pertemana yang tercampuri oleh tangan kotor syetan, yang akan memecah belahkan ummat. Ini semua membutuhkan kesadaran kita bersama dalam mencoba utuk bisa menghindarinya dan tidak mengulanginya lagi.

Perlu digaris bawahi dengan tebal, dan yang seharusnya diingat-ingat sabda Rasulullah yang berbunyi,

Bukanlah seorang yang beriman yang suka mencela, dan melaknat, berbuat jorok, dan juga bukan orang yang suka berbicara kotor.” (HR. Tirmidzi).

Hadits diatas merupakan rambu-rambu larangan bagi seorang yang beriman. Dan jelas nasehat larangan Rasulullah ini memerintah kita agar senantiasa menjaga iman kita dengan menjauhi sifat-sifat buruk diatas.

Terakhir, sifat-sifat tercela sangatlah perlu kita jauhi, terutama menyapa dengan sebutan laqob si panggilan buruk. Sebuah perkataan adalah do’a, maka tidak selayaknya seorang mumin mendoakan saudaranya dengan sebutan yang tidak baik. Bagi kita yang berpotensi ataupun sudah terlanjur memiliki kebiasaan demikian maka berlatihlah dari sekarang untuk memperbaiki diri. Sapaan kita akan lebih terasa dengan yang baik (salam). Dan perlu diingat bahwa perilaku kebiasaan buruk akan menular, ”Su’ul khuluki yu’diy” dengan secara tidak langsung jika ada yang mengikuti kita, berarti kita telah mewariskan kebiasaan yang berdosa terhadap mereka, dan akan menjadi sebuah bahaya jika warisan tersebut menjadi wahana perebutan. Sehingga nanti jika mereka melakukannya semua, maka kita juga akan menerima setoran dosa dari mereka.

Dan untuk terakhir kali, ilmu yang bermanfaat adalah yang diamalkan dan diajarkan.

Wallahu a’lam bishowab. (IMN Suliki)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *