December 07, 2016

Menjadi Kaya Tanpa Harta

Betapa terlihat bahagia ketika kita melihat saudara atau tetangga kita berlimang harta yang mampu membeli apa saja yang diminta anaknya, kemudian kita membandingkan kepada diri kita yang miskin tidak mampu membeli apa-apa. Sudah tentu semua orang pada jaman sekarang ingin meanjadi kaya, mempunyai rumah mewah kalaulah tidak mewah cukuplah yang sederhana, atau tercukupi segala kebutuhannya dari makanan, pakaian dan lain-lainya.

Segala cara ditempuh agar mampu merasakan kebahagian mempunyai harta, perasaan kurang cukup tidak hanya menjadi penyakit bagi orang miskin tapi juga merupakan penyakit bagi orang kaya. Rasullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ، وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ

“Kalau seandainya anak Adam diberi sebukit emas, niscaya dia akan mengharapkan lebih banyak bukit-bukit emas lainnya. Dan tidaklah yang memenuhi mulutnya melainkan tanah.”  [H.R Bukhori]

Perasaan kekurangan ternyata tidak bisa hilang dengan banyaknya harta di tangan kita, bisa kita lihat berapa banyak orang yang kita nilai sudah terlanjur kaya yang mungkin cukup untuk menafkahi sampai 7 turunan tapi masih saja sibuk akan dunia dan dunia.

Kaya yang Sebenarnya

Kaya yang sebenarnya adalah terletak di hati kita, sangat tepat apa yang disabdakan oleh Nabi kita shollallahu alaihi wasallam kepada Abu Dzar dalam sebuah hadits :

يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى؟ قُلْت: نَعَمْ. قَالَ: وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر؟ قُلْت: نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه. قَالَ: إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Wahai Abu Dzar, adakah engkau menganggap bahawa banyaknya harta itu yang disebut sebagai kaya (mewah)?” Jawab Abu Dzar, “Benar.”  Rasulullah bertanya lagi, “Adakah engkau menganggap bahawa sedikitnya harta itu bermakna faqir (miskin)?” Jawab Abu Dzar, “Benar ya Rasulullah.”  Rasulullah pun bersabda, “Sesungguhnya apa yang dinamakan kaya adalah kayanya hati. Dan faqir adalah faqirnya hati hati (yang tidak pernah merasa cukup).” [H.R Ibnu Hibban]

Rasa Qona’ah dalam hatilah yang sebenarnya bisa menghilangkan perasaan kekurangan, hidup dengan doktrin matrealistis dengan kita setiap hari melihat iklan barang-barang baru serba mewah di televisi membuat kita menjadikan berlimpahnya harta menjadi tolak ukur kebahagiaan, dengan membeli barang yang kita inginkanlah kita akan bahagia.

Orang yang disifatkan dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa serba cukup) dengan rezeki yang dikurniakan Allah. Dia tidak tamak untuk menambahnya tanpa ada keperluan. Dia tidak memaksa-maksa dalam mencarinya dan tidak pula meminta-minta untuk mendapatkannya. Sebaliknya dia selalu bersikap ridha dengan karunia Allah yang Maha Adil padanya. Oleh sebab itu dia pun seakan-akan orang yang berpunya.  Sedangkan orang yang miskin hatinya adalah apa yang berlawanan dengan sifat orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah merasa qona’ah terhadap apa yang diberikan pada dirinya. Sebaliknya dia terus bekerja keras demi menambah hartanya dengan segala cara sekalipun (walaupun dengan cara yang haram). Jika dia tidak mendapat apa yang dikejar, dia merasa sedih dan kesal. Seakan-akan dialah orang yang sangat faqir karena  dia tidak pernah merasa puas dengan apa dimilikinya. Inilah sebenarnya orang yang tidak pernah kaya. 

Tentu pasti kita akan merasakan kebahagian menjadi orang kaya jika hati kita kaya meskipun harta kita tidak melimpah atau rumah masih berupa gubuk derita, apalagi ketika harta telah ada di tangan kita kemudian kita mau berbagi dengan para faqir tentu anda akan mendapatkan sebuah perasaan bukan hanya sebagai orang kaya saja.

Mencari harta memang sudah menjadi keharusan karena kita harus menafkahi keluarga atau setidaknya jika ingin menunaikan rukun islam yang ke 3 dan ke 5, bukan bertujuan untuk mencari kebahagiaan. Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah bertutur di kitabnya fathul barii:

فمن حصل له ما يكفيه واقتنع به أمن من آفات الغنى وآفات الفقر

“Maka siapa saja  yang meraih hasil pendapatan yang dengannya dia merasa cukup, terlepaslah dia dari fitnah kekayaan dan penyakit kemiskinan.”

Wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *