December 09, 2016

Agar Dapat Pertolongan Dari Allah

Pertolongan adalah salah satu janji Allah Subhanahu wata’ala kepada para hambaNya, sebagai bukti sudah banyak yang kita tahu dari sejarah sejak islam hadir sampai sekarang, bagaimana para kaum muslimin yang berjumlah kecil justru lebih unggul di beberapa peperangan. Jumlahnya pun tidak main-main, sampai 5 kali lipat tapi dengan pertolongan dari Allah Ta’ala maka kaum muslimin bisa memenangkan perang Badar, Ahzab DLL.

Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman [Q.S Ar Rum 47]

Sudah barang tentu para sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam memang berhaq mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala karena sifat-sifat yang menjadi persyaratan untuk mendapat pertolongan ada di dalam diri mereka, kita pun bisa mendapatkan pertolongan itu jika mampu meneladani mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam kitabNya :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ()الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. [Q.S Al Hajj 40-41]

Para sahabat Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah orang yang selalu menghiasi diri mereka dengan sifat-sifat yang termaktub pada ayat di atas. Yaitu sifat dari golongan yang Allah Ta’ala janjikan pertolongan.

Sifat Pertama : Keikhkasan Dalam Beramal.

Pernahkah terbayangkan dibenak kita untuk menginfakkan seluruh harta yang kita miliki? Tentu hal semacam ini tidak mudah kecuali bagi mereka yang memiliki keikhlasan dalam beramal. Hal semacam ini mampu dilakukan oleh para sahabat, keikhlasan sering hilang dikarenakan beratnya suatu amal, karena itulah keikhlasan menjadi pondasi dalam beramal.

Sifat kedua : Mendirikan Sholat.

Mendirikan sholat dengan khusyu’ serta menyempurnakan segala syarat dan rukunnya. Serta memperbagus thoharohnya.

“Sesungguhnya ada seseorang yang benar-benar mengerjakan shalat, namun pahala shalat yang tercatat baginya hanyalah sepersepuluh (dari) shalatnya, sepersembilan, seperdelapan, sepetujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan seperduanya saja.” [H.R Abu Daud]

Sifat ketiga : Menungaikan Zakat

Memberikan zakat kepada orang yang berhaq, semata-mata karena mengharap ridho Allah ta’ala sehingga Allah mensucikan harta kita, yang mana harta itu kita jadikan pengganjal perut kita. Ketika kita mengisi perut kita dengan harta yang tidak suci maka sudah tentu do’a meminta pertolongan kita tidak akan di dengar oleh Allah.

Sifat keempat : menyuruh Amar ma’ruf

Lanjutan ayat selanjutnya adalah

وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ

Menyuruh berbuat ma’ruf

Yang dimaksud dengan ma’ruf disini adalah segala apa yang diperintahkah oleh Allah Ta’ala dan RasulNya baik berupa kewajiban atau perkara sunnah. Seorang muslim itu bagaikan sebuah bangunan, tidak hanya saling tolong menolong tetapi juga harus selalu saling mengingatkan untuk saling bertaqwa kepada Allah Ta’ala.

Sifat kelima : Melarang dari perkara munkar

Segala perkara yang dilarang baik itu dosa besar atau dosa kecil yang diremehkan, baik itu dalam perkara ibadah atau akhlak. Karena perkara munkar adalah sebab turunnya bala’ dan menjauhkan kita dari pertolongan Allah subhanahu wata’ala. Meninggalkan nahi munkar juga akan mendatangkan la’nat dari Allah sebagaimana kaumnya Nabi Isa Alaiahi salam

Telah dila’nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. [Q.S Al Maidah 78-79].

Kekuatan fisik tidak menjamin kemenangan dan juga banyaknya kawan tidak menjadi jaminan banyaknya pertolongan jika Allah tidak memberikan pertolongaNya. Janji Allah untuk menolong hambaNya adalah janji yang pasti dipenuhi jika kita memang layak untuk mendapatkan pertolonganNya, jika kita masih mengharap pertolongan dari Allah bahkan kita memang harus mengharapkan pertolongannya,akantetapi kita tak kunjung mendapat perolongan sudah saatnya kita mengkoreksi diri kita masing-masing masih layakkah kita mendapat pertolongan dari Allah.

Wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *