December 07, 2016

Merayakan Kemenangan Tapi Salah Langkah

Kata ‘’lebaran’’ sangat identik dengan suatu perayaan yang bersifat religious, tentunya bagi kaum muslimin sendiri. Setalah sekian lama berpuasa akhirnya datang juga hari yang dinanti. Menurut sebagian orang, kata ‘’lebaran’’memiliki arti kembali suci, dan juga disebut hari kemenangan.

Sejak jauh-jauh hari kita memikirkan planning apa yang ingin kita lakukan atau kita laksanakan, ada yang pulang ke kampung halaman untuk silaturohim, adapula yang hanya di rumah menyambut kedatangan sanak saudara, kerabat serta tetangga yang datang bersilaturahim. Itu semua boleh-boleh saja asal tidak melanggar etika-etika agama yang berlaku, seperti batas pergaulan antara pria dan wanita, yakni larangan bercampurnya antara mereka,. Akan tetapi realita yang ada, hal tersebut justru dianggap sebagai perbuatan biasa, bahkan dianggap perilaku yang modern. Namun bagi seorang yang mu’min ada hal yang harus lebih di perhatikan ketimbang membuat planning yang kurang jelas, apalagi yang tidak begitu harus di lakukan. Yaitu, apakah dalam puasa kita sudah mencapai tujuan yang sebenarnya? sebagaimana yang tercantum dalam al qur’an  ‘’agar kalian bertaqwa’’. Apakah setelah berpuasa itu ketaqwaan kita semakin bertambah, atau bahkan semakin menurun dengan sebab kita menjalankan puasa karna hanya ingin menggugurkan kewajiban saja?

Bulan Ramadhan kian sudah meninggalkan kita. Ada yang sedih, menyesal, namun ada juga yang bergembira, karena telah berusaha memaksimalkan kesanggupan diri dalam beramal. Adapun yang sedih karena merasa bahwa kesempatan untuk melejitkan amal kabaikan kian terlewatkan, menyesal karena merasa belum cukup dalam berbakti dan bersungguh-sungguh dalam mengisi amal kebaikan di bulan yang suci itu. Namun ada juga yang belum sempurna tapi merasa sudah diterima semua amalnya, demikianlah sifat bagi hamba yang berhati mati. Sedangkan kita, dimanakah kedudukan kita? Apakah kita termasuk dalam golongan yang berbahagia, menyasal, ataukah bersedih, atau bahkan pada golongan yang terakhir?  Semua jawaban ada pada kita sendiri.

Perayaan Yang Menyeleweng

Bulan kemenangan. Inilah yang disifatkan orang-orang ketika keluar dari bulan Ramadhan. Entah telah menang melawan siapa, dan usai perang apa,tidak jelas. Seakan-akan telah terbebas dari rintangan yang amat menyiksa diri. Merayakan dengan letusan kembang api bagi orang kaya, memakai oboran oncor bagi yang tidak punya , layaknya perayaan hari raya penyembah api (majusi). Salah satu sebab  karna kurangnya ilmu bagi mereka. Yang perayaan tersebut justru hanya meramaikan hasil-hasil koleksi yang amat menghambur-hamburkan harta, hingga hanya sedikit yang melantunkan kalimat takbir. Kemudian membiarkan pria dan wanita bercampur- baur. Apakah Islam mengajarkan yang seperti ini?. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang tidak diridhoi-Nya.

“Tabligh Akbar” Artis Ibu Kota Di Hari Raya

  Bulan syawal kadang dijalani sebagai bulan pelempiasan,yang pandainya orang yang melampiaskan menggunakan kata-kata yang menyejukkan. Untuk mengekpresikan hal tersebut, tanpa berpikir panjang diramulah berbagai acara hiburan, yang khasnya adalah perayaan music dan nyanyian, yang kian menjadi kebiasaan dan tidak mudah untuk diperbaiki. Anda dapat membuktikan dengan televise yang anda miliki, namun bagi yang tidak memiliki terpaksa harus meyakini! Berbagai grup music maupun band bak yang mendapatkan gelar papan atas hingga yang tidak memiliki gelar. Tema kesucian hati juga tak terlepas dari iringi nyanyian ,. Na’udzubillahi min dzalik!!!

Mensyukuri segala kenikmatan memang dituntut, termasuk ketika seseorang bisa bisa menunaikan kewajiban dari Allah, salah satunya seperti shaum itu sendiri. Tetapi…. Makna syukur yang dituntut adalah mengakui di hatinya bahwa hanya dengan taufiq Allah lah ia dapat mengerjakan kewajiban. Lalu ia memuji Allah dengan lisannya, mentaati Allah dengan memaksimalkn seluruh kemampuan diri kita dan menggunakan nikmat sesuai dengan yang diridhoi-Nya. Bukan dengan kemaksiatan dan kelalaian.

Mengaitkan nyanyian dengan kesucian hati, bisa dibilang jauh panggang dari api. Para ulama’ salaf pendahulu kita justru memaknai sebaliknya. Nyanyian dan music adalah hal yamg menodai hati, meyuburkan nifaq dan kefasikan. Imam malik ketika ditanya perihal yang demikian berkata ‘’perbuatan seperti itu hanya dilakukan oleh orang-ornag fasik saja’’. Begitu juga dengan abu hanifah ‘’mendengarkan nyanyian adalah kefasikan’’. Begitulah komentar para imam madhab tentang nyanyian dan music, menyimpulkan dari semua dalil, meski kurang jelas termasuk nyanyian yang bagaimana.

Oke. Tapi, coba kita perhatikan pada zaman sekarang! Pasti semua nyanyian ada jogetannya, meski yang islami pun ada jogetannya, berjoget erotis, berbagai alat music dan yang bercampur-baur justru lebih berbahaya dari pada nyanyian yang dimaksud oleh para ulama’ yang hidup pada zaman keemasan Islam dulu. Wal hasil, omong kosong jika music dan nyanyian itu merupakan unsur kesucican hati. Ibnu qoyim al jauziah menyebutkan bahwa kasucian hati didapat ketika hati bersih dari syirik yang menghapus tauhid,hawa nafsu yang menentang perintah Allah, bid’ah yang menodai sunnah,lalai yang mengalihkan dzikir dan nafsu yang menodai keikhlasan

Ibadah ko’ musiman??

Ibadah ko’ musiman sich…??… celetuk seorang ikhwan ketika melihat sebagian jama’ah yang shalat di masjid hanya ketika ramadhan saja.  Di tengah- tengah kita mungkin ada yang berfikiran seperti itu, kebanyakan masyarakat Indonesia meramaikan masjid hanya ketika ramadhan saja, setelah itu mungkin tinggal dua atau tiga orang saja, yaa kalaupun dua atau tiga shof paling hanya di awal ramadhan. Demikianlah keadaan Islam era ini sungguh sangat memprihatinkan.

Selayaknya bagi seorang muslim atau muslimah harus menjaga ke-eksistensian mereka dalam beribadah seperti harus rutin shalat berjama’ah di masjid bagi para laki-laki meskipun bukan di bulan romadhon ataupun bagi para wanita harus tetap mengenakan jilbab. Jika kita mengamati fenomena dan realita di akhir zaman ini tentu tak sedikit yang kita jumpai orang yang melakukan hal yang semacam itu, apalagi dikota-kota besar yang rata-rata berkehidupan serba modis dan hedonis.

Wallohu A’lam Bish-Showab

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *