December 05, 2016

Amal Baik Yang Tidak Bermanfaat

Salah satu pelajaran penting yang bisa yang dapat dan kita petik dari sikap para shahabat adalah: “janganlah kita merasa bahwa Allah telah menerima amalan kita (sedangkan kita tidak tahu secara pasti hal tersebut)” yang akibat anggapan tersebut (merasa amalan kita sudah banyak, dan kita menjadi takabbur dan ujub karenanya), menjadikan kita bermudah-mudahan terhadap dosa, sekecil apapun itu.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.” [Muhammad: 33]

Berkata Ibnu ‘Umar: “Kami sekelompok shahabat Rasuulullaah (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mengira bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali PASTI DITERIMA (ALLAH). Hingga turunlah ayat (diatas)”

Berkata Abul ‘Aaliyah: “Dahulu shahabat-shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, menganggap bahwa dosa-dosa tidaklah memudharatkan LAA ILAAHA ILALLAH, sebagaimana amalan (shalih) tidaklah memberikan manfa’at terhadap kesyirikan. Maka turunlah ayat (diatas); sehingga mereka pun TAKUT jangan sampai perbuatan dosa dapat merusak amal.” [Diriwayatkan Imam Mawarzi dalam Ta’zhim qadr Ash Shalat]

Sesungguhnya Allah berfirman:

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَن تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” [Al Baqarah: 266]

Umar radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada para shahabat tentang tafsir ayat di atas, Ibnu Abbas menjawabnya: “Yakni perumpamaan orang yang RAJIN beramal dengan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengirimkan syaithan padanya [kemudian ia mengikuti jejak langkah syaithan tersebut], lalu dia banyak bermaksiat sehingga amal-amalnya terhapus”

Ibn Katsir menafsirkan ayat diatas:

Hadits diatas sudah cukup menafsirkan ayat ini, yakni menjelaskan perumpamaan orang yang melakukan sebaik-baik amal pada permulaan hidupnya, kemudian setelah itu jalan hidupnya berbalik, dia mengganti kebaikan dengan berbagai keburukan – semoga Allah memberikan kepada kita perlindungan darinya – sehingga terhapuslah amal perbuatannya yang dahulu ia lakukan berupa amal shalih oleh perbuatan kedua.

“Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan”

Pertanda baiknya amalan kita; adalah amalan yang mengiringinya. Jika kita mengamalkan amalan buruk, maka itulah buah dari amalan sebelumnya (meskipun amalan sebelumnya terlihat “baik”).

Oleh karenanya jika ternyata kita dapati dalam diri kita sibuk dengan amalan ketaatan, tapi sering jatuh kepada maksiat; maka mungkin “amalan ketaatan” yang kita lakukan tersebut hanyalah secara zhahirnya saja yang shalih; tapi secara bathin, penuh dengan kedustaan (riyaa’/sum’ah)…

Juga sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan” Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui! Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya” [HR. Ibnu Majah]

kita berlindung kepada Allah dari ketertipuan kita terhadap amalan-amalan kita; sehingga menjadikan kita takabbur, sehingga menjadikan kita menganggap mudah untuk melakukan dosa.

Dan tidaklah, suatu amalan shalih, kecuali akan berdampak baik bagi orang yang mengamalkannya, karena nabi bersabda:

إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ أَوَ خَيْرٌ هُوَ

“Sesungguhnya Kebaikan (yang hakiki) itu, tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan, (dan) bukanlah kebaikan itu (yang menipu)”[HR Muslim]

Maka kita memohon kepada Allah, agar kita dimudahkan serta diberikan kekuatan untuk beramal shalih secara TERANG-TERANGAN maupun secara SENDIRIAN; baik secara LAHIR dan maupun BATHIN.

Wallahu a’lam

Ref.

  • Fathul barii
  • Tafsir Ibnu Katsir

 abuzuhriy.com

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *