December 07, 2016

Teman Yang Mengajak Kepada Kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu akan mengikuti agama temannya, karenanya hendaklah salah seorang diantara kalian mencermati kepada siapa ia berteman.” [H.R Ahmad]

Sangat tidak dibenarkan seseorang mengambil setiap orang untuk  menjadi sahabatnya, tetapi dia harus mampu memilih kriteria-kriteria orang yang dijadikannya teman, baik dari segi sifat-sifatnya, perangai-perangainya atau lainnya yang bisa menimbulkan gairah berteman sesuai pula dengan manfaat yang bisa diperoleh dari persahabatan tersebut itu. Teman yang kita pilih bukan hanya orang yang mampu kita ajak bicara, haruslah teman itu mampu mengajak kita kepada kebaikan.

Ada manusia yang berteman karena tendensi dunia, seperti karena harta, kedudukan atau sekedar senang melihat-lihat dan bisa ngobrol saja, tetapi itu bukan tujuan kita. Apabila engkau berada di tengah-tengah suatu kaum maka pililhlah orang-orang yang baik sebagai sahabat, terlebih lagi para pemuda yang sering terseret kepada kejelekan bukan dari dirinya sendiri namun karena salah memilih teman.

Bersosialisasi adalah bagian dari kehidupan manusia, sehingga dia pasti membutuhkan teman meskipun hanya 1 orang saja. Ditambah lagi beratnya kehidupan sering membuat orang membutuhkan teman untuk mendengar keluhannya, tempat bertukar pikiran dan bermusyawarah. Namun ketika ia salah dalam memilih teman untuk dimintai pendapat, bisa saja hal itu menjerumuskan kepada kejelekan. Seorang yang bukan pencuri dikarenakan ia berteman dengan pencuri maka bisa saja ia menjadi pencuri juga dikarenakan kita meminta solusi kepada orang yang salah.

Maka dalam pergaulannya dia akan memilih teman yang baik dan shalih/shalihah, yang benar-benar memberikan kebaikan pada dirinya dan selalu memberi nasihat. Karena bergaul dengan orang-orang shalih/shalihah akan menjadikannya sebagai teman yang selalu mendatangkan manfaat dan pahala yang besar, juga akan membuka hati untuk menerima kebenaran. Maka kebanyakan teman akan jadi teladan bagi temannya yang lain dalam akhlak dan tingkah laku. Seperti ungkapan:

“Janganlah kau tanyakan seseorang pada orangnya, tapi tanyakan pada temannya. karena setiap orang mengikuti temannya”.

Bertolak dari sinilah maka seorang muslim/muslimah senantiasa dituntut untuk dapat memilih teman, juga lingkungan pergaulan yang tak akan menambah dirinya melainkan ketakwaan dan keluhuran jiwa. Sesungguhnya Rasulullah juga telah menganjurkan untuk memilih teman yang baik (shalih/shalihah) dan berhati-hati dari teman yang jelek. Hal ini telah dimisalkan oleh Rasulullah melalui ungkapannya:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (shalih/shalihah) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau menibeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap”.[H.R Bukhori]

Dari petunjuk agamanya, kaum muslimin akan mengetahui bahwa teman itu ada dua macam.

Pertama, teman yang shalih/shalihah, dia laksana pembawa minyak wangi yang menyebarkan aroma harum dan wewangian.

Kedua, teman yang jelek laksana peniup api pandai besi, orang yang disisinya akan terkena asap, percikan api atau sesak nafas, karena bau yang tak enak.

Dalam berteman memang ada dua kemungkinan, kita yang diwarnai atau kita yang mewarnai. Kembali lagi kepada niat kita jika ingin mengajaknya kepada kebaikan atau hanya sekedar mencari teman bicara. Jika niat kita memang mengajaknya kepada kebaikan maka kita harus benar-benar mampu serta bersungguh-sungguh, jangan sampai justru kitalah yang diwarnai. Dan jika niat kita hanya mencari teman bicara maka carilah dari sisi agamanya agar kita mampu mengambil bau wangi dari teman kita.

Wallahu a’lam

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *