December 07, 2016

Shalat Sunnah Di Waktu Yang Terlarang Untuk Mengerjakan Shalat

Dalam masalah ini ada dua pendapat yang keduanya sama-sama mempunyai dalil yang kuat.

Pendapat pertama

Menurut pendapat pertama mengatakan bahwa melaksanakan shalat sunnah di waktu-waktu terlarang itu boleh berdasarkan dalil :

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتيَّ يُصَلِّي رَكْعَتـَيْنِ

“Apabila salah seorang diantara kalian memasuki masjid maka janganlah ia duduk sampai ia shalat dua raka’at !.” (HR. Yang Tujuh dan Ad Darimi)

Dan hadits Zubair bin Mat’am bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda,“Hai keluarga Abdi Manaf jangan kamu larang siapapun melakukan thawaf atau shalat di rumah (ka’bah) kapanpun yang  dikehendakinya baik malam ataupun siang.”  

Pendapat ini merupakan pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’i dengan mengambil dalil dari hadits di atas (tentang shalat tahiyyatul masjid).

Pendapat kedua

Adapun pendapat yang kedua menyatakan bahwasanya shalat diwaktu-waktu terlarang itu tidak boleh dengan alasan hadits–hadits berikut :

لاَصَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الْعَصْرِ حَتيَّ تَغْرُبَ الشَّمْسُ وَلاَصَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ حَتيَّ تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah shalat ‘ashar dan tidak ada shalat setelah shalat fajar sampai terbitnya matahari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan  hadits :

“Ada tiga waktu yang padanya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam melarang kami untuk melakukan shalat dan menguburkan mayyit, (yaitu) ketika matahari terbit dengan benderang sampai ia terangkat naik, ketika ia berada di tengah langit, dan ketika ia condong hendak terbenam sampai terbenam.” (HR. Al Jama’ah kecuali Al Bukhari).

Pendapat ini merupakan pendapat ashhabur ra’yi dengan mengambil dalil–dalil dari umumnya larangan shalat di waktu yang terlarang.

Kesimpulan :

Demi kehati–hatian maka pendapat yang diambil dari kedua pendapat di atas yaitu hendaknya kita tidak melakukan shalat di waktu-waktu terlarang. Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi :

  • Fiqhus Sunnah I/225
  • Al Mughni Wasy Syarhul Kabir I/794.
  • Al Fatawa VII/242.
  • Sunan Abi Dawud /122.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *