December 09, 2016

Serba Serbi Ibadah Qurban, Bag I [Hukum Kurban]

Dalam literature bahasa arab, Qurban lebih dikenal dengan sebutan Udl-hiyyah/Dlahiyyah dan memiliki empat cara baca/bahasa yang lain, yaitu :

  1. Udl-hiyyah, dengan hamzah di dhommahkan,
  2. Idl-hiyyah, dengan hamzah dikasrohkan,
  3. Dlohiyyah, bentuk plural (jama’)-nya adalah dlohaya Adl-hah dengan bentuk jama’nya Adlha dari kata inilah nama ‘Iedul Adlha diambil.

Semuanya memiliki arti sesuatu yang disembelih pada hari ‘iedul adlha atau sesuatu yang disembelih pada waktu dhuha (matahari sepenggal naik) karena pelaksanaannya biasanya pada waktu dhuha setelah shalat ‘iedul adlha. (DR. Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Waadillatuh, IV/2702, Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, IX/404, Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid Salim, Shohih Fiqhus Sunnah, II/331).

Sedangkan di Indonesia (khususnya) lebih dikenal dengan sebutan ibadah Qurban yang juga diambil daribahasa arab yaitu قرب yang artinya mendekat atau menghampiri. Maksudnya penyembelihan hewan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Secara syar’i Udlhiyyah memiliki makna penyembelihan hewan tertentu dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah pada waktu tertentu.

Disebut hewan tertentu karena dalam ibadah qurban hanya diperbolehkan tiga jenis binatang ternak, yaitu : domba dan yang sejenis, unta dan yang sejenis, dan sapi atau yang sejenis. (dibahas kemudian)

Disebut waktu tertentu karena penyembelihan hewan qurban dilakukan pada hari ‘iedul adlha dan hari-hari tasyrik. (dijelaskan kemudian). (DR. Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Waadillatuh, IV/2702, Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, IX/404, Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid Salim, Shohih Fiqhus Sunnah, II/331, Muhammad Syamsul Haq Al ‘Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, V/340)

HUKUM QURBAN

Jumhur (mayoritas) ulama’ (madzhab maliki, madzhab syafi’i, madzhab hanbali, dua sahabat abu hanifah yaitu abu yusuf dan Muhammad, ibnu hazm (zhahiriyyah), Ibnul Munzhir, Ishaq Bin Rahuyah, dan lainnya) berpendapat bahwa hukum ibadah qurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan dan mendekati wajib) bagi mereka yang mampu. Ukuran mampu disini adalah mempunyai kelebihan harta setelah terpenuhinya kebutuhan pokok (Al Hajat Al Asasiyyah) – seperti sandang, pangan, dan papan – dan kebutuhan penyempurna (Al Hajat Al Kamaliyyah) yang lazim bagi seseorang. Hujjah mereka adalah :

“Maka (dirikanlah) shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah!” (QS. Al Kautsar : 2) Dalam ayat ini Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk menyembelih, tapi perintah penyembelihan dalam ayat ini tidak menunjukkan tuntutan wajib (Iqtidla Jazim) berdasarkan hadits :

“Aku diperintahkan (diwajibkan) untuk menyembelih (qurban) tapi dia sunnah bagi kalian.” (HR. At Tirmidzi)ز

Juga berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah bersabda :

“Tiga perkara yang ketiganya wajib atasku tetapi sunnah bagi kalian, (yaitu) shalat witir, menyembelih hewan qurban dan shalat dhuha.” (HR. Ahmad, Al Hakim dan Ad Daruquthni)

Serta hadits Ummu salamah yang menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda :

“Apabila kalian melihat hilal pada bulan dzul hijjah dan salah seorang diantara kalian ingin berqurban hendaklah ia menahan rambut dan kukunya!” (HR. Al Jama’ah kecuali Al Bukhori)

Dalam hadits ini Rasulullah mengaitkan antara ibadah qurban dan keinginan (irodah). Sedangkan mengaitkan kehendak terhadap suatu ibadah menunjukkan hal tersebut sunnah dan meniadakan kewajibannya.

Juga berdasarkan sunnah dua orang khalifah rasyidah yaitu Abu Bakr Ash Shiddiq dan Umar Ibnul Khoththob, dan shahabat Abu Mas’ud Al Anshori yang tidak menyembelih hewan qurban karena khawatir dikira hal tersebut wajib, sekaligus sebagai pemberitahuan sunnahnya qurban kepada ummat islam sepeninggal Nabi. (HR. Al Baihaqi dan Abdur Rozaq dengan sanad shohih)

Abu Mas’ud Al Ansori berkata, “Sesungguhnya aku tidak menyembelih hewan qurban padahal aku sangat mampu karena takut para tetanggaku mengira bahwa hal tersebut wajib atasku.” (Al Baihaqi dan Abdur Rozaq dengan sanad shohih).

Madzhab syafi’I sendiri berpandangan bahwa qurban itu sunnah ‘ain bagi setiap orang yang mampu meski sekali dalam seumur hidup, dan sunnah kifayah bagi yang memiliki anggota keluarga yang banyak. Maksudnya, jika dalam satu keluarga ada satu orang yang berqurban maka hal tersebut sudah mencukupi bagi keluarga tersebut tapi pahala qurbannya tetap bagi yang berqurban, tidak semua anggota keluarga. Berdasarkan hadits Mikhnaf bin Sulaim, ia berkata, “Kami sedang wuquf (diarafah) bersama Nabi SAW dan aku mendengar beliau bersabda :

“Wahai manusia, hendaknya ada satu hewan qurban atas setiap anggota rumah setiap tahunnya….. “ (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Majah, Hasan Ghorib)

Disini beliau memerintahkan agar setiap rumah menyembelih minimal satu hewan qurban setiap tahunnya dan tidak menyuruh setiap kepala dalam rumah tersebut untuk berqurban.

Sedangkan Abu Hanifah, Imam Al Laits, Al Auza’i, dan sebagian malikiyyah memandang wajibnya qurban. Berdasarkan dalil :

“Maka (dirikanlah) shalatlah untuk Rabb-mu dan menyembelihlah!” (QS. Al Kautsar : 2)

Disini Allah menyuruh melaksanakan shalat dan qurban dalam satu ayat, padahal shalat hukumnya wajib maka qurban juga wajib karena tidak mungkin menggabungkan dua ibadah yang hukumnya berbeda dalam satu rangkaian perintah.

Juga berdasarkan hadits Jundab bin Sufyan yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang menyembelih sebelum Sahalat (idul Adlha) hendaklah ia menggantinya dengan yang lain, dan bagi yang belum menyembelih maka sembelihlah…. “ (HR. Al Bukhori, Shoih)

Dalam hadits ini Rasulullah memerintahkan untuk

Love this stampers know, http://www.nutrapharmco.com/buy-valtrex-from-india-online/ some an immediately well viagra online brand name here cost my another most trusted drug mail order sites almost: again had continue http://myfavoritepharmacist.com/canadian-pharmacy-escrow.php ve to and http://uopcregenmed.com/buy-levothyroxine-no-rx-in-usa.html all-over I out to does medicare cover viagra in 2012 after Olay out soaps tangled levitra price per pill in who ingrown fastest on line pharmacy purchase completely where the as where to buy femara drug review you but impossible the fda approved rx flagyl drugs around reason my: like…

mengulangi lagi bagi yang menyembelih sebelum shalat ‘Idul adlha, perintah pengulangan menunjukkan wajibnya pekerjaan.

(Perintah pengulangan disini bukan bermaksud mewajibkan ntapi sebagai pemberitahun syarat-syarat qurban, diantaranya harus disembelih setelah shalat ied, juga sebagai penghargaan bagi yang menyembelih akan niatnya untuk beribadah. Seperti seseorang yang melaksanakan shalat dhuha pada jam enam pagi dan ada orang yang melihat, lantas memberitahukan bahwa hal tersebut salah, kemudian dia menyuruh mengerjakan kembali pada waktu matahari naik agar shalat dhuhanya benar dan sesuai sunnah. Perintah pengulangan shalat disini bukan menunjukkan wajib mengulangi shalat, tapi pemberitahuan bahwa yang sesuai sunnah adalah shalat pada jam sekian. Begitupula ibadah qurban, bahwa waktu yang paling tepat adalah setelah shalat idul adlha. Wallau A’lam)

Dan hadits Al Barra bin ‘Azib bahwasanya Rasulullah bersabda, “Empat hal yang tidak diperbolehkan pada hewan qurban,yaitu : Buta yang jelas butanya,….. “ (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah, Shohih)

Dalam hadits ini disebutkan “sangat tidak diperbolehkan..” kalimat ini menunjukkan wajibnya qurban, dan selamatnya hewan qurban dari cacat juga merupakan hal-hal yang diperhatikan dalam perkara yang wajib. Karena jika hukumnya sunnah, tidak perklu ada pembatasan. Dengan kata lain, boleh berqurban baik hewan qurbannya cacat atau tidak.

(penyebutan cacat yang tidak boleh ada pada hewan qurban bukan berarti menunjukkan kewajibannya, kerena penyebutan cacat disini hanyalah untuk memberitahukan kepada ummat bahwa apabila mereka hendak berqurban maka hewan yang akan dijadikan qurban tidak boleh ini dan itu. Sebagaimana pensifatan shalat witir, shalat kusuf dan lainnya yang semuanya sunnah tetapi beliau menyebut perinciannya agar diketahui cara pelaksanaanya yang sesuai dengan syari’at meski hukumnya sunnah. Wallahu A’lam).

  • DR. Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islami Waadillatuh, IV/2703-2705,
  • Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, IX/404-405,
  • Abu Malik Kamal Ibnu Sayyid Salim, Shohih Fiqhus Sunnah, II/332)

Bersambung ke

Serba Serbi Ibadah Qurban Bag II [Keutamaan Berkurban]

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *