December 07, 2016

Nila Setitik tak Boleh Rusak Susu Sebelanga

“Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga”, pepatah yang sering digunakan untuk pengibaratan karena kejelekan yang kecil maka rusaklah kebaikan yang banyak, hal ini berlaku juga terhadap image seseorang. Orang yang sedari dulu terpandang ketika melakukan kesalahan sedikit maka masyarakat dengan sekejap kehilangan rasa hormat kepada orang tersebut.

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita:

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika si pria tidak menyukai suatu akhlak pada si wanita, maka hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridhai” [HR. Muslim]

Jangan sampai hanya karena satu perbuatan yang kita tidak ridhai dari seseorang menjadikan kita melupakan kebaikan yang dominan darinya, Rasuulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَىْءٌ

“Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatupun yang menajiskannya.” [HR. Ibnu Majah]

Sebagian ulamaa’ berdalil dengan hadits diatas, barangsiapa yang dominan padanya kebaikan (dan memang dikenal berada diatas kebenaran), maka beberapa keburukan yang ada pada dirinya TIDAKLAH menjadikan segala kebaikan yang ada padanya tidak dianggap.

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dikarenakan manusia bukanlah makhluq Allah subhanahu wata’ala yang ma’sum dari perbuatan salah. Jika penilaian kita hanya berdasar kesalahan saja tentu semua manusia ini adalah jelek karena pernah melakukan kesalahan.

Di dalam sebuah hadits diterangkan bahwa mayoritas penduduk neraka adalah wanita yang durhaka akan kebaikan suaminya, yaitu wanita yang hanya melihat suaminya sendiri dari sisi kesalahan dan kejelekannya saja.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering mengingkari”. Ditanyakan: “Apakah mereka mengingkari Allah?” Beliau bersabda: “Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: “aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu”. [H.R Bukhori]

Bukan hanya terbatas antara hubungan suami dan istrinya saja, dalam masyarakat umum pun kita tidak boleh memandang seseorang dari kejelekannya saja. Banyak diantara “mantan preman” yang gagal bertobat dikarenakan tidak adanya kepercayaan dari masyarakat, memang wajar jika ia itu terjadi pada seorang preman, namun jika hal itu terjadi pada seorang yang terpandang yang sedang mencoba bertobat dari kesalahan kecilnya, inilah yang harus kita rubah dari pola berfikir kita dalam menilai seseorang.

Maka dari itu, jangan terlalu menerapkan pepatah “Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga”, apalagi kejelekan itu hanyalah berita bermodal qiila wa qool.

Wallahu ‘alam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *