December 07, 2016

Apakah Muntah Dapat Membatalkan Wudlu?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu mengetahui terlebih dahulu apakah muntah itu merupakan pembatal wudlu atau bukan. Dalam hadits di sebutkan salah satu pembatal wudlu yaitu apa yang keluar dari dari dua lubang, dubur dan qubul. Namun adapula hadits lain yang menerangkan bahwa Rasullah berwudhu setelah muntah

Dari  Abu Ad-Darda bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah muntah, lalu beliau berbuka dan berwudhu. Kata Ma’dan: “Aku berjumpa dengan Tsauban di masjid Damaskus, maka aku sebutkan hal itu padanya, Tsauban pun berkata: “Abu Ad-Darda benar, akulah yang menuangkan air wudhu beliau shollallahu alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi)

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata: “Al-Baihaqi mengatakan bahwa hadits ini diperselisihkan (mukhtalaf) pada sanadnya. Kalaupun hadits ini shahih maka dibawa pemahamannya pada muntah yang sengaja.” Di tempat lain Al-Baihaqi berkata: “Isnad hadits ini mudhtharib (goncang), tidak bisa ditegakkan hujjah dengannya.”

Sedangkan muntah itu keluar dari mulut bukan diantara kedua lubang itu, tetapi dalam masalah ini terdapat beberapa pendapat antara yang  membatalkan dan yang tidak membatalkan:

  1. Madzhab hanafi mengatakan dapat membatalkan wudlu jika memenuh mulut.
  2. Madzhab maliki menyatakan tidak membatalkan wudlu.
  3. Madzhab syafi’i berpandangan bahwa muntah tidak membatalkan wudlu.
  4. Madzhab hambali berpendapat batalnya wudlu jika jumlahnya banyak, akan tetapi jika ia mengeluarkan dengan sengaja maka wudlunya batal sebagaimana halnya shaum.

 

Kesimpulan

Berdasarkan hadits yang menyatakan bahwa muntah bukan termasuk pembatal wudlu  kita dapat mengambil kesimpulan bahwa wudlunya tidak batal sesuai dengan maksud hadits tentang batalnya wudulu jika sesuatu keluar dari qubul dan dubur tersebut. Hukum asal perkara ini tidaklah membatalkan wudhu. Sehingga barangsiapa yang menyatakan suatu perkara menyelisihi hukum asalnya maka hendaklah ia membawakan dalil.
Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi

  • Badai’us Shana’i I/26
  • Fiqih Al – Hanafi I/ 87
  • Fiqih Al – Hanabilah I/114
  • Kitabul Fiqh ‘Alal Madzahib Al – Arba’ah III/204
  • Nailul Authar, 1/268

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *