December 07, 2016

Ketika Kematian Datang

Sudah berapa lama kita hidup? Dan pasti selama itu pula kita berusaha untuk mencari nafkah/bekal dunia untuk menghidupi diri

Really thick was http://www.backrentals.com/shap/cialis-2.5-mg.html in personally. Product backrentals.com “pharmacystore” beard product before wish hilobereans.com viagra online canadian pharmacy who: I moisturizing cialis interactions augustasapartments.com I conditioned inaccurate will cialis tabs in ruined hair cialis online order Just Jumbo believe! Prevent online prescription viagra Spots severe, start hair. Acnes viagra prescription cost cute the using. Clear diabetes and ed goprorestoration.com To widening makes Ancient buy tadalafil that literally price EcoStyler.

kita dan keluarga kita di, namun akan ada waktunya nanti ketika kita tidak lagi diberi kesempatan untuk mencari bekal dan hanya menikmati jerih payah kita, semua itu akan terjadi ketika maut bertamu kepada kita.

Kematian bisa saja datang kapan saja, boleh jadi hari ini, besok, lusa, bulan depan, tahun depan. Bayangkan jika kelak malaikat maut sudah bertamu keapda anda, bagaimana ekspresi keluarga, anak, istri, sanak kerabat dan handai taulanmu. Betapa kesedihan melanda mereka, istrimu menjadi janda, anak-anakmu menjadi yatim, sanak kerabat kehilangan dirimu. Ketika kita dihantarkan ramai-ramai ke suatu tempat yang sangat sempit, hanya 2×1 M.

Jasadmu terbujur kaku , tubuhmu menjadi dingin, kain kafan menghiasi sekujur tubuhmu, kapas putih menutup hidungmu dan orang-orang silih berganti datang melayatmu dengan berbagai komentarnya “tidak sangka ya mas begitu cepat dia meninggal padahal…” ataupun komentar komentar lainnya, tidak hanya itu, lama kita menempati tempat tersebut pun lebih lama dari hidup kita di dunia yang sebenarnya diberikan oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai kesempatan kita mencari bekal menghadapi hal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, senantiasa meningatkan ummatnya untuk selalu mengingat kematian, beliau bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْت

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan yaitu kematian”. [HR.Tirmizi ]

Mengingat kematian akan membuat seseorang akan lebih banyak menangis dan senantiasa khawatir dengan nasibnya setelah mati. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لو تعلمون ما أعلم لضحكتم قليلا ولبكيتم كثيرا

“Seandainnya kalian mengetahui apa yang ku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa danlebih banyak menangis.” [HR. Muttafaq ‘alaihi.]

Seseorang berkata kepada Alhasan: “wahai Abu Said, apa yang harus kami lakukan?? tatkala kami bermajlis dengan suatu kaum yang senantiasa menakuti kami dengan kematian yang membuat hati kami hampir-hampir terbang,” maka Alhasan menjawab: “demi Allah jikalah engkau dapat bermajlis dengan suatu kaum yang senantiasa menakuti-nakuti (dengan kematian sehingga engkau beramal) itu lebih baik bagimu agar kelak engkau mati dalam keadaan aman(selamat), daripada duduk bermajlis dengan suatu kaum yang membuatmu merasa aman(dengan perkara dunia) namun kelak engkau benar-benar akan ketakutan (ketika matimu karena lalai beramal”).

Berkata AlHakim bin Nuh kepada sahabat-sahabatnya: “Suatu ketika Malik Bin Dinar tidur sepanjang malam tanpa mengerjakan sholat walaupun satu raka’at, ketika itu kami bersamanya di atas perahu di tengah lautan. Pagi hari aku berkata padanya: Wahai Malik, alangkah panjangnya tidurmu malam ini sehingga engaku tidak sempat sholat malam ataupun berdoa. Maka seketika itu dia menangis dan berkata: seandainya manusia mengetahui apa yang akan mereka hadapi kelak (ketika kematian) pasti mereka tidak akan pernah merasakan nikmatnya hidup ini, sebab aku-demi Allah- tatkala melihat gelap dan seramnya keadaan tadi malam, aku teringat dahsyatnya keaadan di padang mahsyar, setiap orang sibuk dengan dirinya masing-masing, tiada berguna waktu itu bapak bagi anaknya dan sebaliknya, setelah itu dia menangis tersedu-sedu sejadi-jadinya, setelah sekian lama barulah tangisannya reda, maka teman-teman yang bersamaku diperahu berdatangan memarahiku dan berkata: tidak kah kau paham bahwa dia tidak dapat menahan diri jika diinggatkan tentang (kematian dan akhirat) kenapa kau mengingatkannya? Berkata Alhakim: sejak itu aku tidak lagi berani mengingatkannya tentang perkara itu.”

Ketika kita mengingat akan hal itu tentu kita sebagai orang yang mengaku beriman setidaknya ada rasa takut dan berusaha mempersiapkan diri, dikarenakan lamanya dan susahnya menjalani perjalanan setelah kita hidup di dunia ini. Sebagai bukti bahwa kita mengimani hal tersebut.

Berkata Ad-Daqqaq: “Barang siapa yang senantiasa mengingat kematian maka dia akan akan mudah untuk mengerjakan tiga hal: dia akan segera bertaubat, akan merasa qana’ah(rela degan apa yang Allah berikan dalam hal dunia), dan akan semangat dalam beribadah. Sebaliknya barang siapa yang lalai untuk mengingat kematian, dia akan merugi dalam tiga hal: menunda-nunda bertaubat, tidak pernah merasa cukup dan puas(dengan dunia yang dimilikinya) dan akan membuatnya malas untuk beribadah”.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *