December 07, 2016

Menolak Pemberian / Hadiah Karena Malu

Hadiah merupakan bukti rasa cinta dan bersihnya hati, ketika saling memberi hadiah ada kesan penghormatan dan pemuliaan. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan menganjurkan untuk saling memberi hadiah serta menganjurkan untuk menerimanya.

Al Imam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits di dalam Shahihnya, dan hadits ini memiliki hadits-hadits pendukung yang lain. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya.”

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam juga  bersabda :

مَنْ عُرِضَ لَهُ شَيْئٌ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسْأَلَهُ فَلْيُقْبِلْهُ – رواه أحمد –   

“ Barang siapa yang ditawari sesuatu tanpa memintanya maka hendaklah menerimanya.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits di atas beliau menyuruh kita untuk menerima pemberian orang lain tanpa diminta untuk diberikan kepada kita, apalagi yang diberikan tersebut sesuatu yang ringan dan disenangi seperti wangi–wangian dan sebagainya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ عُرِضَ عَلَيْهِ رَيْحَانُ فَلاَ يَرُدُّهُ فَإِنَّهُ خَفِيْفُ الْمَحْمَلِ طَيِّبُ الرِّيْحِ – رواه مسلم و أبو داود –

“Barangsiapa yang ditawari wangi-wangian maka janganlah ia menolak-nya, karena sesungguhnya ia ringan dibawa dan wangi baunya.” (HR. Muslim & Abu Dawud).

Menerima pemberian orang lain – yang memberi tanpa diminta – selain menerima rizki dari Allah melalui perantaraannya juga untuk menjaga hati orang yang memberi karena jika menolaknya berarti menolak rezeki Allah dan ditakutkan timbulnya persangkaan yang tidak baik dari pemberi, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

تَهَادُوْا تَحَابُوْا

 “Saling memberi hadiahlah kalian niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Al Bukhari).

Menerima hadiah sangatlah dianjurkan, karena hadiah itu termasuk dari rizqi Allah Ta’ala yang diberikan kepada kita, dalam sebuah hadits disebutkan :

“Barangsiapa yang Allah datangkan kepadanya sesuatu dari harta ini, tanpa dia memintanya, maka hendaklah dia menerimanya, karena sesungguhnya itu adalah rezeki yang Allah kirimkan kepadanya.” (Shahih At Targhib)

Sehingga, kita diharapkan tidak menolak hadiah kecuali jika ada udzur syar’I, sebagaimana Rasulallah shollallahu alaihi wasallam pernah menolak permberian salah satu sahabatnya berupa keledai liar ketika beliau sedang berihram. Suatu ketika Umar  radhiyallahu ‘anhu diberi hadiah oleh Rasulallah, Umar menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberiku sebuah bingkisan, lalu aku katakan, ‘Berikan ia kepada orang yang lebih fakir dariku’, maka beliau menjawab, ‘Ambillah, apabila datang kepadamu sesuatu dari harta ini, sedangkan engkau tidak tamak dan tidak pula memintanya, maka ambillah dan simpan untuk dirimu, jikalau engkau menghendakinya, maka makanlah. Dan bila engkau tidak menginginkannya, bershadaqahlah dengannya’.” (Muttafaqun alaihi)

4 Hadiah Yang Harus Diterima

Selain itu, ada pula hadiah yang harus kita terima. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam,“Tiga perkara yang tidak boleh ditolak: bantal-bantal, minyak wangi, dan susu.” (H.R Tirmidzi)

Kesimpulan

Perlu diperhatikan di sini jika diberi tanpa meminta itu merupakan rahmat dari Allah subhanahu wata’ala tapi jika kita meminta sesuatu kepada orang lain padahal kita mampu meraih hal tersebut maka ini dilarang jika dilakukan terus menerus. Hendaknya kita menerima pemberian yang tanpa diminta untuk menjaga hati yang memberi.

Wallahu a’lam bishshawab.

 Referensi :

  • Riyadhush Shalihin hal. 208.
  • Musnad Al Imam Ahmad
  • ‘Aunul Ma’bud XI/124-153.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *