December 07, 2016

Taat Bercampur Ujub

Inilah syaithon, menggelincirkan manusia ke lembah dosa dengan perlahan dan tanpa kita sadari telah terjerumus dalam lembah dosa. Sikap kehati-hatian harus selalu kita jaga untuk menutup celah-celah sekecil apapun yang akan digunakan syaithon untuk menggoda kita.

Salah satu celah itu adalah ujub, sikap ujub biasa timbul dari suatu prestasi atau kelebihan dan juga pujian dari orang-orang sekitar kita. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَولَم تَكُونُو تَذْنِبُونَ خَشِيتُ عَلَيكم اكثَرَ من ذلك : العُجْبُ

“Kalau kalian tidak berbuat dosa, niscaya aku benar benar merasa takut atas kalian apa yang lebih berat dari itu UJUB” [ HR al Bayhaqi ]

Merasa diri dalam ketaqwaan dan selalu taat adalah salah satu celah syaithon dalam menggelincirkan manusia ke dalam kubangan dosa. Berkata Hasan al Bashri: “Kalau saja anak cucu adam selalu benar setiap kali bicara dan selalu berbuat baik setiap kali beramal, maka dikhawatirkan ia dapat terjatuh dalam sikap UJUB”

Padahal setiap manusia PASTI berbuat dosa, sebagaimana dalam sabda Rasulullah:

‎كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“Setiap anak Adam PASTI berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”  [Shahih Jami’us Shaghir]

Disinilah peran syaithon menggoda manusia, dirasa menjerumuskan dirinya kepada hal-hal maksiat yang nyata terlalu sulit, maka syaithon menjerumuskannya kepada perkara maksiatnya hati, yaitu UJUB. Hanya karena kelalaian dirinya, dan merasa telah banyak beramal, maka yang ada dibenaknya hanyalah amalan-amalan shalihnya, padahal amalan shalih tersebut tidak bisa ia pastikan telah diterimaNya, dan padahal ia pun tidak bisa memastikan apakah ia bisa menjaganya hingga akhir hayatnya.

Sehingga kita diajarkan untuk selalu berdoa kepada Allah agar menetapkan hati kita dalam ketaatan, bukan hanya jasad kita yang taat akan tetapi hati kita pun harus taat kepadanya. Dalam suatu hadits diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radiyallahu anhu

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر أن يقول : (يا مقلب القلوب ثبت قلبي علي دينك).فقلت : يا رسول الله صلى الله عليه وسلم قد آمنا بك وبما جئت به , فهل تخاف علينا؟ قال : (نعم , إن القلوب بين إصبعين من أصابع الرحمن يقلبها كيف يشاء(

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa membaca do’a “YA MUQALLIBAL QULUUB TSABBIT QALBII ‘ALAA DIINIKA (wahai Dzat yang membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku berada di atas agamamu).” Kemudian aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu dan kepada apa yang Anda bawa. Lalu apakah Anda masih khawatir kepada kami?” beliau menjawab: “Ya, karena sesungguhnya hati manusia berada di antara dua genggaman tangan Allah yang Dia bolak-balikkan menurut yang dikehendaki-Nya.”

Selain itu, kesadaran kita bahwa kita tidak luput dari kesalahan juga mampu membentengi diri kita dari sikap ujub, karena orang yang selalu terbersit di dalam hatinya bahwa ia tidak lepas dari dosa maka ia akan selalu memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala. Berprasangka buruk kepada diri sendiri lebih baik dari pada berprasangka baik. Berprasangka buruk bahwa diri kita tidak selalu dalam ketaatan dan masih sering terjerumus di dalam kubangan dosa.

Wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *