December 09, 2016

Resapkan Ilmu Ke Dalam Hati

Rasulllah shollallahu alaihi wasallam sudah mengabarkan salah satu rahasia agar badaan atau jasad kita mampu dan gemar beramal sholeh. Dalam sebuah hadits disebutkan :

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب

” Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( H.R Bukhori ).

Hati adalah penggerak badan, hati yang baik akan menggerakkan badan kepada kebaikan, maka dari itu kita harus mendidik hati kita sendiri agar menjadi hati yang baik, dengan cara meresapkan ilmu yang kita dapatkan ke hati kita masing-masing. Jika seseotang sudah meresapkan ilmu tersebut kedalam hatinya, niscaya ia akan mendapati hatinya sebagai “penasehat pribadinya” yang mengarahkan kemana ia melangkah.

Hatinya akan senantiasa mengajaknya dan memotivasinya untuk mengamalkan amalan shalih. Hatinya juga yang akan mengingkari ketika ia mengetahui/mendengar/melihat perkara yang haram. Dan hatinya yang akan membisikinya untuk meninggalkan kemungkaran yang ia jatuh kedalamnya. Keadaan seperti ini tidak akan kita dapati jika seseorang hanya meresapkan ilmunya hanya di kepala saja. Rasuulullaah shallallaahu alaihi wasallaam:

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Ketakwaan itu (sumbernya) di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim).

Seseorang yang banyak ilmunya, tahu akan syariat-syariat islam belum tentu baik amalnya jika apa yang sudah diilmuinya tidak sampai meresap kedalam hatinya. Bisa saja ia panda berfatwa belum tentu apa yang ia fatwakan bisa ia lakukan. Benarlah perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhumaa: “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal (tidak berilmu) tentang hal yang ma’ruf dan juga yang mungkar.”

Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mendidik hati kita dan mengilmukan kepada hati kita masing-masing apa yang telah diilmui oleh kepala kita.

Wallahu a’lam

Rasulllah shollallahu alaihi wasallam sudah mengabarkan salah satu rahasia agar badaan atau jasad kita mampu dan gemar beramal sholeh. Dalam sebuah hadits disebutkan :

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب

” Ketahuilah,sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu” yaitu hati “. ( H.R Bukhori ).

Hati adalah penggerak badan, hati yang baik akan menggerakkan badan kepada kebaikan, maka dari itu kita harus mendidik hati kita sendiri agar menjadi hati yang baik, dengan cara meresapkan ilmu yang kita dapatkan ke hati kita masing-masing. Jika seseotang sudah meresapkan ilmu tersebut kedalam hatinya, niscaya ia akan mendapati hatinya sebagai “penasehat pribadinya” yang mengarahkan kemana ia melangkah.

Hatinya akan senantiasa mengajaknya dan memotivasinya untuk mengamalkan amalan shalih. Hatinya juga yang akan mengingkari ketika ia mengetahui/mendengar/melihat perkara yang haram. Dan hatinya yang akan membisikinya untuk meninggalkan kemungkaran yang ia jatuh kedalamnya. Keadaan seperti ini tidak akan kita dapati jika seseorang hanya meresapkan ilmunya hanya di kepala saja. Rasuulullaah shallallaahu alaihi wasallaam:

التَّقْوَى هَاهُنَا

“Ketakwaan itu (sumbernya) di sini.” Seraya beliau mengisyaratkan kepada dadanya (HR. Muslim).

Seseorang yang banyak ilmunya, tahu akan syariat-syariat islam belum tentu baik amalnya jika apa yang sudah diilmuinya tidak sampai meresap kedalam hatinya. Bisa saja ia panda berfatwa belum tentu apa yang ia fatwakan bisa ia lakukan. Benarlah perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhumaa: “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal (tidak berilmu) tentang hal yang ma’ruf dan juga yang mungkar.”

Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mendidik hati kita dan mengilmukan kepada hati kita masing-masing apa yang telah diilmui oleh kepala kita.

Wallahu a’lam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *