December 07, 2016

Khazanah, Contoh Dakwah Yang Tertolak

Hampir setiap rumah pasti ada televisi di dalamnya dan hampir setiap hari mayoritas dari kita menyaksikan televisi sebagai sarana hiburan, mencari informasi dan juga sebagai tempat mencari ilmu. Sisi  negatif dan positif ada di televisi meskipun lebih banyak sisi negatifnya.

Beberapa hari ini di dunia maya ramai diperbincangkan acara bernuansa religi, khazanah lebih tepatnya. Bagi sebagian orang mungkin terheran-heran bagaimana mungkin acara religi justru ditentang oleh orang islam sendiri? Penolakan ini bukan tanpa alasan tentunya.

Sejak pertama saya melihat acara pagi hari tersebut memang sudah ada perasaan kalau acara ini akan mengalami penolakan dari beberapa kelompok/jamaah. Dikarenakan acara tersebut bukan hanya menyentil tapi menabrak beberapa amaliyah kelompok/jamaah tertentu.

Penolakan ini menjadi refleksi bagi kita yang sedang di medan dakwah, resiko diterima atau ditolaknya dakwah kita memang ada dan semua itu tergantung juga dari diri kita sebagai penyampai dakwah, banyak faktor yang menentukannya dari isi yang disampaikan, cara penyampaian, pemahaman kita terhadap sasaran dakwah kita dan juga image yang kita bangun di masyarakat.

Lalu apa yang salah dari acara pagi hari tersebut?

Bagi sebagian kelompok/jamaah bisa dibilang isi dari acara khazanah merupakan angin segar sebagai pengimbang acara-acara suu’ di televisi namun bagi sebagian lain acara tersebut adalah sesat karena tidak sesuai dengan pendapat yang mereka pegang, meskipun isi atau materi acara tersebut bervariasi tidak melulu membahas masalah furu’ yang menyentil sebagian kelompok/jamaah, kadang sejarah mengenai Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam, sahabat dan tabiin.

Dibubarkan?

Gerah, panas yang dirasakan sebagian kelompok/jamaah membuat mereka beramai-ramai membuat gerekan massa untuk membubarkan acara tersebut sehingga tidak tayang lagi, seperti langkah kekanak-kanankan memang karena ini bukanlah solusi terakhir, bagaimanapun juga kita memerlukan acara bernuansa religi seperti ini untuk mengimbangi acara-acara suu’ yang bukan hanya tidak bermanfaat tapi sangat membahayakan.

Dan juga visualisasi lebih mudah kita cerna dan ingat dari pada teks. Sedikit penyesuaian isi dan cara penyampaian mungkin perlu diperhatikan agar acara tersebut bisa diterima berbagai kalangan.

Bagaimana dengan dakwah kita?

Kita dan siapa saja yang terjun di medan dakwah pasti pernah mengalami atau mempunyai resiko penolakan, dari penolakan halus ataupun kasar memang sudah menjadi resiko, bahkan merupakan sunnatullah yang nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam juga mengalaminya, sehingga kesabaran dan kepekaan kita terhadap objek dakwah sangat diperlukan.

Dakwah itu mengajak bukan mengejek, mencari mad’u bukan musuh, memintarkan bukan menyesat-nyesatkan dan semoga kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini untuk memajukan dakwah kita di masyarakat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *