December 07, 2016

Jangan Banyak Bersumpah

sumpah

Seseorang yang banyak bersumpah harus dinasehati agar meninggalkan kebiasaannya banyak bersumpah, walaupun ia benar. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda :

ثــَلاَثــَةٌ لاَيُكَلِّمُهُمُ اللهُ وَلاَ يَنْظُرُإِلَيْهِمْ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَيُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ …- مِنْهُمْ – وَرَجُلٌ جَعَلَ اللهُ بِضَاعَتـَهُ لاَيَشْتَرِى إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ وَلاَ يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ

“Tiga golongan orang yang Allah tidak akan bicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka, bahkan mereka mendapatkan adzab yang pedih, (yaitu) seorang yang sudah bercampur rambut hitam dan putihnya (orang yang sudah tua) lagi pezina, seorang fakir lagi sombong  dan seorang laki-laki yang Allah jadikan dia tidak membeli barangnya kecuali bersumpah atas nama-Nya dan tidak menjual kecuali dengan bersumpah atas nama-Nya.”

Bagi seorang muslim seyogyanya tidak banyak bersumpah sekalipun dia benar, karena memperbanyak sumpah terkadang bisa menjerumuskan kedalam kedustaan. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa dusta haram hukumnya dan bila dia disertai dengan sumpah, maka tentu sangat diharamkan. Akan tetapi, bila dipaksa oleh situasi dan kondisi atau suatu kemashlahatan yang lebih dominan sehingga harus bersumpah secara dusta, maka itu tidak mengapa. Hal ini berdasarkan hadits  yang shahih dari Nabi shollallahu alaihi wasallam yang bersumber dari Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Muith bahwasanya Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda :

لَيْسَ الْكَذِبُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَقُوْلُ خَيْرًا أَوْ يُنْمِى خَيْرًا               

Bukanlah termasuk dusta orang yang mendamaikan antara sesama manusia, lalu ia berkata baik atau menumbuhkan kebaikan.”

Dia (ummu kultsum) berkata, ”Belum pernah aku mendengar beliau memberikan dispensasi terhadap sesuatu yang dikatakan orang sebagai suatu kedustaan kecuali dalam tiga hal : Perang, mendamaikan antara manusia dan percakapan suami kepada istrinya dan percakapan istri terhadap suaminya.”

Yang dimaksud disini bahwa hukum asal sumpah dusta adalah dilarang dan diharamkan kecuali bila mendatangkan kemaslahatan yang lebih besar daripada kedustaannya, seperti dalam tiga hal yang disebutkan hadits diatas.

Lalu apa kafarat bagi orang yang melanggar sumpah? Allah Ta’ala berfirman :

لاَيُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِى فِى أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَاعَقَّدْتُمُ اْلأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِيْنَ مِنْ أَوْسَطِ مَاتُطْعِمُوْنَ أَهْلِيْكُمْ أَوْكِسْوَتُهُمْ أَوْتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ  أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوْا أَيْمَانَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Allah tidak menghukum disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah) tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja, maka kafarat sumpah adalah memberi makan sepuluh orang miskin dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa yang tidak bisa melakukan hal yang demikian, maka kafaratnya shaum selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpah bila kamu bersumpah dan jagalah sumpahmu supaya kalian beruntung.” (QS. Al-Maidah : 89)

Apabila sumpah itu terucap oleh lidahnya tanpa disengaja atau dimaksudkan, maka ia dianggap tidak berlaku sehingga ia tidak wajib membayar kafarat atas hal itu. Berdasarkan ayat yang mulia, ”Allah tidak menghukuum disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksudkan (disengaja) untuk bersumpah.”  (QS. Al-Maidah : 89).

 Wallahu a’lam bishshawab.

 

Referensi

–         Fatawa Lisy Syaikh Abdullah bin Baz ( fatwa-fatwa terkini )

–         Aisarut Tafasir II/5-7

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *