December 09, 2016

Beraqiqah Ketika Dewasa?

Assalamu ‘alaikum..

Ust. saya mau tanya… orangtua saya termasuk kalangan awam kaum muslimin, sehingga ibadah-ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah yang sifatnya sunnah dan belum terbiasa dikampung tersebut tidak dikerjakan. salah satunya adalah ibadah aqiqah. Melihat kondisi lingkungan yang masih seperti itu, saya mau bertanya, “Bolehkah kita mengaqiqahi diri kita sendiri ketika dewasa?

Wassalamu ‘Alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawab:

Alhamdulillah washalatu wasalamu ‘ala Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam. Sebelum membahas tentang beraqiqah ketika dewasa, kami akan menjelaskan pengertian aqiqah.  Aqiqah adalah penyembelihan kambing pada hari ketujuh dari kelahiran anak, sedangkan hukum aqiqah menurut jumhur ulama’ adalah sunnah muakkadah bagi yang mampu.

Dalam masalah ini, tidak ada dalil yang menerangkan secara mutlak tentang pelarangan aqiqah setelah hari ketujuh dan juga tidak ada dalil yang menerangkan dengan jelas dibolehkannya aqiqah ketika dewasa.

Menyikapi masalah ini Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-‘Utsaimin berkata dalam kitabnya Fiqhul Mar’ah Al-Muslimah, “Bahwa disunnahkan melaksanakan aqiqah pada hari ketujuh dari hari kelahiran, jika tidak mampu maka pada hari ke empat belas dan jika tidak mampu maka pada hari keduapuluh satu dan apabila tidak mampu maka pada hari kapan ia mampu melaksanakan aqiqah”.

Dalam kitab Tuhfatul Maudud Biahkamil Maulud karangan Syaikh Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah disebutkan: “Disunnahkan bagi siapa saja yang belum diaqiqahi sewaktu kecil, hendaknya dia mengaqiqahi dirinya sewaktu besar”.

 

Rasulullah shalallahu alihi wasalam bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأحَبَّ اَنْ يُنْسِكَ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَل

“Barang siapa yang mempunyai anak baru dilahirkan, jika dia ingin menyembelih aqiqah untuk anaknya maka lakukanlah.” [HR. Abu Dawud]

Hasan Al-Bashri berpendapat, “Apabila tidak bisa/mampu mengaqiqahi anak pada hari ketujuh, maka lakukanlah setelahnya (ketika mampu)”.

Diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Sesungghuhnya Nabi mengaqiqahi dirinya setelah beliau di utus menjadi Nabi”. [HR. Baihaqi]

 

Kesimpulan:

Siapa saja sewaktu kecilnya belum di aqiqahi, maka diperbolehkan baginya untuk melaksanakan aqiqah  ketika dewasa, karena tidak ada dalil yang menjelaskan atas ketidak bolehannya dan jumhur ulama juga bersepakat dengan kebolehan aqiqah pada waktu dewasa. Hanya saja aqiqah pada hari ketujuh itu lebih afdhal.

Wallahu ‘Alam bish shawab.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *