December 09, 2016

Borong Pahala Antara Adzan dan Iqomah

Banyak keutamaan dan pahala yang disia-siakan sebagian kaum muslimin ketiga menuggu datangnya imam untuk melaksakanan shalat berjamaah. Padahal pada waktu tersebut, banyak pahala yang di janjikan. Sehingga dengan ketidaktahuan keutamaan setelah adzan malah disibukkan dengan hal lain yang tidak berfaedah.

Berikut ini beberapa amalan yang dapat mendongkrang timbangan pahala sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika menunggu datangnya iqamah.

1. Shalat tahiyatul masjid

Shalat Tahiyatul Masjid adalah shalat untuk menghormati masjid. Sebagai tempat suci, masjid selayaknya mendapatkan penghormatan dari seorang Muslim yang akan melakukan aktivitas ibadah di tempat itu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda:

 إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُم المَسجِدَ فَلاَ يَجِلسَ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكعَتَينِ

Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaat. (Muttafaq’ alaih)

Salah seorang sahabat pernah masuk ke Masjid Nabawi ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedang menyampaikan khutbah jumat, lalu dia langsung duduk. Beliau menyuruhnya berdiri untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menyatakan bahwa masjid-masjid itu memiliki kesucian dan kehormatan, bahwa ia memiliki hak tahiyat atas orang yang memasukinya yaitu dengan cara mengerjakan shalat dua rakaat sebelum duduk.

2. Shalat sunnah rawatib

Waktu antara adzan dan iqamah juga bisa kita manfaatkan untuk mengerjakan shalat sunah rawatib. Faidah rawatib ini ialah untuk menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu. Mengenai fadhilahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pernah bersabda:

Dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ. قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا بَرِحْتُ أُصَلِّيهِنَّ بَعْدُ

“Seorang hamba yang muslim melakukan shalat sunnah yang bukan wajib, karena Allah, (sebanyak) dua belas rakaat dalam setiap hari, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah (istana) di surga.” (Kemudian) Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha berkata, “Setelah aku mendengar hadits ini aku tidak pernah meninggalkan shalat-shalat tersebut.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Beliau menambahkan: Empat rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya’, dan dua rakaat sebelum Subuh. 

3. Berdoa kepada Allah

Ini termasuk amal yang paling dianjurkan pada waktu antara adzan dan iqamat. Hendaknya seorang muslim betul-betul memanfaatkan waktu ini untuk memohon kebutuhannya kepada Allah, karena ia adalah waktu dikabulkannya doa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:

لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Tidak akan ditolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah” (HR. Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan At Tirmidzi)

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah mengatakan, “Kebanyakan manusia malah meninggalkan do’a antara adzan dan iqomah. Mereka menyibukkan diri dengan tilawah Al Qur’an. Tidak ragu lagi bahwa membaca Al Qur’an adalah amalan yang mulia. Akan tetapi tilawah Al Qur’an bisa dilakukan di waktu lain. Menyibukkan diri dengan berdo’a dan berdzikir, itu lebih afdhol (lebih utama). Karena do’a yang dituntunkan pada waktu tertentu tentu lebih utama dari do’a yang dipanjatkan di tempat lain.”

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap orang memperhatikan waktu tersebut dan memanfaatkannya untuk banyak bermunajat dan memohon pada Allah yang Maha Mendengar setiap do’a.

Diantara doa yang dituntunkan adalah permohonan kepada Allah ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akherat. Sebagaimana sabda beliau:

“Doa tidak ditolak antara azan dan iqamah. Mereka bertanya, ‘Lantas apa yang kami katakan wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Mohonlah kepada Allah ‘afiah (keselamatan) di dunia dan akhirat.” (HR. At Tirmidzi)

Sayangnya waktu mustajab ini sering disalahgunakan sebagian umat Islam yang kurang mengerti atau menyepelekan sunah, sehingga diisi dengan hal-hal yang tidak baik dan tidak dianjurkan Islam, membicarakan urusan dunia atau hal-hal lain yang tidak bernilai ibadah. Wallahu A’lam bish-Showab (berbagai sumber)

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *