December 07, 2016

Ini Amanah..!

amanah

Satu kata yang sering didengar, dibaca bahkan mungkin sering diucapkan oleh kita.

 Sebagaimana diketahui, kata amanah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan makna; sesuatu yang dipercayakan(dititipkan) kepada orang lain (seseorang).

Kata amanah dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab.

Menurut Kamus Arab- Indonesia ‘Al-Munawwir’, kata  امنة (amanah) berarti; jujur, dapat dipercaya.

 Amanah, karena ia merupakan suatu titipan, tentu harus disampaikan sebagaimana mestinya kepada pihak yang dimaksud oleh pemberi amanah.

Karena itu, bagi seseorang yang memikul amanah bukan hanya dituntut kejujuranya semata, namun juga dituntut kemampuannya untuk menunaikan amanah tersebut hingga sampai kepada pihak yang berhak menerimanya. Ini tentunya bukan hal yang mudah, tapi tetap merupakan suatu kebanggan bagi pemikul amanah tersebut, karena secara tidak langsung dirinya mendapat kepercayaan dan pengakuan dari pemberi amanah.

Berbicara tentang kemampuan, yang mutlak dimiliki oleh pemikul amanah, maka kitapun tetap harus bisa bersikap obyektif, dalam pengertian bahwa bagaimanapun tangguhnya kemampuan seseorang tetap memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berada di luar jangkaun manusia.

Namun sangat disayangkan, ketika sikap objektif ini tak jarang dijadikan alasan oleh pemikul amanah untuk ‘bermain’ dalam menunaikan amanahnya, dimana bermain disini dimaknai sebagai penyiasatan demi mendapat keuntungan pribadi, yang tak jarang mejadikan nilai amanah berkurang atau bahkan hilang tak berbekas sama sekali.

 Memang, menerima dan menunaikan amanah bukanlah perkara mudah dan bahkan cendrung menjadi beban (meskipun penilaian tersebut sangat tergantung dari sudut dan sisi mana kita memandangnya), tapi untuk mendapatkan amanah juga bukan merupakan hal yang gampang, karena hal tersebut sangat berkait erat dengan integritas diri.

Bukankah merupakan sebuah kebanggan (bukan kesombongan) bagi diri kita, bila ternyata ada seseorang yang memasrahkan sebuah amanah pada kita? yang tentu dalam pandangan orang tersebut, diri kita merupakan sosok yang memiliki kemampuan untuk menunaikan amanah tersebut.

Karena itu, sangat sangat disayangkan bila ternyata kebanggan itu harus diciderai dengan ‘bermain’nya (dalam artian yang negatif) kita dalam pelaksanaan amanah tersebut.

Bersihnya niat dan kuatnya tekad merupakan modal dasar yang harus dimiliki oleh pemikul amanah, selain modal kejujuran tentunya, disamping itu juga dibutuhkan keberanian dalam menghadapi berbagai macam halangan baik itu berupa ancaman maupun godaan dan tak kalah penting adalah kemauan dan kesiapan untuk menanggung resiko yang ada.

Semuanya bukan hal mudah dan tak jarang mendatangkan kepahitan duniawi, namun balasan yang akan diterima (bila amanah tersebut ditunaikan sebagaimana mestinya) jauh lebih manis dan membahagiakan dibandingkan dengan berbagai macam ketidak mudahan dan kepahitan duniawi disaat penuanaian amanah tersebut.

Kemanisan dan kebahagiaan yang sebelumnya jauh diluar jangkaun harapan kita.

 Bila memang ada amanah yang dipasrahkan pada kita untuk menunaikannya, namun dirasa berat dalam anggapan kita, alangkah baiknya bila itu dicoba terlebih dahulu. Tentu bukan sekedar coba-coba, tapi lebih dimaksudkan untuk menghargai pemberi amanah dan mengukur kemampuan diri, sehingga akan ketahuan  sampai dimana sesungguhnya batas tertinggi kemampuan yang kita miliki.

Mencoba untuk menunaikan amanah tersebut dengan mengerahkan kemampuan yang paling maksimal, menunjukkan bahwa diri kita bukanlah sosok pesimistis melainkan merupakan sosok yang senantiasa hidup dalam buncahan harap dan menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Lain soal, bila sudah diketahui bahwa amanah yang akan dipasrahkan kepada kita memang jelas-jelas tak bisa kita tunaikan, maka menolak untuk menerima dan menjalankan merupakan pilihan yang paling baik dan bijak.   

Memaksakan diri atau bahkan berusaha sekuat mungkin meraih amanah yang sudah jelas-jelas diketahui tak bisa kita tunaikan, merupakan bentuk kebodohan yang paling bodoh diantara berbagai macam deret kebodohoan dan merupakan keangkuhan diri yang sangat jelas.

Menyadari dan mengakui keterbatasan (ketidak mampuan) diri saat akan dipasrahi sebuah amanah bukan merupakan suatu kehinaan, bahkan hal tersebut menunjukkan betapa kesatria dan pintarnya diri kita. 

 Ingat!

Kesalahan (yang disengaja dan berdampak negatif) dalam menunaikan amanah, berarti merupakan kesalahan kita pada pihak pemberi amanah dan pihak yang dituju dalam amanah tersebut serta juga diri kita sendiri tentunya. 

 Masing-masing kita, setidaknya menanggung sebuah amanah.

Sebuah amanah dariNYA untuk diri kita sendiri.

Wallahu a’lam

Imam Basuki

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *